
Setelah menikah dengan Reyhan, Naina masih tinggal dirumah orang tuanya, tentu dengan sang suami. Bu Ani dan Pak Bagus masih belum siap jika ditinggal oleh anak dan menantunya itu. Maklumlah rumah keluarga Pak Bagus terbilang lumayan luas jika ditinggali hanya oleh Bu Ani dan Pak Bagus.
Reyhan pun tak keberatan jika harus tinggal bersama mertuanya itu. Asal Naina bahagia Reyhan siap melakukan apa pun.
Cinta Reyhan kepada Naina sudah terbukti selama 5 tahun mereka saling mengenal. Reyhan sosok laki laki yang amat penyayang juga lembut, sabar menghadapi kelakuan nakal Naina yang kadang tak terkendali. Itu sebabnya Naina mau menikah dengan Reyhan, karena menurutnya Reyhan lah orang yang paling bisa sabar menghadapi dirinya.
3 hari telah berlalu sejak pernikahan Reyhan dan Naina. Sekarang Naina harus kembali bekerja dan beraktivitas seperti biasa. Naina hanya mendapat jatah cuti 1 minggu untuk pernikahannya. Jadi mau tidak mau hari ini Naina harus sudah aktif bekerja lagi.
Berbeda dengan Reyhan yang masih dapat cuti dari pekerjaannya. Mereka sepakat untuk tidak melarang Naina bekerja selagi belum di karuniai keturunan.
#Disebuah rumah yang sederhana dan bergaya minimalis jaman sekarang. Juga sangat asri dengan halaman yang juga sejuk dan nyaman. Dan didominasi warna putih, menambah indah hunian keluarga Pak Sunar.
Di rumah itu lah yang merupakan kediaman keluarga Pak Sunar dan Bu Astri yang tak lain adalah orang tua Giyan Mahesa. Giyan merupakan anak ke 2 dari 5 bersaudara. Pagi yang cukup cerah dan terlihat aktivitas seperti biasa.
Giyan bersiap merapikan diri dan berkas berkas yang akan dibawanya ke kantor.
"Pagi ini apa Naina sudah masuk kerja ya? seharusnya sih memang sudah aktif." batin Giyan dalam hati.
Setelah selesai sarapan pagi bersama keluarganya Giyan bergegas menuju kantor. Tampaknya Giyan sangat bersemangat hari ini. Giyan menuju Gedung PT. Prakarsa tempatnya dan Naina bekerja dengan penuh semangat dan gembira. Dirinya bersiul-siul sepanjang perjalanan. Ada rasa rindu yang membuatnya tak sabar ingin bertemu sang pemilik rindu tersebut. Siapa lagi jika bukan si Naina Jasmine Maharani yang selalu ia harapkan kehadirannya.
ππSementara itu..,di kamar Naina,ππ
Naina masih disibukan dengan bermesra mesraan dengan sang suami.
"Mas, sebenernya aku masih betah dirumah, masih belum siap untuk kerja." ucap Naina sembari tidur dipangkuan Reyhan.
"Mas tau, kamu masih pengen bulan madu kan sama Mas, itu bisa kita terus kan setelah kamu pulang kerja nanti." jawab Reyhan seraya mengusap rambut Naina dan mendaratkan ciuman hangat dikening Naina.
"iihh Mas, bukan karena itu, aku masih capek aja, masa baru 3 hari jadi manten baru udah disuruh masuk kerja aja." dumel Naina manja.
"Udah sini Mas peluk aja, biar jadi semangat buat kerja. Nanti pulang kerja mas pijitin deh." rayu Reyhan yang berusaha menyemangati isterinya itu.
πππ
__ADS_1
Dikantor yang sudah mulai ramai orang lalu lalang melakukan aktivitas seperti biasa, Nita berpapasan dengan Giyan.
"Nit, Naina sudah datang?" tanya Giyan spontan begitu berpapasan dengan Nita.
"Apa Naina hari ini sudah aktif bekerja?" ekspresi Nita seperti orang yang kebingungan.
"Memangnya Naina belum datang?"
"Naina belum kelihatan bos..., aku rasa dia lagi betah jadi manten baru." jawab Nita seenaknya.
