Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Pulang ke Medan


__ADS_3

Beberapa hari berlalu.


Hari ini jadwal kepulangan keluarga kecil harry dan juga Ricky. Setelah berpamitan mereka berangkat dengan mobil sewa menuju Bandara. Di perjalanan macet hingga mengakibatkan. mereka hampir terlambat.


Di dalam pesawat kedua ibu hamil itu lebih memilih tidur sedang Harry menjaga Gadhing juga sembari bercerita dengan Ricky. Tapi ada satu orang yang mereka boyong untuk tinggal di Sumatera Utara mersama mereka.


Hanum.


Mereka memutuskan Hanum tinggal dengan mereka. Harry akan membantu Hanum mencari pekerjaan disana. Apabila Hanum menginginkan bekerja di kantor pemerintahan lagi juga Harry siap mengeluarkan dana untuk sang adik.


Sewaktu mereka mengetahui bahwa Yudha lebih memilih perjodohan itu, Fadia langsung berujar Hanum akan tinggal bersama mereka di Sumatera Utara dengan alasan yang akan membuat Hanum melupakan perasaan terhadap Yudha.


"Hanum ikut mbak ya ke Sumatera.." ajak Fadia.


Hanum menoleh menatap kakak ipar dengan intens. "Untuk apa mbak? aku disini kerja, aku tak apa jika mas Yudha tidak memilihku." Setiap kalimat itu terdengar tegar namun mata sang adik ipar tidak bisa berbohong.


"Kamu masih honor kan? masih bisa carik kerja lain apalagi kamu punya tamatan S1. Demi kebaikan bersama Num.. Kalau kamu disini tak akan pernah melupakan Yudha dan hal itu bisa membuat hubungan persahabatan mas mu bisa retak."


Kini Fadia dan Hanum sedang duduk di belakang rumah ibu Harry. Sedang Harry dan Gadhing berada di rumah kakek untuk melihat perkembangan peternakan sapi kakek.


Suami dari Fadia Rahayu itu benar-benar menjalankan keputusan yang sudah ia katakan. Harry juga sudah memiliki orang utusan untuk mengawasi peternakan, namanya Dana teman SMA dahulu.


Dana bercerita saat di kafe Yudha acara kumpul-kumpul bahwa ia sedang butuh pekerjaan karena sudah hampir satu tahun menganggur. Jadilah Harry mempekerjakan dana sebagai pengawas peternakan dengan perjanjian hitam di atas putih.


"Apa aku akan melupakan perasaan ini mbak?"


"Pasti. Asal kamu mau membuka hati dan memaafkan segala nya. Hanya perlu waktu."


Hanum mengangguk mengerti.


Begitu memutuskan untuk ikut tinggal bersama Harry dan Fadia, Hanum membereskan pakaian, peralatan kecantikan, dan surat-surat penting untuknya. Surat pindah bisa di urus belakangan.


Kedua orang tua Harry tentu sedih karena Hanum tidak pernah pergi jauh dan lama selama ini tetapi mereka mengerti tujuan kepergian anak gadis nya adalah untuk mengobati luka yang tertoreh dari Yudha.


Rombongan Harry telah tiba di Bandara Kualanamu. Niatnya tidak langsung kembali ke Kabupaten Kota tempat tinggal mereka karena harus mampir kerumah Fatin lebih dulu dan besok baru mereka kembali pulang naik Kereta Api agar para ibu hamil lebih nyaman sepanjang perjalanan.


Sepanjang satu jam perjalanan mereka tampak hening hanya Gadhing dan Harry saling berceloteh. Wajah lelah tergambar jelas dari wajah mereka masing-masing.


"Yu.. Tidurlah kalau memang capek." ujar Harry merangkul lengan Fadia lalu menyandarkan kepala Fadia ke dada bidang nya.

__ADS_1


"Aku tak ngantuk, cuma pinggang ku mulai sakit. Pengen rebahan."


Di elus kepala sang istri dengan sayang. "Maaf ya.. Pasti sangat capek hamil kembar, maaf sudah buat kamu hamil."


Plak


Satu pukulan mendarat di pada Harry. Fadia begitu gemas mendengar perkataan Harry.


"Kamu ngawur ih.."


Mobil travel yang disewa mereka telah sampai di pelataran depan rumah Fatin. Harry turun lebih dulu untuk membantu anak dan sang istri turun dari mobil begitu juga Ricky membantu Elsa turun dari mobil.


