
"Kamu tidak apa Yu?" tanya Harry cemas.
"Kepala ku pusing Rry. Perut ku mual." kata Fadia.
Keduanya berada di dalam kamar mandi. Tadi Fadia tidak jadi makan. Bukan karena makanan nya di ambil Harry melainkan ia tidak berselera makan nasi.
Sebenarnya sudah dari pagi Fadia merasa tidak enak badan. Itulah alasan Fadia memakai sweater siang Harry.
"Dari kapan kamu mual-mual Yu?" tanya Harry sembari memijat tengkuk leher Fadia.
"Tadi pagi saat kita baru bangun tidur." jawab Fadia sembari memuntahkan isi perut nya walau tidak ada yang keluar.
"Maaf Yu. Ini pasti karena kita tidur di bawah." ucap Harry dengan nada penyesalan.
"Hueek.."
"Hueek.."
"Kamu sih bandel. Aku sudah bilang, kita tidur di kamar kamu malah mau nya di ruang tamu."
Setelah dirasa tidak ingin muntah lagi, Fadia mencuci mulut dan wajah nya. Lalu kemudian ia mengoles liptint yang selalu ia bawa kemana-mana.
"Masih sempat dandan Yu?" Harry terkekeh melihat calon istrinya di depan cermin kamar mandi.
"Biar tidak terlihat pucat Rry." ujarnya.
"Tapi aku jadi tergoda Yu lihat bibir mungil kamu ini." kata Harry merapatkan diri dengan Fadia. Ia memeluk Fadia dari belakang.
Keduanya seakan lupa sedang berada dimana dan ada siapa di rumah itu. Karena sudah terbiasa di rumah Fadia hanya sendiri karena Gadhing lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Elsa.
"Jangan aneh-aneh Harry. Aku masih lemas ini gara-gara ulah mu."
Harry mengangguk. Namun ia mengeratkan pelukan nya. Rasanya ia begitu ingin selalu berada di dekat Fadia.
Fadia yang di peluk seperti itu hanya bisa pasrah dan mencoba untuk tenang karena sedari tadi jantung nya terus berdebar tidak karuan. Dan ia juga menahan diri untuk tidak berbalik menghadap Harry.
Takut oleng !
"Apa masih mual?" tanya Harry menatap Fadia dari pantulan cermin.
"Sedikit."
****
Sedangkan di luar kamar mandi, ibu Harry baru selesai menerima telepon dari sang suami. Ia pun beranjak ke dapur.
Saat di dapur, ia mendengar suara seseorang sedang muntah-muntah. Ia pun melangkah mendekat ke arah suara itu di dalam kamar mandi.
Betapa terkejutnya ia mendengar percakapan yang tak lain adalah anak sulungnya dan calon istrinya.
__ADS_1
"Astaghfirullah.. Ya Allah Gusti.. Ini tidak bisa di biarkan. Anak itu harus aku hajar."
Ibu Harry pun melangkah mengambil sesuatu di depan rumah untuk memberi pelajaran sang anak. Ia begitu terkejut mendengar percakapan dua sejoli itu di kamar mandi.
Sang ibu terus menggerutu dengan sapu di genggaman nya. Ia melihat Harry tengah menyodorkan teh hangat kepada Fadia. Dapat dilihat bila Fadia sedikit pucat.
"Anak kurang ajar. Kamu apakan menantu ibu Harry? Kenapa kamu lakukan itu pada Ayu? Apa kamu tidak bisa menahan sebentar lagi?" Ibu berujar sembari memukul kaki Harry.
"Aduh Bu.. Sakit Bu.. Aduh ampun Bu.." Harry meringis kala pukulan itu memang sakit.
"Kalian itu tidak sampai sebulan lagi akan menikah kenapa sudah melakukannya? Apa tidak bisa di tahan? pasti kamu kan yang merayu menantu ibu? memang laki-laki tidak bisa menahan naf su." Sungut ibu lagi.
Harry mengelus bokong nya yang terasa sakit. "Ngelakuin apa sih Bu?"
Ibu Harry merasa geram. "Pakai pura-pura lagi."
"Harry benar tidak mengerti Bu.."
"Kenapa kamu hamilin Ayu sekarang? apa tidak bisa di tahan dulu sebelum menikah?" ucap ibu kembali emosi pada Harry.
Fadia dan Harry terkejut. Bahkan Fadia yang masih minum pun sampai tersedak.
"Uhukk..Uhuk..Uhukk.."
Dengan sigap Harry menuangkan air putih pada Fadia. "Terimakasih."
