
Malam hari prosesi lamaran sederhana itu telah usai dengan hasil yang telah di sepakati. Akhirnya keputusan pernikahan mereka di percepat karena kondisi kesehatan bapak Harry semakin menurun.
Penyakit diabetes yang di derita bapak Harry semakin parah dan keinginan bapak Harry ingin melihat anak bungsunya menikah dengan pria yang selama ini menempati hati anaknya.
Hanum duduk berdua dengan Yudha di teras rumah orang tua Harry. Segelas teh dan sepiring kue donat dan bolu kukus buatan Fadia terhidang disana.
"Di makan kue nya mas sebelum ketahuan mas Harry." tegur Hanum karena Yudha belum memakan kuenya.
"Loh kenapa sama Harry?" tanya Yudha.
"Mas tidak tahu saja kalau mas Harry itu paling sensitif mengenai mbak Ayu."
Yudha tersenyum menatap Hanum penuh cinta. Hingga kini ia tak pernah menyangka akan secepat ini di jodohkan dengan Hanum.
"Dik, maafin kesalahan mas ya Num." ungkapnya tulus.
"Ya, tidak apa. Kejadian masalalu buat jadi pengalaman dan pelajaran hidup mas." Hanum tersenyum.
"Terus tidak mau peluk mas ini?" tanya Yudha menggoda Hanum.
Hanum berdecak. "Belum muhrim."
"Jadi kalau sudah muhrim mau peluk mas dong, boleh cium, boleh semuanya dong." goda Yudha membuat Hanum tersipu malu.
Cukup lama mereka mengobrol hingga datang Ricky dan Elsa ikut bergabung bersama mereka.
...****...
Di dalam kamar utama rumah Harry. Fadia terus saja merengek untuk keluar kamar karena setelah acara lamaran Hanum selesai, Harry membawa Fadia masuk ke kamar dengan alasan agar istrinya itu tidak ikut beberes rumah.
Bukan tanpa alasan, istrinya itu mengabaikan dirinya karena sibuk menyiapkan persiapan lamaran dan mengurus ketiga anaknya.
"Daffa dan Daffi sudah tidur, Gadhing masih sama ibu jaga bapak."
Dengan bibir manyun Fadia merebahkan diri membelakangi Harry.
"Dosa Yu tidur belakangi suami." tegur Harry. Sebenarnya ia tak mempermasalahkan hal itu.
Fadia mencebik tetapi tetap membalikkan tubuh berhadapan dengan Harry.
"Eehh.. Mau ngapain?" tanya Fadia panik saat Harry memeluknya merebahkan kepala di payu dara nya.
"Hanya peluk doang Yu."
Di elus-elus kepala Harry dengan sayang. "Masih mual tidak?"
"Masih, ini kayak aku ngidam si kembar."
Harry mendongak menatap wajah Fadia dengan penuh tanda tanya. "Apa kamu berpikir yang sama kayak aku Yu?" tanya Harry.
"Ya."
Senyum bahagia terukir jelas dari bibir Harry. "Semoga dia hadir disini ya." ucap Harry mengusap perut Fadia.
...****...
__ADS_1
Suara para saksi sudah terdengar mengucapkan kata 'SAH'. Itu berarti Hanum telah sah menjadi istri Yudha, cinta pertamanya.
Tanpa diminta air mata itu menetes di pipi. Senyum bahagia terukir indah. Pelukan hangat menyelimuti hati yang lara.
"Selamat Num." ucap Fadia tulus.
Hanum mengangguk. "Mbak juga selamat atas kehamilan nya."
Fadia mengangguk dengan senyuman. "Semoga bulan depan kamu juga sudah isi ya. Dan mbak sudah belikan sesuatu untuk mu."
Pintu kamar Hanum terbuka, Harry masuk mendekati sang istri lalu memeluknya.
"Harry, kamu kenapa?" tanya Fadia sembari mengelus rambut Harry.
"Bau badan mereka menyiksaku Yu, syukur tadi tahan pas jadi saksi." seperti biasa, Harry akan mengadukan apapun yang terjadi pada Fadia.
Hanum menatap Harry jengah. Ia merasa kakaknya itu berubah manja jika bersama Fadia.
"Mbak, ayo antar aku keluar." pinta Hanum langsung di angguki Fadia.