Elsa bersyukur selama di Malang dan sering bersama dengan Fadia membuat ada yang berubah dari Ricky cara memperlakukannya.


Ricky sedikit lebih memperhatikan ia dan kehamilan nya.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumussalam.."


Inilah yang tidak di sukai Harry, harus melihat Fadil dan akan mengingat bagaimana Fadil menatap sang istri dengan tatapan seorang pria ke seorang wanita bukan sebagai kakak dan adik ipar.


"Oh ya ampun adik-adik sudah hamidun saja.." ucap Fatin girang.


Fadia dan Elsa terkekeh mendengar nya. "Mbak kapan kasih adik Dita?" tanya Fadia.


"Sudah di usahakan tapi belum ada hasil. Padahal mbak sudah tidak KB lagi." Fatin mendadak curhat padahal ia tidak hanya duduk dengan Fadia dan Elsa.


"Mbak ini isshh.. Tak malu, ada lakik Fadia juga lakik Elsa pun malah curhat gituan. Dan ini ha.. Ada anak gadis lagi." gerutu Fadia karena dari dulu merasa geli bila bercerita tentang urusan ranjang.


"Aku sudah biasa mbak dengar gitu, ibu sama nenek lebih parah kalau cerita."


Fadia dan Harry tertawa membenarkan ucapan Hanum.


Fadia dan Elsa beranjak ke dapur untuk membuat teh manis untuk para suami juga adik iparnya. Mau selelah apapun keduanya mencoba menjadi istri dan adik yang baik.


"Fad, jadi kan acara halal bihalal di rumah mu kayak tahun-tahun biasanya?" tanya Elsa karena setiap tahun teman sealumni Fadia dan Elsa membuat acara halalbihalal di rumah Fadia karena dulu ia merasa kesepian jika hari Raya dan akan menangis mengingat kedua orangtuanya.


"Jadi."

__ADS_1


...****...


Malam hari setelah memastikan anak sulung nya tertidur bersama Hanum, Fadia keluar rumah duduk di belakang tempat dahulu ia pernah duduk bersama dengan Harry.


Memasuki awal trimester ketiga membuat Fadia susah tidur. Tendangan-tendangan si kecil sudah semakin aktif membuat Fadia sering meringis namun juga membahagiakan.


"Ngapain malam-malam disini Yu? banyak nyamuk." tanya Harry menyusul sang istri setelah mendapat pesan singkat darinya dan membawa obat anti nyamuk yang telah hidup.


"Aku lagi ngebayangin kita dulu mojok disini."


Keduanya terkekeh mengingat kejadian itu.


"Mau lagi?" tanyanya sembari duduk disebelah Fadia dan mengelus perut buncit Fadia.


Fadia menatap Harry secara seksama menikmati apa tiap sisi wajah tampan sang suami. Lalu ia menatap bibir berwana merah muda alami milik Harry.


Bibir yang sering tersenyum di depan nya namun tidak dengan wanita lain.


Bibir yang cemberut kala ia sudah melayangkan omelan untuk Harry.


Bibir yang sering curi-curi kecupan di bibirnya.


Bibir yang sering menyesap, mencecap, dan melu mat dengan lembut bibirnya.


"Sayang.. Melihat kamu menatap bibirku saja sudah membuat li bido ku naik." gerutu Harry.


Fadia tersenyum menatap Harry. "Tahan sampai besok ya.. Tidak ada kamar lagi."


"Iya, tapi aku kangen lihat kamu bergai rah." Harry cemberut karena menahan sesuatu.


"Hanya sampai kamu sekali pelepasan." lanjut Harry lagi.


Fadia tidak menjawab karena ia sudah menarik leher suami untuk mencium bibir yang ia tatap tadi.


Harry benar-benar tidak melakukan lebih dari membuat Fadia merasakan sekali pelepasan. Tangan nya aktif bergerak ke tempat-tempat yang ia inginkan dan berakhir masuk ke rumah milik Junior dan membuat Fadia mende sah tertahan.


Kata 'ah' terus keluar berbisik di telinga Harry memancing has rat Harry semakin memuncak namun harus di tahan.


"Bee.. Kita kayak orang lagi pacaran mojok tahu." kata Fadia bersandar di dada bidang Harry dengan nafas terengah-engah selesai pelepasan.

__ADS_1


__ADS_2