Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Aku tidak apa-apa


__ADS_3

"Aku sudah rindu Yu.." rengek Harry sembari meletakkan susu hamil rasa cokelat di atas meja rias. Saat ini Fadia sedang melakukan ritual sebelum tidur yaitu memakai skincare yang aman untuk ibu hamil.


"Setiap waktu ketemu juga." sahut Fadia tetap fokus bercermin. Kini Harry sudah duduk di meja rias menatap Fadia.


Fadia meminum susu hamil setelah ritual sebelum tidur selesai. "Mas, lihat lah perut ku semakin besar." kata Fadia kini sedang berdiri di depan cermin.


Harry mengangguk setuju. "Kamu semakin cantik sayang.. Dan semakin buat aku jatuh cinta."


Fadia berdiri di depan Harry memandangi wajah tampan sang suami. Berjinjit niat hanya menge cup bibir Harry namun karena sang pemilik bibir membuka sedikit bibir nya menjadikan luma tan itu terjadi.


"Kenapa tidak membalas hm? masih marah karena kejadian tadi?"


Harry mengangguk lemah. "Maaf kalau aku masih sering cemburu ke kamu Yu." ucap Harry lirih.


Fadia tersenyum lalu mengecup kening Harry. "Aku yang harusnya minta maaf, aku lakuin itu hanya kasihan dengan Elsa merasa kak Ricky tidak cinta padanya karena kak Ricky belum mengakui perasaan nya." Fadia duduk kembali di kursi depan meja rias.


"Tapi kan kita bisa nilai sendiri dari cara perlakuannya Yu.. Kenapa harus ada pengakuan kalau dia itu cinta sama istrinya?"


"Kamu tidak tahu saja kalau perempuan itu butuh pengakuan baik itu sama pacar ataupun suaminya. Bukan hanya pengakuan di antara berdua, tapi kami kaum hawa juga butuh di akui ke dunia pasangan nya."


Harry mengerutkan dahi merasa tidak setuju seluruh perkataan Fadia. "Pengakuan diantara laki-laki dan perempuan oke aku setuju, tapi kalau di pamerkan ke dunia kami mana aku setuju Yu.."


Harry menjawab itu sembari menuntun Fadia untuk naik ke atas tempat tidur lalu meletakkan bantal khusus di bawah perut Fadia saat memiringkan badan lalu ia turut rebahan sembari memeluk sang istri.


"Sudah nyaman?"


Fadia mengangguk.


"Ya sudah, ayo kita lanjut perdebatan kita tadi." Harry berujar kembali.


"Aku tahu kalau laki-laki itu tidak suka pamer pasangan baik di dunia nyata ataupun di dunia maya. Tidak cuma asal enggan, tapi laki-laki memang punya alasan kuat atas hal itu. Laki-laki pada dasarnya adalah makhluk yang egois, ia tak ingin bila foto pasangannya juga dinikmati orang lain."


Harry mengangguk setuju. "Itu kamu tahu."


"Iya aku tahu. Tapi emang dasar kami perempuan butuh pengakuan mas.. Apalagi di media sosial kamu. Sekali-kali gitu upload foto kita berdua. Masa mau jadi pajangan handphone kamu saja." sindir Fadia.


"Ya bagus dong. Jadi hanya aku yang menikmati kecantikan mu Yu.."


"Iya tapi boleh lah sesekali upload foto kita, kami perempuan meminta itu juga punya alasan kok."


"Alasannya apa?" Harry masih setia memeluk sembari mengelus perut Fadia.

__ADS_1


"Salah satunya kami para perempuan mau lihat sebenarnya pasangan kami sudah move on belum dari masalalu nya atau belum." Fadia memberi satu alasan.


"Apa hubungannya?"


Fadia berdecak sebal dan sadar akibat memiliki suami yang tidak perduli dengan perasaan mantan-mantan nya.


"Ya ada hubungannya. Kamu tidak pernah upload foto pasangan mu membuat perempuan masa lalu mu berpikir bahwa kamu belum bisa move on dari dia karena kamu nya tidak pernah memamerkan perempuan yang sekarang ada bersama mu."