Namun, melihat Harry menoleh dan menatap tajam padanya membuat ia mencebik saja sedang Fadia terkekeh melihat kakak beradik itu.
"Nanti lagi sayang." ucap Fadia memberi pengertian untuk sang suami. Ia sudah pernah mengalami ini, Harry akan begitu manja ketika ia hamil.
"Suruh adik iparmu itu keluar sendiri Yu."
Hanum melotot mendengar perkataan Harry langsung memukul punggung Harry. "Memang gendeng kamu mas, adik ipar mbak Ayu itu adik kandung mu loh."
Fadia menghela nafas mencoba mengurai pelukan namun tak bisa karena Harry mempererat pelukan.
Dan benar saja, Harry mengurai pelukan menatap Fadia penuh cinta. "Cium dulu."
Fadia mengangguk lalu mencium seluruh wajah Harry. "Tunggu di kamar kita."
Hanum hanya bisa mencebik bibir melihat kelakuan Harry yang terlampau bucin kepada Fadia.
...****...
Yudha tersenyum melihat wanitanya kini telah resmi menjadi istrinya. Impian mereka telah terwujud walau dengan cara yang berbeda.
Ia merasa gemas melihat Hanum yang tak menatapnya sedari tadi. Bahkan ketika berada di samping nya, Hanum masih menunduk.
Semua berkas-berkas telah mereka tanda tangani, mahar juga telah di serahkan kepada Hanum.
Senyuman itu terus terukir di tambah Hanum salam takzim padanya dan ia memberi kecupan di dahi Hanum.
"Mas sudah tidak sabar." bisik Yudha membuat Hanum tersipu malu.
...****...
Sore hari hingga malam, sanak saudara telah kembali ke rumah masing-masing. Ibu Yudha juga sudah di antar pulang. Kini di rumah orang tua Harry tinggal lah keluarga kecil Harry, Ricky, dan kedua pengantin baru.
"Si kembar kemana Fad?" tanya Elsa.
"Itu sama Gadhing di kamar."
__ADS_1
Di teras rumah. Harry, Ricky, dan Yudha masih menikmati segelas teh manis dengan aneka kue buatan istri Harry.
"Kalian pulang sana." usir Yudha.
Ricky mencebik. "Semakin kamu usir, semakin lama kami disini."
Harry terkekeh lalu mengangguk.
"Ayolah, aku sudah ingin buka puasa. Sudah lebih setahun aku berpuasa demi menunggu Hanum menjanda." mohon Yudha langsung mendapat pukulan di kepalanya.
"Jadi selama ini kamu mendoakan adik ku jadi janda?" sargah Harry yang memang sedang sensitif.
"Mana ada begitu Harr. Kamu suudzon padaku."
"Halah. Tidak ada malam pertama kalau gitu."
...****...
Hanum mendengar suara Harry dan Yudha ribut di teras langsung menceritakan pada Fadia. Sedang Elsa hanya bisa tertawa melihat kelakuan suami Fadia yang kelewat sensitif selama kehamilan Fadia yang keempat.
"Urus suami mu sana Fad."
Fadia mengangguk langsung bangkit menuju teras rumah. Dan benar saja, Harry sedang mengomeli Yudha sedang Yudha merengek untuk malam pertama.
"Mas, masuk kamar yuk." ajak Fadia.
Dan benar saja, Harry tersenyum sumringah langsung bangkit merangkul pinggang Fadia posesif.
"Anak-anak sudah tidur?"
Fadia mengangguk.
...****...
Yudha melongo melihat perubahan Harry ketika Fadia memanggilnya. "Astaga, Itu beneran Harry Rick?"
"Ya, seperti yang kamu lihat."
Yudha menggeleng kepala tak percaya dengan perubahan sahabatnya yang sudah menjadi kakak iparnya itu.
"Apa Ayu punya jurus rahasia bisa mengubah Harry menjadi manis seperti itu?"
Bukan mendapat jawaban namun keduanya kini tertawa melihat perubahan Harry.
"Kamu pasti akan berubah nanti Yudh."
Ia terkekeh. "Jangan kan nanti, bahkan aku sudah berubah semenjak Hanum memenangkan hatiku."
"Jangan sakiti Hanum lagi." Ricky memberi nasihat.
Yudha mengangguk. "Tidak akan, aku tidak mau kehilangan dia lagi."
🌸
Bersambung..
__ADS_1