Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Aku pergi


__ADS_3

Malam hari setelah perdebatan itu baik Harry maupun Fadia terlihat dingin. Bukan, bukan Fadia hanya Harry saja. Mungkin malam ini keduanya ingin mempertahankan ego masing-masing.


"Aku pergi." pamit Harry karena malam ini gilingan ngeronda di perumahan pondok.


"Hu'um hati-hati." jawab Fadia sebenarnya menunggu kecupan dari Harry sedang Harry pun menunggu Fadia salim takzim.


Keduanya menghela nafas panjang lalu berbalik badan. Fadia tidak sampai mengantar ke depan rumah karena sebentar lagi tengah malam juga Harry memutuskan pintu di kunci dari luar.


Saat berkumpul di tempat ronda ternyata sudah ada 5 orang bercengkrama disana termasuk Seto. Harry menghela nafas panjang sebelum ikut bergabung disana.


"Ikut ronda pak?" tanya salah satu karyawan tinggal di perumahan pondok.


"Iya." jawab Harry singkat karena keadaan hati sangat mempengaruhi mood malam ini.


Ronda malam ini berjalan keliling dan security membantu patroli untuk menjaga keamanan di perumahan pondok karyawan dan desa baik dengan menggunakan kendaraan bermotor. Dalam ronda terbagi dalam beberapa kelompok untuk berpatroli menyebar di setiap jalan dan gang perumahan warga yang termasuk dalam satu perumahan, satu desa yang terbagi beberapa dusun.


Manfaat dari pelaksanaan ronda itu sendiri sangatlah banyak yang diantara pokok intinya adalah, Menjaga keamanan dari segala macam tindak kriminal, Sebagai upaya antisipasi dalam penanganan masalah yang ditimbulkan karena adanya gangguan keamanan masyarakat dan musibah ataupun bencana alam, Sebagai sarana mempererat tali silaturahmi antar masyarakat dan Meningkatkan rasa kebersamaan antar warga perumahan pondok dan desa.


Seperti saat ini kelompok ronda Harry dan Seto tengah bermain catur, Membicarakan tranding topik sekarang ini yaitu salah satu karyawati berstatus janda tengah hamil dan belum diketahui siapa pria yang menghamilinya.


"Halaahh.. Paling si Ana hamil nya sama Yono. Orang itu kan sering kita lihat bersama di ancak." celetuk karyawan sering di sapa Udin.


Ya!


Memang beberapa hari ini kejadian itu menjadi tranding topik di perkebunan bahkan hingga ke desa. Namun Harry tidak ambil pusing, toh bukan urusan nya.


Sejenak ia menatap nanar benda pipih di tangan nya. Ada rasa rindu dan khawatir meninggalkan sang istri dalam keadaan hamil dan keduanya masih bersitegang.


Aku hanya ingin kamu selalu berada di sisi ku Yu.. Aku tak akan mau jauh dari mu. Cukup 11 tahun saja kita tidak menampakkan diri padahal banyak kesempatan untuk kita bersama.


"Kok melamun saja pak?" tanya Seto karena memperhatikan Harry diam saja.


Harry tersenyum canggung. "Khawatir orang rumah sendirian pak."


"Saya juga, kasihan istri jaga anak sendiri."


Keempat karyawan itu mendengar keluhan atasan mereka menjadi tidak enak hati. "Bapak bisa lihat istri bapak sebelum kita keliling ronda."


Harry dan Seto beralih menatap karyawan nya. "Benar boleh Din?"


"Iya pak. Jam 12 nanti kita keliling."

__ADS_1


"Makasih banyak ya, kami akan balik setengah jam lagi."


...****...


"Aaahg kenapa kalian mesuuumm..." teriak Fadia saat melakukan video call dengan Elsa.


Pasalnya sepasang suami istri di seberang telepon itu baru saja menyelesaikan olahraga di atas kasur dan langsung mengangkat video call dari Fadia karena takut terjadi apa-apa dengan Fadia.


Beruntung Ricky sudah memakai celana pendek hanya Elsa masih terbungkus selimut.


"Sudah malam, ada apa Fad? kau membuat kamu takut."


"Aku sendirian dirumah." keluh Fadia.


"Kemana Harry yu?" tanya Ricky yang duduk di sebelah Elsa.


"Ngeronda kak."


