
"Sayang.. Kamu yakin kita ikut ke rumah dia?" tanya Harry memastikan hati sang istri akan baik-baik saja saat wanita itu melihat dirinya.
"Harus dong.. Masa aku biarin kamu melihat Elsa." jawab Fadia terkekeh walau ia yakin sang suami tidak melakukan hal itu.
Harry hanya mencebik bibir saja. Sejurus kemudian ia tersenyum menyeringai saat terlintas ide nakalnya.
"Baiklah Ratuku, sebagai bukti cinta ku maka izin kan aku untuk melayani mu." ucap Harry menirukan pelayan pada sang Ratu di kerajaan.
Dan hal itu sukses membuat Fadia tertawa. Ia tahu suaminya sudah menginginkan dirinya sedari tadi. Terbukti dari gesekan benda keras di bawah sana pada pa ha nya.
Junior sudah bangun.
"Bagaimana Ratu? apa kamu mengijinkan aku melayani mu?" tanya Harry meminta izin lagi.
"Tapi kita sebentar lagi mau kerumah Elsa loh mas.. Terus kak Ricky dan kak Yudha juga lagi di ruang tamu."
"Mereka berdua sudah dewasa sayang.. Mumpung Gadhing tidak dirumah. Mau ya?"
Ya, Gadhing sudah berada di rumah Elsa sedari sore setelah mereka pulang dari belanja persiapan hantaran lamaran untuk Elsa.
Fadia mengangguk tersenyum. "Pelan-pelan ya." pinta Fadia mengingat kan Harry.
Harry menyingkapkan pakaian dan celana Fadia hingga tersisa bra dan cela na dalam saja membuat Fadia cemberut.
"Bee.. Kenapa kamu buka di awal? aku malu tahu." gerutu Fadia karena biasanya Harry akan melepaskan pakaian Fadia saat keduanya dalam keadaan tersulut gelora naf su membara.
Harry terkekeh tanpa menjawab. Memulai mencum bu seluruh tubuh sang istri.
"Assalamualaikum anak-anak ayah.. Malam ini ayah akan mengunjungi kalian." ucap Harry ketika wajahnya tepat di depan perut rata sang istri lalu mengecup dengan sayang.
Fadia menggeliat kala cum buan Harry tepat di bawah perutnya. "Geli bee.." rengek Fadia.
Harry mendongak menatap Fadia dengan tatapan yang sama-sama berkabut gai rah. Tidak ada yang bicara membuat Harry meneruskan aksinya.
Kini tatapan nya terarah pada benda segitiga pelindung rumah milik junior.
Cup
"Enghh.." Lengu han Fadia terdengar se ksi di telinga Harry membuat semakin bersemangat melanjutkan permainan .
Dengan semangat ia bermain di bawah sana, membuka pelindung segitiga tersebut. Di hirup wangi khas area in tim milik sang istri lalu memulai aksi lidah nya menari-nari sesuka hati.
Fadia hanya bisa menggeliat sembari mere mas rambut Harry. Menikmati sensasi luar biasa atas aksi sang suami.
Begitu nikmat.
Tubuhnya melengkung kala junior mulai menerobos miliknya. Hentakan perlahan dan hati-hati dilakukan Harry.
"Bee.. Ka-kamu sudah pakai pengaman belum?" tanya Fadia di tengah-tengah era ngan.
Harry menghentikan hentakan nya mendengar pertanyaan dari sang istri.
"Sayang.. Tidak enak kalau pakai pengaman." rengek Harry masih dalam penyatuan.
"Jadi gimana dong?" tanya Fadia bingung, karena benar kata sang suami. Ia pun tidak menyukai Harry memakai pengaman.
Akhirnya ia mengalah dan terpisah sesaat untuk memakai pengaman.
__ADS_1
Demi sang buah hati.
Kemudian keduanya melanjutkan permainan dengan waktu singkat bagi keduanya namun tidak dengan Ricky dan Yudha yang sedari tadi mendengar suara sepasang suami istri memadu kasih di dalam kamar mereka.
...****...
"Lihatlah sepasang suami istri ini tidak merasa bersalah sedikitpun." celetuk Yudha karena sedari tadi ia sangat terganggu dengan suara alunan syahdu dari Harry maupun Fadia.
Sedangkan Ricky hanya diam saja. Ia kesal karena harus bermain solo di kamar mandi.
Harry biasa saja dan Fadia harus menahan malu karena itu.
"Sudah ayo kita berangkat, apa mobil yang kita sewa sudah datang?" tanya Harry.
"Sudah dari tadi." jawab kedua sahabatnya nya bersamaan dengan wajah menahan kesal.
...****...
Rombongan sudah sampai di rumah milik Fadia. Ia sengaja untuk kerumahnya lebih dulu karena ada hal yang ingin iai pastikan ke Ricky.
"Kak.. Betulan mau ngelamar Elsa?"
"Iya lah. Kita sudah sejauh ini Yu.."
