Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Eps. 22


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti biasa Naina melakukan aktivitas dengan penuh semangat. Maklumlah, hari ini rupanya sudah jatah gajian untuk para karyawan PT. Prakarsa. Naina sudah mengatur sederet jadwal untuk hari ini. Apa yang akan ia kerjakan, apa yang akan ia lakukan, sampai dengan apa yang akan ia borong setelah dirinya menerima transferan gaji yang akan masuk ke rekeningnya sore nanti. Begitulah Naina yang selalu merencanakan banyak hal dalam hidupnya. Termasuk rencana memperkenalkan Giyan pada Salsa pun sudah masuk dalam daftar rencana yang sudah Naina prioritaskan.


πŸ’


πŸ’


πŸ’


Rupanya peringatan dari Reyhan tentang Salsa waktu itu ia anggap bukan hal yang bisa menghalangi niatnya untuk memperkenalkan Giyan pada Salsa. Naina pikir penilaian Reyhan serta penolakannya tak beralasan kuat, hingga tekadnya akan ia usahakan sendiri. Naina melakukan itu karena dirinya pikir ingin melihat bos gantengnya itu memiliki pasangan dan segera menyusulnya kepelaminan.


🌷🌷🌷


Giyan melintas di depan ruangan Naina. Seraya sesekali menatap ke arah dimana sang wanita pujaannya berada. Sedangkan yang dipandang rupanya sedang fokus dengan segudang pekerjaan yang bertumpuk dimejanya. Giyan tersenyum sendiri menatap Naina, ada rasa sejuk dihatinya yang membuat dirinya mematung sejenak di langkah yang berada tepat di depan pintu ruang kerja sang ratu Naina yang kini merajai dihatinya. Giyan menarik nafas dan buru buru menstabilkan perasaannya agar tetap aman tak terdeteksi siapa pun.


Lalu setelah puas memandang Giyan berlalu menuju ruang kerjanya. Bebarengan dengan itu Naina menyadari ada yang berlalu dihadapannya. Ia menelisik dan menemukan Giyan yang sudah berada tepat di depan pintu lalu kemudian masuk kedalam. Melihat bosnya sudah berada diruangannya Naina segera membawa beberapa stop map di mejanya dan buru-buru mengekor ke ruangan atasannya itu.


(Tok...tok...tok) dari dalam Giyan mendengar suara pintunya ada yang mengetuk dari luar.


"Ya..Silahkan masuk!" Respon Giyan tanpa menoleh ke arah pintu.

__ADS_1


Naina pun segera masuk dan berjalan mendekati meja kerja sang bos ganteng. Lalu kemudian meletakkan stop map yang ditangannya diatas meja. Giyan masih belum menyadari siapa yang tengah berdiri dihadapannya itu lantaran tengah sibuk memperhatikan detail angka di layar komputernya. Giyan terlalu fokus memeriksa laporan keuangan bulan ini. Giyan pun mengerti jika berkas yang diletakkan oleh Naina hanyalah beberapa berkas yang memerlukan tanda tangannya saja. Belum memasuki tahap pemeriksaan. Jadi Giyan meraih berkas berstop map itu, lalu membukanya dan membumbui tanda tangannya.


Sementara itu Naina hanya anteng memperhatikan keseriusan Giyan sembari menunggu berkasnya diserahkan. Niat Naina tadinya ingin sekaligus membicarakan tentang Salsa pada Giyan. Tapi mendapati ekspresi Giyan yang teramat serius bekerja membuat Naina sadar bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah pribadi dengan Giyan. Karena bagaimana pun juga ini masih jam kerja yang harus digunakan untuk bekerja pula. Jadi Naina mengurungkan niatnya untuk menceritakan hajatnya itu pada Giyan.


Giyan yang selesai menandatangani berkas Naina, kemudian menyerahkannya pada sipembawa berkas tersebut, terkejut melihat siapa yang berada didepannya. Dalam hatinya berbisik " Bodohnya aku tak menyadari si empunya rinduku sekarang ada didekatku. Andai aku bisa berteriak sekencangnya agar seluruh dunia tau perihal rinduku yang tak tertepiskan pada wanita yang berada didepannya, pastilah lega hatiku". Usai bergeming Giyan sigap kembali menunjukan sikap profesionalisme di depan Naina.


