Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Apa dia cemburu?


__ADS_3

Hanum pulang dengan perasaan dongkol. Bagaimana tidak? ia itu ingin move on dari Yudha tapi mengapa harus ketemu lagi?


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Ia bicara dengan ketus tanpa perduli ada yang menjawab atau tidak. Bahkan dengan santai melepas hijab instan dan rok plisket nya begitu saja.


"Apa kamu tak malu Hanum?" tanya Harry yang sedang duduk bersama si kembar sedangkan Gadhing sedang sekolah.


"Tidak."


Tampak Fadia tiba di ruang tamu dengan menenteng satu rantang berisi makanan.


"Bunda mau antar makanan kakek dan nenek ya." pamit Fadia kepada si kembar.


Ya, sekarang orang tua Harry tinggal di rumah kakek nenek nya setelah meninggal dunia tujuh bulan lalu dan nenek tiga bulan yang lalu.


"Di ajak aja, kita kesana. Ayo Han."


"Iya."


"Pakai baju yang benar, jangan dasteran begitu." tegur Harry.


"Iya." Hanum sangat kesal sampai menghentak kaki nya bak anak kecil.


Hanum sudah rapi dengan celana kulot putih dengan motif stripes dan t-shirt panjang berwarna navi begitu juga pasmina berwarna senada dengan t-shirt nya.


Tak lupa jam tangan dan kaca mata sebagai aksesoris dan sepatu kets putih menunjang penampilan nya.


"Astaghfirullah Hanum.. Kita mau kerumah ibu bukan nya mau berkencan."


Hanum tak menjawab hanya cuek saja. Memang begitulah Harry jika persoalan penampilan.


"Mas tidak tahu gaya anak zaman sekarang."


"Kamu cantik Num, seperti anak gadis." puji Fadia membuat Hanum tersenyum senang.


"Iya dong, jadi ingat kemarin kita keluar bersama di sangka masih gadis iya kan mbak? ingat tidak ada laki-laki pakai baju koko yang lagi musim sekarang itu."


Fadia hanya bisa diam mematung menelan saliva dengan kasar.


"Memangnya kenapa sama laki-laki itu?" tanya Harry dingin.


"Ngajak mbak Ayu ta'aruf." sahut Hanum santai.


Dan hal itu justru membuat Harry cemburu. "Tidak, kamu hanya milikku Yu. Lain kali aku bakal antar kalian saja."


Fadia yang melihat Harry cemburu pun hanya bisa geleng-geleng kepala saja.


"Ayo Num." ajak Fadia sembari menyerahkan rantang berisi makanan itu ke Hanum lalu ia menggendong Daffa dan Daffi di gendong Harry.


Mobil Fortuner berwarna putih itu melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah kakek mereka.


Sesampainya disana, mereka masuk ke dalam rumah tersebut dan meletakkan rantang berisi makanan itu lalu keluar rumah menuju ke belakang dimana letak peternakan sapi berada.


"Loh mas, itu karyawan baru?" tanya Hanum.

__ADS_1


Harry mengangguk. "Itu yang gantiin Niko."


Hanum manggut-manggut dengan langkah kaki mendekati pria tersebut.


"Mas orang baru ya."


Pria itu tersenyum dan mengangguk. Ia sudah tahu jika wanita yang menyapa nya adalah adik pemilik peternakan sapi ini.


"Nama mas siapa?" tanya Hanum lagi yang memang ia tipe cewek yang ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja.


"Ardi mbak."


Hanum mencebik. "Idih, apa aku kelihatan sudah mbak-mbak?"


Pria yang bernama Ardi tersebut terkekeh. "Mbak masih kelihatan seperti anak SMA."


Hanum tersenyum senang di puji seperti itu. "Oh ya? berarti aku awet muda dong." Ia tergelak sendiri.


"Iya."


"Tapi jangan panggil mbak dong."


"Jadi apa?"


...****...


Sebagai seorang kakak pastilah ia ingin melihat adik semata wayang nya bahagia. Ia tahu Hanum adalah wanita yang kuat. Dan benar dugaan nya, ia sudah kembali tersenyum dan tertawa padahal kemarin baru saja berpisah dengan Niko.


Surat pengajuan perceraian sudah ia lakukan, tinggal menunggu panggilan sidang dan yang pasti akan cepat selesai karena Niko tak akan hadir di persidangan. Mereka murni berpisah secara baik-baik.