"Harusnya Naina bisa lebih profesional, dia punya tanggung jawab yang tidak bisa dia tinggalkan begitu saja. Libur hampir 1 minggu apa masih kurang?" celoteh Giyan dengan sedikit geram.
"Santuy aja sih bos, kita kan tau kalau Naina baru saja menikah 3 hari yang lalu, jadi menurut saya maklumlah kalau Naina belum bisa masuk hari ini." bela Nita
"Alasan apapun itu, seharusnya dia tidak seenaknya seperti ini." ketus Giyan seraya berlalu pergi meninggalkan Nita.
Selang berapa detik Giyan berlalu, Naina muncul dari balik pintu.
"Ini nih..pengantin baru kita yang telat masuk, sampai sampai buat atasan kita sudah ambyar pagi pagi." ledek Nita yang berpapasan dengan Naina.
"Bos Giyan tuh, pagi pagi sudah nyariin kamu." jelas Nita dengan nada sedikit kesal.
Tanpa menjawab pernyataan Nita, Naina berlalu meninggalkan Nita dengan tersenyum kecil menuju sebuah ruangan di atas.
Sesampainya disana Naina mengetuk pintu ruangan tersebut.
Giyan yang berada didalamnya, masih asyik dengan lamunannya sendiri. Sibuk memikirkan kenapa sosok yang ditunggunya belum juga datang. Apakah akan lebih sulit lagi baginya untuk sekedar bertemu dan melihat orang yang di rinduinya ketika orang itu telah resmi di miliki oleh orang lain?
Berbagai macam perasaan dan pertanyaan campur aduk bak adonan roti. Hingga Giyan tak menyadari ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya.
Giyan masih terlena akan lamunannya sendiri. Semangatnya yang ia bawa dari rumah seakan lenyap seketika. Dalam otaknya hanya ada seseorang yang sedang ia tunggu-tunggu.
(Sosok itulah yang selalu berhasil mengacaukan konsentrasi kerjanya dengan serangan berbagai macam perasaan)
__ADS_1
Naina yang sedari tadi mengetuk pintu dari luar mendapati tak ada respon dan jawaban dari dalam. Hingga akhirnya dirinya memutuskan untuk membuka pintu dan langsung masuk saja tanpa menunggu perintah dari sang pemilik ruangan.
Dan setelah memasuki ruangan Naina melangkah perlahan mendekati meja kerja Giyan. Bermaksud untuk lebih memperhatikan apa sebenarnya yang tengah dilakukan oleh Giyan hingga dirinya tak menghiraukan ketukan pintunya tadi.
Berhasil mengendap Naina mendapati Giyan yang masih berada dalam lamunannya. Melihat hal tersebut Naina tersenyum sendiri memikirkan apa kira-kira yang saat ini ada di pikiran dan benak si bosnya itu.
"Lagi mikirin apaan sih Bos, sampe kusut begitu mukanya. Laptop masih mati, berkas belum di buka, orang ngetuk pintu dibiarin, sekarang terciduk melamun bukane sadar malah makin asyik dalam lamunannya." gerutu Naina dalam hati.
Giyan masih saja tak menyadari kehadiran seseorang yang telah di nantinya sedari tadi. Masih termenung dengan tatapan kosong, bak kambing ompong disiang bolong. Yang berputar putar dalam benaknya hanya kapan dirinya bisa bersua dengan sang pemilik rindunya ini. Tak disangka sang pemilik rindu itu pun nyata hadir dihadapannya, namun tak ia sadari keberadaannya.
Giyan tak tahu mengapa sejak Naina mengabarkan tentang pernikahannya dengan Reyhan jauh-jauh hari sebelumnya, ada sebuah rasa yang menyeruak dari dalam raga. Timbul rasa bak rasa kehilangan seorang yang teramat berarti. Namun Giyan mencoba menepis rasa itu karena tak paham jika itu adalah benih rasa cintanya terhadap Naina yang mulai tumbuh seiring berjalannya waktu ketika mereka berdua mulai menjalin hubungan dekat juga akrab.
π·
π·
π·
π·
π·Bersambung....π·
π·
π·
π·
π·
π·
#Yang selanjutnya akan lebih hot dan menantang. Tentang apa dan bagaimana, terus ikuti kisah Naina yang semakin penuh misteri nantinya.
Mohon vote dan dukungannya teman.. π
__ADS_1