
"Kamu masak?" tanya Harry tatapan selidik pada Fadia.
Fadia berdehem menetralkan kegugupan. Ia yakin pasti akan marah jika tahu dirinya memasak. Bukan tanpa alasan Harry melarang Fadia untuk tidak mengerjakan pekerjaan rumah.
Ia masih takut Fadia kenapa-kenapa.
Ia masih takut terjadi sesuatu pada istrinya itu.
Apakah Harry takut anak-anak mereka kenapa-kenapa? Jawaban nya tentu saja takut, tapi ia lebih takut jika Fadia kenapa-kenapa karena menurutnya jika sang ibu baik-baik saja maka anak dalam kandungan Fadia juga akan baik-baik saja.
"Aku pengen ayam semur mas." kilah Fadia untuk menutupi kebenaran nya.
"Apa tidak bisa dimasakkan orang lain? atau kamu bisa menunggu bi Ratih." (art yang dipekerjakan dirumah Fadia.).
"Ini masih terlalu pagi kalau nunggu bibi mas.."
Harry memicingkan mata menatap Fadia seolah merasakan ada yang ditutupi sang istri.
"Katakan siapa yang meminta kamu untuk memasak." Harry berbicara sembari menatap Yudha lalu ke Elsa dengan tatapan tajam.
Fadia menghela nafas, ia merasa heran dengan Harry walau tidak keberatan atas perlakuan Harry yang protektif terhadapnya.
Jika saja suaminya tahu kalau ia sering memasak bersama bibi Minah di rumah jabatan Harry.
Astaga..
"Sayang.. Tidak ada yang menyuruh istrimu ini memasak, ini murni aku yang masak. Memang masakan ini untuk kak Yudha karena sudah kelaparan." Jawab Fadia jujur.
Tapi Yudha mendengar kejujuran Fadia membuat ia ingin menghlang di telan bumi saja. Ia mengenal Harry, sahabatnya yang satu ini sangat menjaga apapun miliknya.
Bahkan dulu saat ia terpuruk karena putus cinta, mantan kekasih nya itu di buat tak berkutik karena ucapan pedas Harry dengan tatapan dingin nya.
Dan sekarang?
Tamat lah riwayatmu Yudha..
...****...
Harry menatap Yudha dengan tajam. Ia menghargai kejujuran sang istri.
Cup
Kecupan di kening Fadia ia berikan walau masih tetap tanpa ekspresi. Katakanlah itu sebagai hadiah kejujuran Fadia.
"Menyingkirlah dari depan kompor itu." ucap Harry dingin tanpa menatap ke arah Elsa.
Elsa mendengar itu langsung menyingkir mendekati Yudha.
Harry menarik tangan Fadia untuk mendekati kompor.
"Spatula nya ganti." titah Harry dan di turuti Fadia.
Fadia meletakkan spatula yang digunakan tadi ke tempat piring kotor lalu menggantinya yang baru.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Harry meminta spatula itu di ganti. Ia sampai sekarang masih marah dengan Elsa. Bahkan ia tidak bisa memaafkan kesalahan Elsa.
Dan apa hubungan nya dengan spatula?
Itu karena spatula tadi sudah di sentuh oleh Elsa.
Harry mengambil tempat bekal mengisi nya dengan nasi lalu memasukkan ayam semur di tempat bekal tadi.
"Loh kok semua dimasukkin mas?" tanya Fadia heran.
Harry menghentikan kegiatan nya. "Jadi aku tidak boleh makan masakan istriku sendiri? jadi yang boleh makan masakan mu Yudha?"
Fadia menggeleng mendengar nya. Bukan nya marah malah Fadia merasa lucu jika Harry sudah cemburu begini.
Belum sempat Fadia berbicara, Ricky datang dengan wajah kusut khas bangun tidur menghampiri Harry dan Fadia melewati calon istrinya dan Yudha.
Dengan tangan kiri mengusap-usap matanya, ia melihat sesuatu yang menggugah selera. Dengan sigap ia mengambil sepotong ayam semur di tempat bekal Harry yang belum tertutup dan langsung melahapnya.
"Enak Yu, bumbunya pas. Asin manis nya pas berasa." puji Ricky yang belum menyadari keempat orang itu menatap nanar padanya.
*Mam pus lah calon suamiku..
Mati saja lah kamu Rick..
Hah.. Cemburu yang tadi belum hilang sudah datang lagi*..
"Mulai sekarang kamu tidak boleh masak lagi untuk laki-laki lain selain aku sama Gadhing." Sungut Harry kesal meletakkan tempat bekal sedikit hentakan membuat suara di meja papan tersebut lalu berlalu begitu saja.
"Baiklah, apa kamu tidak ingin menyelesaikan masalah di dalam kamar?"