Tap ada perebutan harta gono-gini atau pun hak asuh anak karena mereka belum memiliki anak. Masalah harta gono gini mereka sepakat membagi dua tabungan mereka setelah menikah.


Tadi malam, setelah memastikan ketiga anaknya tertidur dan tak lupa ia merayu Fadia untuk enak-enak lebih dahulu sebelum ia pergi berkumpul dengan Ricky dan Yudha di kafe nya.


"Gimana perceraian mu dengan Intan Yudh?" tanya Harry ketika merak sudah berkumpul.


"Sudah selesai, akta cerai juga sudah ada."


Harry mengangguk lalu menyeruput kopi yang di suguhkan.


"Aku kesini untuk melamar mu."


Biarlah kini ia menjadi pelamar dari pihak wanita. Sama seperti Khadijah binti Khuwailid yang mana dirinya lah yang meminta Nabi Muhammad SAW untuk menikahinya.


"APA?"


Mendadak otak Yudha maupun Ricky menjadi terhenti.


"Apa kamu gila Harry? apa Ayu tak lagi buat mu puas sampai kamu beralih ke lubang a nus?"


*Pletak


Pletak*


"Kalau ngomong itu jangan asal jeplak."


"Aku melamar mu untuk adik ku." lanjutnya lagi.

__ADS_1


Yudha mengerutkan dahi. "Adik mu yang mana? Hanum kan sudah menikah."


"Adik ku sudah pisah."


Senyum sumringah terbit dari bibirnya Yudha. "Oke aku terima."


"Tapi ingat, dia masih dalam masa Iddah."


"Iya kakak ipar."


...****...


"Assalamualaikum." ucap Yudha baru saja tiba di rumah kakek Harry.


"Waalaikumussalam." ucap mereka yang mendengarkan salam nya.


"Dimana calon istriku Harry?" bisik nya.


Harry menunjuk Hanum dengan dagu nya membuat Yudha terbelalak melihat interaksi Hanum dengan pria yang tidak di kenalnya.


"Siapa dia Harr?" tanya Yudha dengan pandangan masih melihat ke arah Hanum.


"Dia karyawan baru namanya Ardi, 25 tahun dan juga duda." jawab Harry santai.


Tapi tidak dengan Yudha. Hatinya memanas karena cemburu apalagi saat Harry menjelaskan pria itu duda dan lebih muda darinya.


Tiba-tiba ia merasa tak percaya diri karena umurnya sama dengan Harry yang akan menginjak di usia 30 tahun.


"Harr, coba kamu lihat penampilan ku." katanya seraya menatap Harry penuh memohon.


"Kenapa sama penampilan mu? masih sama seperti dulu, aku lebih tampan dari mu." jawab Harry narsis.


Plak


"Kamu ya mas, teman lagi insecure malah jawab begitu." cerocos Fadia tak tahan mendengar ke narsisan suaminya.


"Kak Yudha lagi kenapa disini saja? cepat sana susul Hanum."


Yudha baru tersadar akhirnya menyusul Hanum di kandang. Entah mengapa ada rasa gugup menyergap dirinya.


Menjauh dari kehidupan Hanum selama setahun tak menyurut rasa cinta di hatinya. Namun ia tak ingin menampakkan hal itu lebih memilih menjauh dari Hanum takut merusak rumah tangga Hanum dan Niko.


"Hanum." sapa nya membuat Hanum menghentikan tawanya.


Mengapa ia merasa ketika ia berbicara dengan Hanum mendadak menjadi pendiam begitu?


Apakah sudah hilang perasaan Hanum untuknya.


"Hanum." panggil nya lagi.


"Eh iya mas."


Kenapa harus gigit bibir bawah mu Num? apa kamu sengaja memancing ku? rasanya ingin sekali aku mencicipi bibir mu lagi. Oh tidak, jangan sekarang. Yudha bermonolog dalam hatinya.


"Kamu apa kabar?"


Hanum tersenyum lalu mengangguk. "Baik, sangat baik. Mas apa kabar? istri dan anak mas sehat?"

__ADS_1


Mendadak Yudha menjadi bingung. Apakah Hanum tidak tahu kalau ia sudah menduda selama setahun? Terus apa itu? mengapa wajah Hanum berubah sendu ketika menanyakan tentang intan dan anak nya?


Apa dia cemburu?


__ADS_2