
"Harry.."
"Hem.." Tanya Harry masih dengan nafas tersengal dengan dada naik turun.
Keduanya baru saja menyelesaikan olahraga malam hari. Kegiatan penambah pahala dan membuat hubungan menjadi lebih erat dan harmonis.
"Kamu masih ingat Jody mantanku yang nyanyi saat resepsi?" tanya Fadia lirih. Ia tidak ingin membuat Harry salah paham.
Harry mengangguk tepat di atas kepala Fadia karena saat ini mereka sedang berpelukan.
"Memangnya kenapa hem?"
"Dia sakit parah." sungguh hal ini sangat menggangu pikiran nya sedari tadi pagi.
Bukan ia masih memiliki perasaan pada mantan nya itu. Tapi bohong jika ia sudah melupakan Jody dan juga kenangan nya. Dan mereka berpisah bukan karena salah satu menyakiti namun restu dari orang tua lah yang membuat kandas hubungan antaranya.
Harry menghela nafas. "Terus?"
"Bolehkah aku menjenguk nya? sebentar saja." pinta Fadia.
"Bolehkah aku cemburu Yu?" bukan sebuah jawaban namun pertanyaan dari hatinya.
Fadia terkekeh lalu mendongak menatap wajah Harry. "Boleh, tapi jangan larang aku.. Aku cuma mau menjenguk saja." Di kecup bibir Harry.
"Aku ikut kalau gitu."
Fadia tersenyum dengan mata berbinar. Ia senang Harry mengijinkan dan lebih senang lagi jika Harry memang harus ikut.
...****...
Keesokan sore nya setelah Harry pulang kerja, keduanya bersiap untuk menjenguk Jody. Jauh di dasar lubuk hati Harry sangat cemburu. Karena ia tahu mantan istrinya yang satu ini masih memiliki perasaan lebih untuk istrinya.
"Kamu sudah siap?" tanya Fadia yang baru masuk kamar mereka menghampiri Harry berdiri di depan suami nya.
"Ya aku sudah siap." jawabnya lirih.
Sebenarnya Fadia mengerti keadaan Harry saat ini. Tapi ia sangat ingin melihat cinta pertama nya. Biarlah untuk saat ini ia egois pada Harry.
"Tenanglah, aku benar-benar hanya ingin menjenguk nya."
Harry mengangguk mengerti. "Ayo. Keburu Maghrib. Gadhing sudah siap juga kan?" Harry mengulurkan tangan untuk meminta tangan Fadia dalam genggaman.
Fadia mengangguk dan menyambut tangan Harry. Berjalan beriringan dengan tangan saling menggenggam.
Sampai di depan rumah sudah ada Gadhing yang menunggu mereka dengan wajah cemberut.
"Kok cemberut?" tanya Harry dengan wajah masih di tekuk.
"Ayah sama bunda lama." jawab Gadhing polos.
Keduanya terkekeh.
"Maaf ya." Harry menaikkan Gadhing duduk di depan sepeda motor nya agar Fadia duduk tepat di belakang tubuhnya.
Fadia mengerti langsung memeluk perut Harry posesif dan bersandar di punggung kokoh milik Harry yang selalu ia belai saat berada di bawah kukungan.
Harry melajukan sepeda motornya dengan hati-hati karena ada dua orang yang harus ia lindungi. Bagaimana keadaan hati saat ini tapi tidak membuat Harry untuk abai pada istri dan anak sambungnya.
Semua itu karena aku begitu sayang dan cinta kalian.
Ketiganya berjalan beriringan menuju kamar rawat Jody tanpa bertanya dahulu pada pihak rumah sakit karena Fadia sudah tahu dari grub WhatsApp SMA nya.
Seperti di sengaja Fadia jika ketiga nya menggunakan pakaian dengan warna yang sama. Harry memakai kemeja putih dan celana jeans biru muda dengan kacamata bulat bertengger di pangkal hidung, Fadia baju rajut lengan panjang warna putih dan jeans hitam dengan rambut dark brown yang sengaja ia buat bergelombang tergerai indah serta tas selempang coklat. Dan Gadhing kaos putih serta celana pendek kain berwarna silver dengan topi bulat dan sepatu berwarna merah.
__ADS_1
"Assalamualaikum." ucap ketiganya saat pintu sudah di buka adik Jody tadi.
"Waalaikumussalam. Masuk sini.. Silahkan duduk. Maaf harus duduk di lantai kak Fadia dan abang adik nya." ucap adik Jody mempersilahkan dan hanya di balas anggukan lalu duduk di lantai bergelar tikar.
Mendadak suasana menjadi canggung karena kedatangan keluarga kecil Fadia. Ia melihat ibu dari Jody tengah menatapnya. Ia tidak lagi melihat tatapan tidak suka dari ibu Jody.
Fadia mendekati ibu Jody mencium punggung tangan ibu Jody. Sungguh tidak ada rasa benci pada wanita paruh baya di depan nya ini. Karena ia mengerti bila orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka.
"Ibu apa kabar?" tanyanya dengan senyum yang tulus.
"Ibu sehat, Jody yang tak sehat." jawab ibu Jody lirih dan tidak ketus seperti dulu saat bicara dengan Fadia.
"Jody pasti sembuh Bu.. Bapak mana Bu?"
"Bapak pergi keluar merokok."
Fadia mengangguk lalu beranjak melihat Jody sedang tidur sepertinya. Ia duduk di samping brankar Jody menatapnya dengan rasa iba mendalam.
Sekelebat kenangan manis kisah kasih di sekolah bersama Jody terngiang di ingatan nya.
Jody yang periang dan ramah.