Harry menghentikan langkahnya melihat jam tangan melingkar dipergelangan tangan menunjukkan pukul 7 pagi.
"Masih ada waktu 1 jam untuk keliling kebun, ayo kita ke kamar."
Dan sudah tahu kan apa yang akan terjadi?
...****...
Malam harinya dimana ini adalah malam terakhir untuk Elsa maupun Ricky untuk melepas status lajang. Kedua mempelai sama-sama gugup sedari sore.
Dan karena kedua pengantin tersebut membuat Harry dan Fadia harus pisah kamar. Harry dan Yudha menemani Ricky sedang Fadia dan Gadhing menemani Elsa.
"Fad. Apa kau segugup ini waktu itu?"
"Iya. Gugup kali pun."
Keduanya cerita banyak saat melihat Gadhing sudah tertidur. Tentang suka dan dukanya pernikahan. Fadia banyak memberi nasihat untuk Elsa.
...****...
Di sebuah kamar, lebih tepatnya di kamar istri Harry. Tiga sekawan itu duduk di tempat kenyamanan masing-masing.
Harry duduk di kursi meja rias sang istri. Sedangkan Ricky dan Yudha di atas tempat tidur. Harry sibuk dengan ponsel karena sedang bertukar pesan pada istrinya.
__ADS_1
"Harr.. Apa nikah itu enak?"
Harry menoleh kearah Ricky lalu meletakkan ponsel di meja rias sang istri.
"Enak. Nikah itu bikin umur kita panjang karena selalu bahagia. Semua kebutuhan lahir maupun batin terpenuhi dengan halal. Memberi pengalaman berharga menjadi orang tua. Kita sebagai laki-laki tidak memungkiri kalau menikah salah satu tuan kita agar punya keturunan."
Harry diam sejenak menjeda ungkapan nya. "Menikah membawa keuntungan finansial, **** kita aman, dan ini lebih penting."
"Apa itu?" tanya kedua sahabatnya.
"Laki-laki kalau sudah menikah lebih menarik." jawab Harry santai.
"Maksudnya gimana?" tanya Ricky.
"Kebanyakan perempuan lebih tertarik sama laki-laki yang sudah menikah. Salah satu perempuan nya ya istrimu." jawab Harry santai.
Namun tidak dengan Ricky, ia hanya bisa berdecak kesal dengan Harry.
"Bukan calon istri mu saja dan perlu kalian ingat juga, bukan berarti aku pun bisa tertarik sama perempuan lain selain istriku."
Yudha yang sedari tadi diam akhirnya mengajukan pertanyaan ke sang sahabat. "Tapi kenapa bisa banyak perempuan lebih tertarik sama laki-laki sudah beristri?"
"Kayaknya aku harus buka praktik masalah rumah tangga deh." ucap Harry tanpa menjawab pertanyaan Yudha.
"Sudahlah jawab saja Harr.. Kami butuh karena kamu selalu jadi panutan kami. Selalu jadi penengah kami berdua." kata Ricky benar adanya.
Harry hanya mencebik bibir lalu melanjutkan hal-hal seputaran hubungan rumah tangga.
"Ya perempuan lebih tertarik sama laki-laki beristri karena lebih mapan secara materi. Padahal kita pasti tahu, jika rejeki laki-laki yang sudah menikah itu bukan rejekinya saja melainkan rejeki istri dan anaknya."
"Bisa juga karena laki-laki beristri itu lebih rapi hingga enak dipandang. Padahal pria beristri itu rapi karena istrinya selalu memperhatikan penampilan kita."
Ricky dan Yudha melihat penampilan mereka masing-masing lalu membandingkan penampilan Harry. Mereka mengakui walau Harry hanya mengenakan celana pendek dan kaos tanpa lengan namun tampak lebih rapi dan segar berbeda dengan mereka.
"Ini juga alasan kenapa calon istrimu bisa menyukai ku padahal aku sudah beristri." Harry menjeda lagi karena ia masih saja geram jika mengingat nama Elsa.
"Calon istrimu menganggap perhatian laki-laki beristri lebih menyenangkan. Walau waktu itu aku belum menikah sama Ayu, tapi dia menganggap apa yang ku lakukan sebagai bentuk perhatian."
"Memangnya apa yang kamu lakukan Harr?"
"Belikan nasi Padang karena aku belikan Ayu dan ngerasa tidak enak hati pada Elsa jadi ya ku belikan juga lah."
Yudha mendengar itu tergelak.
Harry berdiri hendak keluar kamar.
"Mau kemana Harr?"
"Jemput istriku lah, aku tidak akan bisa tidur kalau tidak peluk Ayu."
🌸
Bersambung...
__ADS_1