
Tiga bulan kemudian.
Di sebuah klinik praktek bidan yang menangani Intan selama masa kehamilan, Yudha sendiri hanya duduk diam menunggu waktu pembukaan sempurna Intan. Sedang ibu Yudha sedari tadi menemani intan di ruang bersalin.
"Yudha.. Kamu kenapa gak ada khawatir nya sih sama istrimu?" tanya ibu Yudha merasa kesal sedari tadi Yudha hanya duduk diam saja.
"Jadi aku harus gimana? dia kan menantu kesayangan ibu." ketus Yudha mulai jengah sedari tadi mengomel padanya.
Bukan ia tidak khawatir pada istri nya itu, namun hatinya sudah patah, sakit, dan terkoyak tak dapat sembuh kembali.
Awal-awal menikah memang ia merasa tak bisa menerima Intan sebagai istrinya. Hati nya sudah di bawa pergi Hanum pergi jauh dari pulau Jawa ini.
Walau begitu, ia terus berusaha bersikap baik pada Intan yang sudah menjadi istrinya. Hingga malam itu tiba dimana ia memberikan nafkah batin pertama kali setelah sebulan menikah.
Tetapi kenyataan kembali membuat ia kecewa saat mendapati bahwa dirinya bukanlah pria pertama di hidup sang istri.
"Kenapa kamu kecewakan aku Ntan?" tanya Yudha malam itu setelah melewati pergumulan panas.
"Maaf." cicit Intan.
"Siapa pria itu?"
"Dia Ferdi."
Yudha tersenyum miring mendengar nama itu lagi. "Oh pria yang dulu buat kamu pergi tinggalin aku, kenapa tidak menikah dengan nya saja?"
"Maaf."
Sejak malam itu, Yudha sangat jarang menjamah tubuh Intan. Jika hanya sedang marah dan cemburu ketika melihat kedekatan Hanum dan Niko di media sosial barulah ia memberikan nafkah batin pada Intan.
Bukan kegadisan Intan yang ia harapkan melainkan rasa kecewa mendapati Intan melakukan nya di luar pernikahan.
Namun rasa kecewa itu sedikit terobati mendapati Intan dinyatakan hamil. Sejak saat itu ia tak mempermasalahkan Intan tidak lagi memperhatikan keperluan nya. Dan ia sempat terlena atas pelayanan Intan di atas ranjang.
Mungkin bawaan hamil, pikir Yudha.
Selama kehamilan Intan memang ia tak pernah ikut saat memeriksa kandungan nya. Itu karena ia sedang sibuk-sibuknya merintis kafe baru nya dan Intan selalu melarang nya ikut untuk pemeriksaan dengan alasan ia tak ingin menambah Yudha capek harus mengantar jemput dirinya.
Tak ada curiga sedikitpun dari Yudha dilarang seperti itu. Padahal ia pun sangat ingin tahu perkembangan calon anak nya dari dokternya langsung.
Hingga di usia kandungan Intan menginjak usia 5 bulan, entah mengapa langkah kaki nya membawa ia ke sebuah tempat praktik dokter kandungan dimana tempat biasa Intan periksa kandungan nya jika akan USG.
__ADS_1
Matanya memicing melihat satu pasien yang sangat ia kenal dengan seseorang yang juga ia kenal.
Rahangnya mengeras dengan pikiran-pikiran buruk dan mengaitkan tentang apa yang terjadi pada Intan. Ia turun dari sepeda motor saat melihat Intan dan seseorang itu masuk ke ruang periksa.
Ia masuk kesana dan meminta izin pada pihak resepsionis untuk di izinkan masuk dengan alasan ia adalah adik dari istri pria itu.
Keberuntungan berpihak padanya karena pintu ruangan itu tidak tertutup rapat menjadikan ia bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Rahang nya semakin mengeras ketika indera pendengar nya mendengar kala pria itu mengatakan sesuatu yang menusuk hati nya.
"Intan.. Anak kita perempuan."
Kalimat terlontar itu seakan menusuk jantung hingga membuatnya berhenti berdetak. Tidak sampai disitu, perkataan Intan, yang perlahan sudah di anggap nya istri menambah taburan garam pada luka yang masih menganga.
"Iya mas. Aku tidak sabar ingin ketemu dengan anak kita."
