Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Nasib Nadia.


__ADS_3

Pagi yang sama di dua tempat yang berbeda.


Hal pertama yang Laras lihat saat membuka matanya adalah Naku, pria yang masih belum genap 24 jam menjadi suaminya itu ketampananya naik berkali-kali lipat saat tertidur seperti ini.


Wajah yang dulu selalu membuat Laras kesal, kini justru berubah menjadi wajah yang akan selalu ia rindukan.


"Uda puas mandangin wajah ganteng suami kamu ini? kalo belum puas aku bisa pura-pura tidur lagi kok." ucap Naku dengan senyum menyebalkan.


Sontak Laras dibuat malu karena ketahuan mandangin wajah suaminya diam-diam. Namun disisi lain, Laras juga merasa gemas dengan tingkat ke-PDan suaminya.


"Dih..! GR banget sih, siapa juga yang mandangin kamu. Orang dari tadi aku cuma liatin..em.."


"Cuma liatin apa, ha?" Melihat Laras kebingungan menjawab, membuat Naku semakin tersenyum mengejek.


"Uda gak usa malu-malu, ngaku aja. Lagian aku siap kok dipandangin terus sama istri aku. Mau tiga hari tiga malam juga oke. Hahahaha..."


"Ih.. apaan sih..!" Laras merasakan pipinya menghangat, demi menyembunyikan senyumanya, Laras berlari ke kamar mandi.


"Yank.. tunggu..! aku juga mau mandi.., barengan aja mandinya ya." Teriak Naku dari luar pintu kamar mandi.


"Bodo!"


Sedangkan di tempat lain.

__ADS_1


Nadia terlihat sibuk dengan setumpuk cucian kotor dihadapanya, sesekali wanita berparas ayu itu mengusap perutnya.


"Nad...! sarapanya mana?" teriak Akmar dari meja makan.


Nadia yang merasa kesal akhirnya melempar lalu menginjak-injak cucian yang baru saja ia keluarkan dari mesin cuci, tak lama kemudian Nadia berlari menghampiri suaminya.


"Sarapanku mana?" ucap Aqmar.


"Aku belum sempat masak." lirih Nadia.


"Belum sempat masak? memangnya apa saja kerjaanmu, jam segini belum masak! aku ini mau kerja! butuh sarapan."


Aqmar berteriak memaki istrinya.


"Ada apa sih...? jam segini uda pada ribut aja! rumah uda kaya pasar ramenya. Kenapa sih Mar, harus marah-maras sepagi ini?"


"Aku ini mau kerja Buk, butuh sarapan. Tapi uda jam segini gak ada sedikitpun makanan yang bisa dibuat sarapan." adu Aqmar.


"Aku dari pagi itu sibuk nyuci Mas! Ibu nyuruh aku nyuciin semua baju-bajunya. Mangkanya aku gak sempet bikinin sarapan buat kamu." ucap Nadia.


"Heh! kenapa kamu jadi nyalahin Ibu? harusnya ya pinter-pinter nya kamu dong , buat bagi waktu. Lagian nyuci kan masih bisa disambi masak. Masa kaya gitu aja harus diajarin. Terus mana baju-baju aku, uda beres nyucinya?"


"Emmmm.. e..itu anu, Buk." Nadia menggaruk telinganya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Anu apa? gatel anumu, ha? jangan-jangan gak beres lagi kerjaanmu, dasae mantu gak berguna!"


Setelah mengucapkan kalimat itu, Ibu Aqmar bergegas menuju ruang laundry.


"NAdIA........!" teriak ibu Aqmar begitu melengking hingga mampu menggetarkan seluruh penduduk muka Bumi.


"Kau apakan ini baju-bajuku Ha? aku suruh kau mencuci, kenapa kau malah rusakkan baju-baju mahalku itu? mau aku pakai arisan baju itu!"


Ibu Aqmar berteriak histeris saat mendapati baju-bajunya berada di lantai dengan bentuk yang sudah tidak karu-karuan akibat di injak-injak oleh Nadia.


"Maaf Bu.."


"Maaf kau bilang? maafmu itu tidak bisa mengembalikan baju-bajuku ini. Dasar mantu gak guna, menyusahkan saja bisanya."


Ibu Aqmar melenggang pergi meninggalkan menantunya yang berurai air mata, bahkan Aqmar pun tidak peduli dengan keributan itu, dan lebih memilih untuk berangkat ke kantor.


Jika dulu Nadia adalah calon menantu yang begitu di idam-idamkan oleh Ibu Aqmar, namun sepertinya semua itu sudah tidak berlaku untuk saat ini.


Setelah dinyatakan hamil, Nadia memilih untuk mengundurkan diri dari tempat kerjanya, dengan harapan setelah berhasil mengandung anak Aqmar, ia akan diperlakukan layaknya seorang ratu di rumah itu.


Alih-alih diratukan, Nadia justru menerima perlakuan yang sebaliknya dari Ibu Aqmar.


Julukan mantu kebanggan kini telah berubah menjadi menantu tidak berguna yang selalu menyusahkan.

__ADS_1


__ADS_2