Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Canggung


__ADS_3

Dari kejadian itu, kini Harry dan Fadia terlihat canggung satu sama lain. Bahkan Fadia tidak menatap mata Harry bila berbicara.


Saat keduanya sedang duduk berdua juga mereka lebih banyak diam namun salah tingkah.


Elsa melihat itu pun hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Ia menilai Fadia dan Harry seperti anak ABG.


Seharusnya ia lah yang merasa tidak enak hati karena sudah mengganggu Fadia dan Harry kemarin.


Ya.. Yang memanggil Fadia saat Harry dan Fadia sedang terbuai oleh suasana yang membuat keduanya lupa segalanya itu adalah Elsa.


Elsa yang kala itu sudah kedinginan berenang sambil bercumbu itu akhirnya menyudahi aktivitas nya di air. Dan ia mengira Fadia dan Harry tidak akan bermesraan karena tidak ada suara desa han di dalam tenda. Jadilah ia memanggil namanya.


Kini ia melihat dua sejoli yang sedang salah tingkah bila mata kedua nya bertemu.


"Fadia..Fadia.. Padahal kau lebih pengalaman dariku tapi kenapa kau yang terlihat polos begitu." celoteh Elsa yang sedang duduk sendirian.


Elsa beranjak mendekati Fadia dan rombongan lainnya termasuk Harry dan juga Niko. Sore nanti mereka akan pulang dan sebagian barang-barang sudah di susun di dalam mobil.


Elsa berpura-pura tidak mengetahui kecanggungan antara Fadia dan Harry.


"Fad. Kebaya kita sudah selesai. Sudah di ambil ibu di tukang jahit." kata Elsa.


Fadia mengangguk. "Iya. Orang dekorasi sudah datang belum?" tanya Fadia.


Besok malam adalah acara lamaran Fadia dan Harry. Semua biaya di tanggung oleh Harry. Sebenarnya Fadia menolak, tapi Harry selalu mengeluarkan kalimat jurusnya agar Fadia menurut padanya.


"Kan kamu sendiri yang bilang kalau aku ingin bertemu kamu. Kumpulkan saja uang mu untuk biaya nikah. Jadi, biaya nikah ku sudah lebih dari cukup, jangan banyak protes." terang Harry.


Apa yang harus di katakan Fadia bila Harry sudah bicara begitu? hanya pasrah saja.


"Em.. Harry, apa baju mu sudah selesai?" tanya Fadia gugup.


Harry hanya mengangguk.


Sebenarnya keduanya merasa bersalah karena tidak dapat melawan naf su kemarin. Dan keduanya salah tingkah karena baik Fadia maupun Harry tidak menampik bahwa keduanya terbuai walau apa yang di lakukan Harry tidak sama seperti Niko memperlakukan Elsa yang sudah berani bermain pada dua gundukan milik Elsa.


Elsa melihat Fadia dan Harry masih saling mendiami. Ia pun beranjak mengajak Niko pergi dan membiarkan Fadia dan Harry mencairkan suasana kembali.


"Beb. Temani aku kesana sebentar." ajak Elsa menarik tangan Niko.


"Sebentar beb."


****


Sepeninggalan Elsa dan Niko keduanya masih saja terdiam dengan pikiran nya masing-masing.


Ponsel Harry berdering. Ada panggilan video call dari Hanum dan Harry langsung mengangkat nya.


"Assalamualaikum ayah.."


Ternyata itu adalah Gadhing dan Fadia langsung menatap wajah Harry.

__ADS_1


"Waalaikumussalam anak ayah. Kamu lagi di rumah ayah?" tanya Harry.


"Iya yah. Ibu Hanum yang jemput semalam."


"Kamu nginap? Jadi sekarang lagi apa?" tanya Harry karena rumah nya tampak sedikit berantakan.


"*Iya. Lagi bantu ibu bungkus apa ya namanya. Gadhing tidak tahu ayah. Tapi kata nenek, untuk di bawa kerumah Gadhing besok."


"Bunda mana yah*?"


Harry menatap Fadia dan memberikan ponsel nya pada Fadia.


"Gadhing. Semalam tidurnya sama siapa?"


"Sama nenek Bun. Gadhing di ceritain dongeng kancil dan buaya sebelum tidur."


"Bun. Ngomong sama nenek ya.. Gadhing masih nonton Upin dan Ipin."


Lama tidak ada suara namun panggilan video masih berlangsung. Harry maupun Fadia masih belum mencoba mencairkan suasana.


"Menantu ibu apa kabar?"