Sementara itu Naina tak menangkap apa sebenarnya yang tengah di rasakan Giyan. Entah mengapa Naina selama ini tak menyadari sorot mata Giyan yang telah mengandung benih api cinta dalam setiap tatap Giyan kepadanya. Naina tak pernah bisa meraba sikap Giyan yang kadang salah tingkah ketika berhadapan dengannya karena sudah mulai berkembangnya rasa cinta yang selama ini bersemayam dalam hati Giyan untuknya. Kepolosan Naina hanya bisa menebak bahwasanya kehangatan sikap Giyan kepada dirinya semata-mata hanya sebatas teman yang akan selalu saling ada untuk temannya dikala suka maupun duka.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Bos nanti temui aku di kantin bu Iin yah, aku mau traktir bos makan siang". Ajak wanita bernama lengkap Naina Jasmine Maharani tersebut pada Giyan.


Naina tersenyum mendengar jawaban si bos gantengnya. "Siap paduka raja.." seraya membungkukkan diri. Kemudian Naina berlalu dari ruangan Giyan dan kembali ke ruang kerjanya.


"Kamu menyebut diriku raja Nai, tapi apakah dirimu bersedia menjadi ratu ku Nai???" Batinnya dalam diam.


Giyan kembali menatap layar komputernya lalu berusaha untuk fokus pada laporan keuangan yang tengah ia periksa. Begitu pula dengan Naina yang sudah berkutat dengan tugas-tugasnya. Waktu seakan cepat berlalu. Tak terasa jam pun sudah menunjukan jam istirahat telah tiba. Naina yang telah menyelesaikan beberapa pekerjaannya melihat jam di jam tangan berwarna coklat berpadu gold ditangan kirinya. Jam sudah menunjukkan pukul 12.05 Wib, Naina bergegas merapikan meja kerjanya sebelum berlalu menuju kantin bu Iin sesuai jadwal yang tadi sudah ia rencana bersama Giyan. Bukan karena ia tak sabar bertemu Giyan, melainkan karena sudah tak sabar menceritakan tentang Salsa yang ingin ia kenalkan padanya.


🌼🌼Di sebuah cafe kecil di sudut gedung🌼🌼

__ADS_1


Naina tiba kantin bu Iin. Kantin tersebut memang berada di sudut pojokan gedung. Namun tempatnya sungguh rapi dan nyaman untuk beristirahat menikmati menu santap siang setelah penat bekerja. Tak heran jika walaupun tempatnya dipojokkan tapi pengunjungnya lumayan ramai. Selain itu masakan bu Iin yang juga enak dan murah meriah menjadi salah satu faktor kantin yang di desain mirip cafe kekinian itu juga ramai.


Naina agaknya sedang mencari tempat kosong yang bisa ia tempati, tapi rupanya kursinya sudah penuh dengan para karyawan yang juga berlangganan di kantin bu Iin. Tiba-tiba sebuah tangan meraih lengan Naina dan menggandengnya menuju lantai atas. Sontak Naina Kaget, tapi begitu tau bahwa yang menggandengnya tersebut adalah Giyan, Naina mengekor menuruti ajakan Giyan naik ke lantai 2. Ternyata disana suasananya sangat berbeda dengan lantai dasar kantin. Tak ada orang dan hanya ada alunan musik syahdu yang mewarnai ruangan dengan desain sangat indah. Rupanya tanpa sepengetahuan Naina, Giyan diam-diam telah booking lantai 2 tersebut khusus untuk dirinya dan Naina. Naina yang tak menyadari hal tersebut terlihat begitu nyaman dan menikmati suasana yang sudah Giyan siapkan.


Naina memilih duduk di dekat jendela agar bisa lebih mendapatkan udara alami yang didapatnya dari jendela yang terbuka. sementara Giyan gantian yang mengekor dibelakang Naina.


Mata Giyan tak pernah lepas dari Naina, kemana wanita pujaannya itu melangkah, tatapnnya tak pernah lelah mengikuti.


🌺


🌺


🌺


🌺🌺🌺Bersambung....🌺🌺🌺


πŸ’₯πŸ’₯πŸ’₯πŸ’₯


#sekian dulu episode kali ini.. selanjutnya siap hadirkan cerita yang lebih seru dan bikin baper... mohon vote dan dukungannya kawan..πŸ‘§πŸ˜Ž

__ADS_1


__ADS_2