
Fatin melihat wajah sang adik tampak berseri kala menceritakan hal itu.
"Sejak kapan kau menginginkan adek ku?"
"Sejak lima tahun lalu."
Fadia melongo mendengarkan itu. Tapi ia tidak ingin berbicara dulu, biarlah ia menjadi pendengar kali ini.
"Kau kerja dimana?"
"Di tempat yang sama dengan Fadia mbak. Sebagai a-.
"Ck.. Sebagai karyawan? Kalau begitu biarkan Fadia tetap bekerja." potong Fatin.
Fadia melotot mendengar apa yang dikatakan Fatin. Bagaimana bisa ia tetap bekerja sedangkan ia akan menjadi ibu Asisten Afdeling disana.
"Mbak.. Mana bisa begitu." protes Fadia.
"Kau mau uang belanja habis sebelum gajian? kalau kau kerja itu tak akan terjadi." sanggah Fatin.
"Gaji saya lebih dari cukup untuk nafkahi Ayu dan Gadhing mbak." kata Harry.
"Benar mbak. Gaji pak Harry lebih dari cukup untuk biaya hidup Bu Fadia dan Gadhing." terang pak Seto sedari tadi hanya mendengarkan.
"Bu Fadia? kenapa panggil ibu?" tanya Fatin.
"Siapa orang ini Fad?" sambungnya lagi.
"Pak Seto atasan kami mbak."
"Lalu calon mu? kenapa di panggil pak? dia krani?"
Fadia menggeleng.
"KCS?"
Fadia menggeleng lagi.
"Mandor? Mandor satu?"
"Bukan iihh.. Harry Asisten Afdeling dan pak Seto Asisten Kebun mbak. Harry atasan pak Seto dan kami berdua ini bawahan mereka." terang Fadia mulai jengkel pada Fatin.
Harry tidak marah atau tersinggung, ia memaklumi atas perlakuan Fatin itu adalah bentuk kasih sayang pada Fadia.
Fatin menimpuk lengan Fadia.
plak
"Ngomong nya biasa saja. Tidak perlu ngegas gitu." ujar Fatin.
"Iya maaf mbak." Fadia pasrah.
"Jadi mau di bicarakan sekarang atau nanti malam saja?" tawar Fatin pada Harry.
"Sekarang saja mbak."
Fatin mengangguk. Ia cukup kagum pada Harry. Sangat terlihat bahwa Harry tipe orang yang bertanggung jawab dan sangat tenang. Sedari tadi ia memperhatikan 3 pria di depan nya hanya Harry yang tampak tenang saat ia mengomel.
__ADS_1
"Ya sudah langsung ke intinya. Kau tahu kan Fadia janda anak satu?"
Harry mengangguk setuju.
"Dan kau tahu sendiri image seorang janda itu buruk di mata masyarakat. Bagaimana jika yang di gosib kan masyarakat itu benar?"
Fadia terbelalak tidak menyangka Fatin akan mengatakan itu.
Harry diam sejenak. "Saya tidak percaya. Dan saya yakin Fadia adalah perempuan baik-baik."
"Kau yakin ingin menikahi Fadia? kau laki-laki mapan dan masih lajang." Fatin terus mencoba mencari celah ingin melihat keseriusan Harry.
"Tidak ada yang salah dengan menikahi janda walau saya masih lajang. Saya menerima Ayu dan Gadhing. Justru saya menyesal karena terlambat datang untuk menikahi Ayu." tutur Harry.
"Apa kau benar-benar serius?"
Harry mengangguk pasti. "Sangat serius. Bahkan saya datang kesini untuk meminta restu dan saya ingin langsung menikah tanpa bertunangan."
Fatin berdecak. Ia tidak menyalahkan niat Harry. Tapi menikah adalah penyatuan dua keluarga. Ia harus tahu keluarga Harry menerima Fadia dan Gadhing atau tidak.
"Tidak segampang itu ferguso. Keluarga mu menerima atau tidak?"
Harry tersenyum manis saat ditanya seperti itu. "Alhamdulillah keluarga saya menerima Ayu dan Gadhing mbak. Bahkan mereka ingin mempercepat pernikahan kami."
Fadia lagi-lagi terperanjat. Harry tidak pernah mengatakan ini sebelumnya.
"Kok tidak kasih tahu aku?"
"Inikan sudah di kasih tahu Yu."
Fadia hanya bisa mencebik kesal.
"Betul." jawab Fadli yang sedari tadi diam.
Fadia dan Elsa terkekeh mendengar itu.
"Saya tahu mbak. Tapi dengan begitu saya akan lebih memahami Ayu lagi." jawab Harry tegas.
Fatin hanya bisa berdecak kagum dalam hati tapi ia harus tetap membuat hatinya yakin dan mantap untuk merestui nya.
"Seorang laki-laki itu dari sana nya memang suka melihat perempuan cantik. Bagaimana kalau kau menemukan perempuan lebih cantik dari Fadia?"
"Memang betul yang mbak bilang, tapi saya berkomitmen akan setia menjaga ikatan pernikahan dengan Ayu. Tidak ada kecantikan melebihi kecantikan perempuan halal yang sedang menunggu kita di rumah."