Ibu Harry akhirnya menangis. Ia kecewa anak laki-laki nya yang selalu ia banggakan telah berbuat diluar batas. Ia merasa gagal mendidik anak sulung nya ini.
"Ibu gagal jadi orang tua. Bagaimana bisa kamu kecewa kan ibu dan bapak Harry? Bagaimana kalau kakek mu tahu hal ini?"
Sontak Harry dan Fadia kalang kabut. Bukan karena Fadia hamil, tapi karena sang ibu sudah salah paham.
"Bu." panggil Fadia menggenggam tangan calon ibu mertuanya itu.
"Hem." ibu berdehem dengan isak tangis nya.
"Fadia tidak hamil Bu. Harry sangat menjaga Ayu." ucap Fadia lirih. Ia menjadi tidak enak pada calon ibu mertua nya.
Sang ibu menatap calon menantunya. "Jadi tadi di kamar mandi itu apa? ibu dengar semuanya."
Fadia dan Harry bersitatap. Keduanya pun tersenyum saat mengerti titik masalahnya sekarang.
"Bu. Calon menantu ibu ini masuk angin." terang Harry.
"Tadi ibu juga dengar kalau kalian tidur bersama. Ini pasti ulah kamu kan Harry?"
"Aku sakit bu, dan Ayu yang jaga aku semalam."
Ibu tersentak. Ia tahu bagaimana manja nya Harry bila sakit. Bahkan saat berjauhan bila Harry sakit pasti menelepon dirinya walau Harry tidak berbicara. Anaknya hanya ingin di temani sepanjang tidurnya.
__ADS_1
"Tapi sekarang sudah tidak apa-apa kan?" mendadak sang ibu melupakan masalah tadi. Ia menjadi khawatir pada sang putra.
"Tidak Bu. Malah Ayu yang jadi sakit karena aku nginap di rumah Ayu dan tidur di ruang tamu."
Ibu Harry menghela nafas. "Mana tangan kamu?"
Harry pun menyodorkan tangan nya ke depan sang ibu. Ia tidak tahu hal apa yang akan terjadi. Penting menuruti sang ibu.
*Plak
Plak*
"Tangan ini pasti sudah pernah lebih dari genggam tangan kan? itu hukuman. Sepertinya kamu tidak boleh bertemu sama menantu ibu dulu."
Harry dan Fadia menelan saliva dengan kasar.
"Bagaimana ibu tahu?" tanya Harry.
"Tadi ibu lihat kamu asal cium Fadia saja, Tidak lihat tempat dan kondisi." sindir sang ibu.
Duaarr..
Fadia malu mendengar sindiran calonibu mertuanya. Mendadak ia takut jika mertuanya menjadi tidak suka padanya. Ia pun hanya menunduk bahkan matanya kini mulai mengembun.
"Aku tidak tahan Bu.. Ayu itu vitamin untuk ku."
"Ibu hanya takut kamu dan Ayu kebablasan itu saja. Jangan sampai melewati batas ya."
Akhirnya mereka menyelesaikan makan siang nya. Fadia semakin kalut. Walau ia harus berpura-pura baik-baik saja.
Ibu Harry menatap putranya. Anak kebanggaan di keluarganya. Ia dapat melihat perubahan Harry. Sekarang wajah Harry lebih banyak mengekspresikan apa yang ia rasakan. Jauh sebelum berhubungan dengan Fadia.
Awalnya ia menyayangkan Harry mengambil keputusan menikahi janda. Sebagai seorang ibu, ia ingin anaknya mendapatkan seorang gadis. Walau tidak Sundari pikirnya.
Tapi karena Harry selalu meyakinkan dirinya bahwa Fadia yang terbaik untuknya ia pun pasrah dan mencoba menerima Fadia.
Seiring berjalan nya waktu, ia sering berkomunikasi akhirnya luluh juga. Ternyata janda tidak seburuk itu.
Ia melihat Harry masuk kamar. "Terimakasih sudah menerima anak ibu Yu." ujarnya.
Fadia tersenyum. "Seharusnya Ayu yang sangat berterima kasih pada Harry Bu."
Ibu Harry membawa Fadia dalam pelukan. Di usap-usapnya punggung calon menantunya itu.
"Ibu, bolehkah Ayu menganggap ibu adalah ibu kandung ayu?"
"Tentu sayang."
Harry melihat itu pun tersenyum. Ia sudah keluar dari kamar. Saat berada di ambang pintu dapur, langkahnya terhenti melihat pemandangan haru.
__ADS_1