Jody yang begitu perhatian.
Jody yang selalu ada untuk tempat ia berkeluh kesah.
Jody yang selalu menghibur saat ia terpuruk kembali karena sang kakek meninggal dunia.
Ia jadi teringat yang sering di ucapkan Jody padanya dahulu.
"Takdirku adalah menyayangi dan mencintaimu sampai akhir nafasku."
Kalimat itu di ucapkan Jody saat mereka makan kue bolu buatan Fadia untuk merayakan happy anniversary hubungan mereka yang kedua tahun.
Dia tampak kurus dan pucat.
"Jody.." panggil Fadia lirih.
Sungguh ia tidak tega melihat Jody terbaring lemah seperti ini. Sekuat tenaga iaenahan air mata. Selain menjaga hati Harry, ia tidak ingin di nilai keluarga Jody masih memiliki perasaan untuk Jody.
Tampak Jody mengerjap mata setelah mendengar suara wanita yang selalu mengisi hatinya. Dan ia tersenyum melihat Fadia.
"Fad.. Datang sama siapa?" tanya Jody lemah.
"Sama suami dan anak ku. Gimana keadaan mu?"
"Aku baik Fad.. Aku sudah sehat." ucap Jody tersenyum.
Itu karena aku sudah melihat mu Fad.. Aku kangen. jerit hati Jody
"Sudah sehat kok masih pakai infus dan selang oksigen seperti ini? jangan menutupi nya dari ku. Selalu saja seperti itu." gerutu Fadia karena memang kebiasaan Jody sedari dulu menutupi masalahnya pada Fadia.
Jody terkekeh melihat wajah Fadia yang cemberut dan mendengar gerutunya Fadia sedari dulu adalah hal yang membuat hatinya bahagia.
Apapun tentang Fadia adalah hal yang membuat ia bahagia dan merasa jatuh cinta berulang kali pada Fadia.
Sayang.. Kedua nya tidak jodoh.
...****...
Harry terus memperhatikan interaksi antara Fadia dan Jody. Sungguh itu sangat menyiksa dirinya. Tapi sekali lagi, ia percaya cinta Fadia hanya untuknya.
"Maafin kelakuan anak kami nak." ucap ibu Jody karena sedari tadi ia memperhatikan suami Fadia diam saja memperhatikan anaknya dan Fadia.
__ADS_1
Harry menoleh dan mengangguk. "Tidak apa Bu, saya percaya istri saya."
Ibu Jody merasa lega. "Sampai sekarang anak kami masih memiliki perasaan untuk Fadia. Saya baru sadar, dulu saat mereka menjalin hubungan, anak saya begitu nampak bahagia. Dia sering bercerita tentang Fadia yang cerewet dan anak saya bercerita dengan mata berbinar."
Harry diam mendengarkan ibu Jody bercerita.
"Tapi kami adalah orang tua egois yang tidak memikirkan kebahagiaan anak. Kami tidak merestui hubungan mereka hanya alasan klise."
Harry menatap ibu Jody seolah bertanya 'alasan apa?'
"Alasan nya hanya karena Fadia anak yatim piatu dan suku Jawa."
"Apa hubungannya?" akhirnya Harry mengeluarkan suara.
"Menurut kami Fadia gadis nakal karena tidak ada yang membimbing nya. Dan kami menyadari kebodohan itu mengapa tidak mencari tahu dulu seperti apa Fadia. Dan masalah suku mungkin karena di keluarga kami tidak ada yang bersuku Jawa."
"Setelah mereka berpisah, dan tamat sekolah kami langsung mengirim Jody ke Medan melanjutkan kuliah. Kami sengaja tidak memberi tahu Jody kalau Fadia sudah menikah. Tapi bukan nya melupakan Fadia, dia malah menyibukkan diri dengan terus belajar dan bekerja berharap dia bisa melamar Fadia."
Sungguh cerita ibu Jody membuat dada nya sesak. Tapi lagi-lagi ia harus menguasai diri.
"Dia begitu marah pada kami saat dia pulang kampung karena mendapat undangan dari kalian. Dia jarang makan dan jarang memperhatikan kesehatan nya. Jadi seperti inilah, asam lambungnya semakin parah."
...****...
Sedangkan di sisi Fadia dan Jody tampak bercengkrama layaknya teman.
"Jangan sakit begini, kau harus makan tepat waktu Jody.."
"Tidak ada lagi yang mengingatkan ku makan setelah kita putus."
"Hei.. Kau seakan menyalahkan ku." sungut Fadia.
Jody terkekeh. "Apa kau bahagian dengan pernikahan kedua mu?" Jody menjadi mode serius.
Fadia mengangguk sembari menyuapi bubur untuk Jody dengan pelan.
"Kau ingat apa yang sering ku ucapkan padamu Fad?"
Keduanya saling menatap secara intens.
"Takdirku adalah menyayangi dan mencintaimu sampai akhir nafasku."Keduanya mengucapkan kalimat itu bersamaan.
"Tapi ku mohon ubah kalimat itu Jody.. Kau harus sehat dan bahagia walau tanpa aku. Kau harus sembuh." imbuh Fadia.
"Ia sebentar lagi aku sembuh setelah kau pulang." Jody menjawab dengan senyuman.
"Baiklah.. Aku percaya.." ucap Fadia berbohong. Karena ia melihat keadaan Jody yang sudah sangat lemah.
*Ku harap ketakutan ku tidak benar Jody..
🌸*
***Bersambung..
Maaf para readers ku.. Beberapa hari ini emak hanya bisa up 1 bab..
Di usahakan hari ini kembali normal ya***..
__ADS_1