Harry manggut-manggut. "Biar saja mereka beranggapan begitu Yu.. Aku tidak terlalu aktif di dunia maya. Yang penting aku hidup di dunia nyata bersama kamu dan anak-anak kita. Tapi kalau kamu maksa baiklah.." Jawaban Harry membuat senyuman Fadia merekah. Pasalnya memang Harry tidak pernah upload foto-foto kebersamaan mereka. Fotonya terpampang di media sosial hanya saat acara resepsi pernikahan mereka itupun karena di tandai oleh media sosial teman-temannya.


Harry meraih ponselnya di atas nakas lalu membuka aplikasi galeri di ponsel pintarnya. Di bukanya salah satu album yang hanya ia yang tahu bahkan Fadia tidak tahu.


"Mau model gimana yang mau di upload?"


"Ya foto aku yang cantik lah.."


Harry menyerahkan ponsel nya pada Fadia agar di pilih sendiri oleh istrinya.


"Pilih sendiri mau yang mana kalauemang kamu mau aku upload di media sosialku."


Fadia pun dengan senang hati menerima ponsel Harry lalu membuka kunci dengan kata sandi yang ia ketahui.


Matanya terbelalak melihat isi folder foto yang tersembunyi baru ia ketahui. Matanya kian melotot dengan isi nya.


"Di lihat tanggal di fotonya Yu.. Video nya juga lihat ya.." Harry tergelak lagi.


Fadia benar-benar dibuat tidak percaya dengan kelakuan Harry. "Ini semua untuk apa?"


"Obat rindu sayang.."


"Ini lagi, aku lagi merem terus di foto cuma dari kepala sampai pundak polos doang untuk apa mas?"


"Perhatikan ekspresi kamu di foto itu Yu.. Itu ekspresi kamu setelah kita menyudahi penyatuan kita sayang.. Dan aku suka ekspresi kamu yang menunjukkan kepua san."


Seketika Fadia menjadi tersipu malu, mendadak pipinya terasa panas setelah mendengar Harry menjelaskan maksud dari foto dirinya itu.


Fadia menatap Harry secara intens lalu memagut bibir Harry yang sangat sek si menurutnya.


Bibir itu menyatu bertukar saliva dan lidah yang bertautan menjadi gerakan menuntut lebih. Tangan keduanya sudah bergerilya di punggung pasangan nya.


Harry memulai aksinya di tempat-tempat kesukaan nya dengan desa han Fadia mengiringi sesi permainan.

__ADS_1


...****...


Di kamar Elsa


"Kak Ricky..."


Ricky baru selesai menikmati tubuh sang istri menoleh melihat Elsa masih berkeringat lalu ia elap peluh dari permainan nya tadi.


"Jangan taruhan gitu lagi.." tegur Ricky dan di balas anggukan lemah dari Elsa.


"Tidurlah." sambungnya lagi.


"Peluk.."


Ricky tersenyum lalu memeluk Elsa. Ia merasa selama kehamilan Elsa menjadi lebih manja. Dan ia lebih menyukai itu.


Awal menikah hanya sekedar menyelamatkan pernikahan sahabatnya. Berakhir ia telah jatuh cinta pada Elsa.


Melihat nafas Elsa sudah teratur ia ikut memejamkan mata.


...****...


Ia pun merapikan anak rambut menutupi wajah Fadia lalu ia kecup kening dan bibir Fadia sebelum memisahkan diri dari penyatuan.


"Apa anak-anak kita baik-baik saja? apa aku terlalu keras bermain nya tadi Yu?"


Fadia yang masih terpejam mendengar pertanyaan itu rasanya ingin mengumpat Harry. Salah satu kebiasaan Harry ya ini, selalu bertanya atau meminta maaf karena permainan nya itu.


Apa Harry tidak tahu kalau Fadia sering malu sendiri atas pertanyaan Harry? Ia malu untuk mengakui bahwa ia sangat puas dengan permainan Harry.


"Kami tidak apa sayang.."


🌸


Bersambung..


*Hai.. Gimana kabar nya? terimakasih atas dukungan di karya emak yang ini..


Oh iya, emak juga butuh dukungan di novel emak yang satu lagi.


Jangan lupa tekan vote, favorit, dan like komentar ya.. Terimakasih banyak*..

__ADS_1



__ADS_2