Jawaban dari wanita yang berstatus istrinya itu membenarkan bahwa anak yang di kandung adalah anak dari pria itu. Pria yang membuat Intan meninggalkan nya dahulu. Pria itu adalah Ferdi.
Ia pergi begitu saja mengendarai sepeda motor dengan kecepatan sedang dalam pikiran yang melayang.
"Aku baru sadar, pernikahan ku saja belum sampai 5 bulan. Ya.. Yang aku tahu kehamilan nya baru 4 bulan karena Intan bicara nya seperti itu."
"Aku harus apa? kejahatan apa yang ku perbuat di masa lalu Tuhan? ini sangat sakit."
Bayangan beberapa bulan lalu kembali terngiang bahkan jeritan Intan sedang mempertaruh nyawa tak ia hiraukan lagi.
Hatinya sudah mati berbalut luka yang sulit sembuh.
...****...
Di kediaman keluarga Harry.
"Harr, istri Yudha sudah melahirkan." Siang ini Ricky sudah bertandang ke rumah orang tua Harry.
Ucapan Ricky membuat suasana ruang tamu menjadi hening. Lebih tepatnya Hanum menjadi terdiam mendengar itu karena sedari tadi ia berceloteh di depan Daffa-Daffi dan mengganggu Gadhing.
Harry menghela nafas panjang menatap sang adik.
"Nanti malam kita jenguk, mau bagaimana pun kita harus menjaga silaturahmi. Anak nya laki-laki atau perempuan?"
"Aku denger perempuan."
__ADS_1
Harry mengangguk. "Kamu mau ikut Han?" tanya Harry membuat tubuh Hanum menegang.
Hanum memandang Niko yang mengangguk. Seketika senyum itu terukir di bibir Hanum.
"Ikut mas."
Niko sendiri memaklumi hal itu pastilah sangat sulit untuk Hanum melupakan Yudha sebagai cinta pertama nya begitupun dengan dirinya.
Hingga kini aku masih tak dapat melupakan Fadia. 12 tahun Fad.. Tapi aku harus melanjutkan hidup bukan? Niko bermonolog dalam hati.
Sangat sulit mengendalikan matanya hidup serumah dengan cinta pertama nya. Rasa ingin menatap Fadia lebih lama itu sering terjadi pada dirinya hingga untuk menghindari hal tersebut ia sering menghindar untuk tak satu ruangan dengan Fadia.
Malam hari nya, Niko menyetir mobil milik Harry dengan Hanum berada di sampingnya. Sedang Harry dan keluarga kecilnya berada di kursi penumpang di belakang kursi kemudi sedang Ricky dan keluarga kecilnya duduk di barisan paling belakang.
Tiga keluarga tersebut melesat melaju menuju kediaman Yudha. Tak butuh waktu lama karena jarak rumah mereka memang tak terlalu jauh dari kediaman Harry.
Malam ini adalah malam pertama bagi Hanum dan Yudha bertemu setelah keduanya tak memiliki hubungan spesial lagi.
Bohong jika Hanum merasa baik-baik saja. Hingga kini nama Yudha masih melekat di sudut hati nya.
Setelah mengucapkan salam dan di persilahkan masuk, ketiga keluarga tersebut duduk di lantai beralaskan tikar.
"Maaf ya duduk di lantai." ucap ibu Intan tak enak.
"Oh iya Bu tidak apa-apa." sahut Fadia ramah.
Yudha keluar dari kamar segera melangkah menuju ruang tamu. Namun langkahnya terhenti kala melihat wanita yang masih memenuhi relung hatinya.
Hanum.
Wanita itu juga tengah menatapnya. Tatapan itu masih sama. Tatapan teduh menenangkan yang membuatnya jatuh hati.
Ia semakin rindu kala teringat kebiasaan wanita itu jika mereka membuat janji bertemu.
Ya, Hanum akan berlari memeluknya ketika mata wanita itu baru saja melihat dirinya. Tanpa ada rasa malu menjadi pusat perhatian.
Yudha mencoba menenangkan degub jantung yang masih sama saja bertalu-talu ketika bertemu dengan wajah menggemaskan itu.
"Maaf nunggu lama."
🌸
__ADS_1
***Bersambung..
Extrapart khusus cerita Yudha dan Hanum ya***..