"Ah ya.. Gimana? apa jawaban Harry? di bolehin kan Yudha tunangan dulu?"


Karena Yudha lebih kalem dari ketiganya tentulah Yudha juga mengaduhkan yang ia rasa ke Ricky karena ulah Harry.


Fadia menggeleng. "Belum kak, aku jadi tak enak sama kak Yudha. Padahal kalau saja boleh, aku tak apa di tinggal. Kan masih ada mbak Fatin atau bapak sama ibu." Bapak dan ibu yang di maksud Fadia adalah orangtua Elsa.


"Eh Fad, coba deh Fad konsultasi ke dokter kamu boleh perjalanan jauh atau tidak. Kalau boleh kan kau bisa ikut*."


Banyak yang di bicarakan oleh mereka bertiga, bahkan Fadia menemani Elsa saat Ricky mandi lalu bergantian. Ia bisa pastikan jika Harry mengetahui dirinya mengobrol dan tertawa dengan Ricky maka habislah dirinya.


Tapi ia tidak ambil pusing, Harry saat ini tengah bersikap dingin padanya pastilah tidak perduli.


Panggilan video telah berakhir dan kini ia kesepian lagi. Ingin rasanya tertidur namun mata tak ingin terpejam.


"Aku tak bisa tidur Rry.." Fadia berbicara sendiri. Semenjak bisa merasakan gerakan calon anak-anak nya di dalam perut dan Harry selalu mengelus perut nya membuat Fadia resah dan gelisah karena kehilangan elusan Harry.


Fadia terus saja mencari posisi nyaman untuk tertidur namun nihil, hanya arahan posisi dari Harry dan pelukan Harry lah tempat ternyaman.


Duduk di tempat tidur adalah pilihan terakhir nya. Menghela nafas panjang bergumam "Kenapa kau jadi semanja ini Fad? dulu kau bisa apa-apa sendiri."


...****...


Harry mendengarkan semua pembicaraan Fadia dengan Ricky dan Elsa. Sebenarnya yang egois adalah dirinya dan ia sadar itu.

__ADS_1


Tapi jika boleh jujur, Harry masih trauma dengan kecelakaan Fadia saat hamil muda waktu itu. Dan ia takut terjadi lagi juga ia adalah seorang kakak.


Tentulah di mata seorang kakak melihat sang adik masih terlalu kecil untuk membina rumah tangga. Tidak ingin terjadi hal buruk pada sang adik itulah yang ada dipikiran nya.


Ia memutuskan masuk menemui Fadia karena tahu pasti keluhan sang istri akan susah tidur tanpanya.


Ia menangkap keterkejutan Fadia namun tetap acuh karena masih sebal dengan sang istri.


"Sini tidur." ajaknya setelah meletakkan bantal untuk perutnya di tengah tempat tidur.


Fadia menggeleng dan bergeming di tempat ia duduk.


"Yu.. Aku mau balik lagi. Jangan keras kepala gitu."


Ucapan Harry membuat Fadia meradang. "Ya kalau mau balik ya balik saja ngapain perduli sama ku." Fadia bicara dengan sedikit meninggi.


Harry mengusap wajah kasar. "Bisa turunkan suara mu Yu?"


Fadia menyadari kesalahan nya hanya bisa membuang muka ke sembarang arah.


"Baiklah, kita omongin masalah ini sekarang."


Harry pun menjelaskan ketakutan atas kecelakaan Fadia dan kekhawatiran sebagai seorang kakak.


Fadia tersenyum mendengarkan setiap kata yang di lontarkan Harry.


"Harry.. Tapi kamu harus ingat, calon suami Hanum adalah sahabat mu Rry.. Kamu bisa nilai bagaimana Yudha, aku yakin kamu akan memberikan keputusan tepat untuk hubungan mereka."


"Cobalah untuk menilai nya pelan-pelan." sambung Fadia lagi.


"Tapi gimana kalau harus jauh dengan mu Yu." rengek Harry.


"Aku akan ikut Rry.. Jangan acuhkan aku lagi suamiku.."


Harry tersenyum. "Tidak akan. Bahkan aku lebih tersiksa berada jauh darimu."


🌸


***Bersambung..


Vote, like, favorit ya..

__ADS_1


dterimakasih banyak***..


__ADS_2