Tampak wajah wanita paruh baya tak lain calon ibu mertuanya dengan seulas senyuman.


"Alhamdulillah sehat Bu.. Ibu apa kabar?"


"Sama Alhamdulillah sehat. Jadi sore pulang kan? nanti pulang langsung istirahat. Gadhing biar tidur disini. Kamu harus bugar untuk acara besok."


Fadia tersenyum.


"Iya Bu. Ibu juga jangan capek-capek ya.."


"Mana calon suami kamu? kok tumben tidak bersuara?"


Fadia pun tergelak. Harry memang selalu berisik karena ia di abaikan oleh Fadia. Tapi kali ini berbeda karena keduanya masih memiliki tembok kecanggungan.


"Ada ini Bu. Mau ngomong ya?"


Fadia menyerahkan ponsel Harry. Kemudian ia memainkan ponselnya sendiri.


****


"Maaf." ucap Harry pada Fadia.


Kini Fadia dan Harry beserta rombongan lain nya sudah jalan pulang. Dan Fadia ikut satu mobil dengan Harry dan Didi. Kali ini Didi yang menyetir.


Fadia menoleh ke arah Harry. Dan ia hanya mengangguk. Sungguh ia merasa tidak nyaman berada satu mobil dengan kedua atasan nya.


"Jangan cuekin aku Yu." ucap Fadia lirih.


Fadia mengangguk lagi. "Iya aku juga minta maaf."

__ADS_1


Kedua nya saling tersenyum. Harry merangkul pundak Fadia dan ia merapatkan tubuhnya dengan Fadia yang sedari semalam ada jarak antara keduanya.


Fadia hanya menurut saja dan sekarang ia sandarkan kepalanya di dada bidang Harry yang selalu membuatnya nyaman.


Kecupan berulang-ulang di kepalanya semakin membuat ia merasa di sayang oleh Harry.


"Harry."


"Hem.."


"Pernah terbayang tidak kalau kita akan bersama?" tanya Fadia.


Harry terkekeh. "Sebelum aku menyadari perasaan ku tidak pernah berpikir kesitu."


Fadia mendongak dan menegakkan duduknya lagi. "Ya iya lah. 'Kan kamu masih sama Sundel." jawab Fadia sewot.


Lagi-lagi Harry terkekeh. Ia sangat senang bila Fadia sewot begini.


"Cemburu?" goda Harry.


"Tidak akan." Fadia memanyunkan bibir serta tangan bersidekap di dada.


Kini Harry tertawa dan merasa lucu melihat reaksi Fadia yang gengsi untuk berkata jujur. Dan ia suka di cemburui seperti ini.


"Iihh.. Kenapa ketawa sih.." Fadia bertambah cemberut.


"Kalau aku tahu kamu yang akan ku nikahi juga dari dulu sebelum pacaran sama Sundari, aku tidak akan mau nerima mantan-mantan ku Yu. Kan kamu yang suruh aku terima cinta mereka dulu." terang Harry.


"Dan aku juga kalau tahu kamu yang akan nikahi aku juga tidak akan rela suruh kamu pacaran dan terima cinta mereka. Iihh aku cemburu tahu."


Harry tertawa. Sedari dulu Harry tidak pernah mengejar cinta seseorang. Cinta nya lah yang di kejar para wanita dan tentu saja ia selalu menceritakan hal itu pada Fadia.


Karena Fadia lah ia menerima cinta mereka. Sebelum ia menyadari hatinya untuk Fadia, hanya Sundari yang pernah ia ajak menikah walau akhirnya tempat hatinya berlabuh adalah seseorang yang menemani nya di dunia maya. Fadia Rahayu.


"Tapi cuma cinta kamu loh yang aku perjuangin Yu."


"Ya harus lah. Cuma aku kan?" tanya Fadia menatap Harry.


"Ya iya lah. Kamu satu-satunya perempuan yang aku perjuangin. Di setiap sujud ku, di setiap sepertiga malam ku selalu nama mu ku sebut. Bahkan sebelum aku sadari hatiku untuk mu. Kamu selalu ada di doa ku." Harry menatap mata Fadia dengan seksama.


"Terimakasih. Dan maafkan aku tidak pernah tahu sebesar itu perjuangan mu."


Harry mengangguk. "Iya. Oh iya aku mau kamu undang mantan-mantan kamu waktu sekolah dulu. Aku ingin tahu seberapa ganteng mereka."


"Eh."


"Gantengan aku atau mereka. Dan aku ingin tahu yang namanya Jody yang buat kamu nangis-nangis dulu."


"Eehh ogah."


🌸

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2