"Tapi kenapa tiba-tiba? bukan karena Elsa mengganggu hubungan ku dengan Harry kan?" tanya Fadia memastikan.
Ricky menatap Fadia dengan seksama. Niat paling utama memang karena hal itu. Tapi ia juga sadar mengapa harus merepotkan dengan melakukan hal sejauh ini.
Hatinya seakan meminta seperti ini. Apa karena suka Fadia?
Ia adalah tipe pria yang tidak mau merusak hubungan orang lain. Terlebih sahabat sendiri. Memikirkan Elsa seperti ada tantangan tersendiri.
Mengingat pembicaraan ia dan kedua sahabat nya tadi saat membuat parsel hantaran.
"Kenapa harus repot-repot ngambil keputusan besar gini Rick? jangan mengorbankan masa depan mu." ucap Harry.
Harry selalu saja memberikan ucapan yang membuat Ricky maupun Yudha bimbang karena harus memikirkan dengan matang.
"Aku penasaran dengan Elsa." jawab Ricky.
"Penasaran tidak harus sampai di lamar. Kamu bisa mendekati nya lebih dulu." potong Yudha yang sedari tadi diam.
Harry menyetujui apa dikatakan Yudha.
"Jangan hanya karena kamu ingin pera wan jadi begini, adikku juga pera wan."
"Awas saja kalau kamu mendekati Hanum Rick." ucap Yudha mengancam dan itu membuat Harry dan Ricky tertawa.
"Tenanglah. Aku tak apa." ucap Ricky menenangkan sahabatnya.
Harry dan Yudha hanya mengangguk.
"Aku mencari istri yang liar di kasur." celetuk Ricky.
Harry mengangguk lagi mengerti karena ia tahu betapa liarnya si Ricky. Walau jika di bandingkan dengan dirinya tentulah ia paling liar di atas kasur. Terlihat jelas dari segi tubuh dan kebugaran tubuh nya jauh berbeda dengan kedua sahabat. Harry tersenyum dan kemudian ia teringat sang istri sedang tertidur lelap di pa ha nya.
"Kenapa kalian berdua mesum." ia sangat kesal karena hanya dirinya yang belum mempunyai pengalaman lebih dari sekedar ciuman.
__ADS_1
"Anak kecil diam saja."
"Harr.. Kamu suka mendominasi permainan atau seimbang atau istrimu yang mendominasi?" tanya Ricky.
Harry hanya mencebik bibir karena enggan bicara soal ranjangnya dengan sang istri.
"Menurutmu?"
"Ya mana kita tahu.."
"Mau bagaimanapun awal nya tetap di akhir aku selalu membuat istri ku tidak berdaya."
...****...
"Kamu tenang saja ya Yu, kakak memang menyukai Elsa dari pertama ketemu di Malang. Kakak akan sadarkan Elsa bahwa perasaan nya itu salah."
"Gimana kalau Elsa menolak lamaran ini?" tanya Fadia ragu-ragu.
"Kakak akan buat dia menerima nya. Kamu jangan khawatir. Kamu hanya perlu jaga kesehatan mu dan anak kalian. Jangan setres ya."
Cukup banyak Fadia tanyakan agar hatinya tenang. Mau bagaimana pun Elsa adalah orang terdekat nya selama ini.
"Sayang.. Kenapa kalian seperti pacaran begitu?" tegur Harry karena ia memperhatikan sedari tadi.
Fadia tersenyum menghampiri sang suami lalu merangkul lengan kokohnya.
"Sudah ayo kita berangkat."
"Assalamualaikum..." ucap Fadia paling nyaring.
"Waalaikumussalam.."
"Ibu.. Apa kabar?" tanya Fadia meraih tangan dan mencium punggung tangan ibu Elsa.
Ibu Elsa yang sedang bingung melihat Fadia membawa rombongan tidak menjawab pertanyaan Fadia.
"Ibu.. Boleh kami masuk?" tanya Fadia menyadarkan lamunan ibu Elsa.
"Ah iya masuk nak.."
Mereka pun masuk kerumah Elsa dengan membawa semua perlengkapan hantaran lamaran untuk Elsa.
Tidak tampak Elsa disana, mungkin sedang dikamar bersama Gadhing seperti biasanya. Bapak Elsa juga kebetulan ada di ruang tamu cukup terkejut.
Tapi tunggu. Kenapa tidak ada yang memulai berbicara tujuan datang kesini?
Fadia melihat ke arah Yudha dan Ricky sedang menatap nya juga. Tatapan mereka seperti kode untuk sang suami mewakili mereka. Ia pun beralih ke sang suami. Menyikut lengan nya agar membuka suara, namun sang suami enggan.
Ia pun menghela nafas panjang.
"Begini pak, Bu.. Maksud kedatangan kami selain menjemput Gadhing pulang.. Saudara mas Harry ingin melamar Elsa."
"APA?"
🌸
Bersambung..
__ADS_1