Fatin menghela nafas. Cukup sudah. "Baiklah. Satu pesan ku. Jika suatu saat nanti kau telah bosan pada adikku. Tolong antar dia baik-baik kerumahku bersama dengan Gadhing sebagaimana kau memintanya padaku dengan baik-baik. Adikku perempuan yang kuat, dia sama sekali tidak ingin merepotkan aku setelah dia tamat sekolah. Bahkan sampai dia bercerai pun tetap kuat hidup sendiri."
Fadia bangkit menghambur memeluk Fatin yang bertambah gendut. Ia tahu secerewet Fatin tetaplah ia sayang pada kakaknya ini.
"Fadia sayang mbak." ungkap Fadia. Kalimat yang sangat jarang terucap dari bibirnya. Kini ia mulai meneteskan air mata.
Fatin mengangguk. "Mbak tahu walau kau tidak pernah mengungkapkan nya."
"Ah iya. Untuk lamaran mbak mau di Malang saja ya.." ucap Fatin setelah pelukan Fadia terlepas dan nada bicara Fatin melembutkan.
Semua menatap kearah Fatin karena yang mereka tahu acara lamaran itu di kediaman pihak wanita.
"Kami tidak punya keluarga selain orang tua Elsa. Lebih baik di Malang. Apa akan ada acara resepsi disana?"
__ADS_1
Harry mengangguk. "Iya mbak. Karena saya cucu pertama dan bapak anak tertua jadi mereka menginginkan ada resepsi."
"Baiklah. Jadi menurut mu kapan kalian menikah?"
"Tiga bulan lagi mbak. Saya siap meminang Ayu."
"Baiklah. Persiapkan dirimu Fadia."
****
Siang hari selesai sholat Zuhur. Fadia duduk sendiri di bawah pohon mangga belakang rumah Fatin. Bergelar tikar dengan secangkir es teh manis dingin. Teh manis sisa pagi tadi.
Karena rumah Fatin berada paling ujung membuat suasana sepi seperti di desa. Di dalam rumah, Fatin sedang tidur bersama Gadhing dan Dita. Harry sedang bermain game bersama Niko dan Elsa. Sedangkan Fadli duduk di teras rumah bersama pak Seto.
Ia memilih duduk di sini. Di bawah pohon mangga yang rindang. Semilir angin menerpa wajah ayu Fadia. Memejamkan mata mencari ketenangan.
Takut!
Rasa itulah yang masih terselip di hatinya. Ia takut sebelum menjalani nya. Luka lama itu belum sembuh sempurna. Ia takut jika nanti setelah menikah Harry akan berubah seperti mantan suaminya.
"Kenapa melamun hem?" tanya seseorang dan duduk di sebelah Fadia.
Fadia tahu suara itu. Suara yang selalu membuat hatinya tenang dan harum parfum yang sangat membuat ia candu. Ingin sekali selalu berada dalam pelukan nya.
"Aku bingung harus ngapain di dalam. Kamu game terus." Fadia mengeluh karena memang ia bingung sendiri di dalam rumah tadi.
Harry terkekeh mendengarnya. "Maaf Yu. Tadi kamu keluar, aku langsung berhenti ngegeme. Cuma aku ngobrol dengan bang Fadli sama pak Seto dulu baru kemari."
"Apa telinga mu sakit tadi di jewer sama mbak Fatin?" tanya Harry sembari menyentuh telinga kiri Fadia.
Fadia meremang saat Harry menyentuh telinga nya. Itu adalah salah satu titik kelemahan Fadia. "Sudah tidak sakit kok." jawab Fadia sembari mencoba menghindar karena bisa kelepasan nanti.
"Yu.."
"Hem.."
Harry menatap lekat wanitanya. Sungguh ia ingin cepat-cepat tiga bulan itu tiba. Menjadikan Fadia ratu dirumahnya.
Alam bawah sadar Harry menuntun wajahnya mendekat dan mempertemukan bibir nya dengan bibir Fadia. Sungguh teramat senang saat cium an nya dibalas oleh Fadia.
Di bawah terik mentari berlindung di bawah pohon rindang. Kedua insan di mabuk cinta sedang duduk dengan bibir saling berpangut, melu mat dengan penuh cinta.
Lidah saling bertautan bertukar saliva. Tangan Harry mulai mengusap punggung Fadia menjalar ke tengkuk Fadia. Ia melenguh pelan saat ibu jari Harry mengusap ujung payu dara Fadia. Tangan kekarnya berada tepat di payu dara Fadia. Tidak ada remasan hanya ibu jari Harry yang mengusap-usap di ujung nya.
"Ha-harry.." ucap Fadia saat cium an Harry mulai turun ke leher Fadia.
Harry tersadar atas perbuatannya sudah di luar batas. "Ayu.. Maafkan aku." ia menarik Fadia dalam pelukan nya.
Fadia tidak marah. Bahkan ia tersenyum dalam pelukan Harry. "Tidak apa Harry."
"Maafkan aku. Aku sayang kamu." Harry benar-benar menyesal tidak bisa mengontrol diri bila berdekatan dengan Fadia. Apalagi ia tadi sudah menyentuh payu dara Fadia. Dapat dipastikan ia akan sering mandi malam bila memikirkan kejadian tadi.
****!
"Aku juga sayang kamu."
*Cup.
__ADS_1
🌸*
Bersambung..