Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Hal Yang Tak Biasa


__ADS_3

Rutinitas Naina kian hari kian penuh warna, dirinya mendapatkan suami yang begitu perhatian, setia, dan juga penyabar. Setiap pagi Reyhan siap mengantar Naina untuk bekerja, lalu sore hari setia menjemput isteri tercinta. Selanjutnya mereka menghabiskan waktu bersama keluarga, dan tak jarang pula Reyhan mengajak Naina bermalam dirumah orang tuanya.


Sejak awal menikah hingga kini berjalan hampir 1 bulan, entah mengapa Reyhan tidak berniat untuk mencari rumah untuk dirinya dan Naina tinggal. Reyhan terlihat begitu nyaman tinggal dirumah orang tua Naina.


Walaupun dirinya tahu bahwa lebih afdol jika pasangan suami isteri tinggal tidak serumah dengan orang tua.


Di suatu pagi yang lumayan cerah nan sejuk. Naina yang baru selesai mandi, mendekati Reyhan yang duduk disisi ranjang.


"Sayang kenapa yah kok hasil test pack ku belum positif juga?" tanya Naina dengan nada kecewa.


"Mungkin aku kurang keras berusaha untuk membuat perutmu itu buncit, lain kali aku akan lebih giat lagi untuk itu." ledek Reyhan.


"Bukankah kita sudah berjuang sepanjang malam? Apa itu kurang?" jawab Naina dengan polosnya.


"Sudahlah Sayang, mungkin memang Tuhan belum mengizinkan kita untuk itu, hikmahnya kita bisa terus berpacaran dulu kan?" jelas Reyhan berusaha menghibur kekecewaan Naina.


Naina hanya mengangguk tanda mengerti apa yang dijelaskan suaminya itu.


"Memangnya jika kamu secepatnya bisa positif hamil, sudah siap untuk berhenti dari karier mu? Hhhmmm..?" tanya Reyhan lagi berusaha memberi Naina sedikit pengertian agar dirinya tak larut dalam kekecewaannya.


"Aku belum berfikir sejauh itu Yang, lagian ibu hamil masih bisa bekerja kan?" jawab Naina yang sepertinya masih sangat menyukai dunia kerjanya.


"Ya sudah berdoa saja pada tuhan agar secepatnya keinginan kita akan segera terwujud." ujar Reyhan yang dijawab anggukan Naina lagi.

__ADS_1


Kini waktunya Naina untuk kembali bertugas seperti biasa. Dan masih sama dengan sebelumnya, Naina diantar oleh Reyhan ke tempat kerjanya.


Saat sampai diparkiran, Reyhan dan Naina tak sengaja berbarengan dengan Giyan.


"Hai Bro..., setia banget nganterin istri kerja." sapa Giyan terlebih dulu.


"Eh si Bos. Iya dong Bos.. namanya juga suami siaga, ngomong ngomong kapan nih nyusul nikah? Kalau udah nikah semua jadi serba nikmat loh Bos." tambah Reyhan dengan tawa kecil yang meledek Giyan karena Reyhan tahu saat ini Giyan masih jomblo alias tak memiliki kekasih.


Pertanyaan Reyhan tadi membuat hati Giyan kembali berombak ria. Sambil sibuk menutupi perasaannya itu Giyan diam-diam curi pandang pada Naina yang sedari tadi diam membisu bak patung yang anteng ditempatnya.


Melihat sikap Naina yang tak seceria biasanya Giyan menjadi risau "ada apa dengan Naina?" batinnya dalam hati. Hingga Giyan nyaris tak menghiraukan keberadaan Reyhan yang juga mengamatinya sedari tadi. Reyhan menyadari jika Giyan tengah menelisik dan memperhatikan lebih kepada Naina yang bersikap sedikit murung dari biasanya.


"Eh Bos... kok nglamun sih? Liatin apa?" tanya Reyhan yang sengaja menyadarkan Giyan yang sedari tadi asyik memandangi isterinya itu.


"Iya Sayang, semangat yah kerjanya. Dan inget..!! nggak usah sedih dan terlalu dipikirkan soal semalam itu." jawab Reyhan mengingatkan.


Naina mengangguk dan ngeluyur masuk ke kantor.


"Tumben amat Naina tak menghiraukan keberadaan ku? Ada apa sebenarnya?" protes Giyan dalam hati. Tentulah dirinya pun tak dapat memberi jawaban apa-apa tentang pertanyaanya itu.


Giyan masih tak mengerti apa yang sedang terjadi pada Naina, hingga Naina benar-benar tak menghiraukan keberadaannya. Dan hal itu sukses sekali mencuri perhatiannya, sekaligus memaksa Giyan berfikir keras untuk mengetahui apa yang tengah terjadi pada Naina.


"Isteri mu kenapa Bro? Salah makan apa dia? Kok jadi aneh seperti itu?" akhirnya, karena penasaran Giyan bertanya langsung pada Reyhan.

__ADS_1


Karena sesungguhnya hatinya menjadi redup karena mentarinya enggan bersinar terang seperti biasanya.


"Maklum Bro, lagi dapet giliran PMS, jadi sedikit lebih sensitif." jelas Reyhan singkat.


Reyhan sebenarnya tahu bahwa Naina masih kecewa karena dirinya belum bisa hamil secepatnya. Tapi bagi Reyhan itu bukan masalah, toh baru 1 bulan menikah.


"Oohh, masalah bulanan wanita? Okelah kalau begitu, aku lanjut masuk kantor dulu Bro." ucap Giyan seraya bersalaman dengan Reyhan, lalu berjalan menuju gedung PT. Prakarsa tempatnya dan Naina bekerja.


Lega mendengar jawaban Reyhan mengenai kondisi Naina yang tak seceria biasaya. Dirinya hanya tinggal menunggu mentarinya bersinar kembali.


Tetapi tak sesimpel itu hatinya lalu anteng dan bisa tak memikirkan wanita yang sudah berhasil mencuri titik fokusnya pagi ini. Sederet ide ia coba untuk gali agar bisa mendapatkan senyum indah sang mentarinya.


-


-


-


-


-


#Reyhan tak menyadari bahwa ada laki laki lain yang juga memperhatikan Naina. Jika tahu apa yang akan Reyhan lakukan nanti? Mampukah Giyan terus menutupi perasaannya itu?

__ADS_1


Episode selanjutnya akan lebih menantang lagi. Mohon vote dan dukungannya teman...🤗😋


__ADS_2