
Bolehkah Fadia meminta waktu malam ini di perlambat? Jawaban nya adalah tidak, karena author bukan Tuhan.
Setelah acara resepsi selesai, keluarga Harry pamit untuk pulang kerumah jabatan sekaligus membawa Gadhing kesana. Orang tua Elsa juga sudah kembali kerumahnya karena merasa lelah. Begitu juga Fatin dan keluarga sudah terlelap karena lelah.
"Fad. Ini hadiah dari ku dan ini hairdryer mu ku kembalikan." ucap Elsa.
"Isinya apa? jangan aneh-aneh El."
"Mana ada. Itu spesial. Tapi jangan lihat harganya ya.. Lihat perjuangan ku mendapatkan hadiah itu." kata Elsa dengan senyuman penuh maksud.
Fadia mengangguk. "Oke lah. Terima kasih. Aku mau mandi dulu."
Fadia pun beranjak menuju kamar mandi.
****
Harry menatap tubuhnya dari pantulan cermin kamar Fadia.
Harry menghela nafas. "Hahh.. Kenapa aku gugup begini? bukankah ini yang ku tunggu?"
Harry duduk di tepi ranjang menunggu Fadia yang sedang membersihkan diri. Ia sudah lebih dulu membersihkan diri karena tadi Fadia masih sibuk dengan Elsa.
****
Dua puluh menit kemudian Fadia baru selesai membersihkan diri. Ia tahu setelah ini pasti sudah waktunya ia menyerahkan diri.
"Tapi aku takut mengecewakan Harry."
Fadia masuk ke dalam kamar. Jantung nya semakin berdebar tatkala melihat Harry rebahan di tempat tidur sedang bermain ponsel.
Ya Allah.. Jantungku kenapa kayak lari maraton begini.. Mana sexy begitu badan suamiku. Aku harus apa sekarang?
Fadia teringat waktu lalu pernah di ajak Harry belanja keperluan suaminya itu. Jika ia lebih suka tidur memakai boxer tapi kenapa sekarang harus tidak pakai pakaian?
Ya ampun.. Otak ku sudah traveling. Aahh ingin ku jerit histeris karena tubuh Harry sangat menggoda.
****
Harry sebenarnya sudah mengetahui Fadia di dalam kamar. Tapi ia ingin melihat bagaimana reaksi istrinya itu.
Saat ini ia hanya menggunakan boxer tanpa memakai pakaian sehingga memperlihatkan perutnya yang sixpack serta otot-otot nya yang menonjol.
Satu kebiasaan nya yaitu tidur tanpa mengenakan pakaian.
Ia melihat Fadia yang berdiri terpaku melihat ke arahnya. Ia membiarkan Fadia memandangi tubuhnya sesuka hati istrinya itu.
Sebenarnya ia merasa gemas melihat wajah Fadia. Tapi ia pun tidak boleh membuang waktu terlalu lama.
__ADS_1
"Sudah puas pandangi aku terus hem?" tanya Harry seraya bangkit mendekati Fadia.
Ia menjadi bertambah gemas melihat wajah Fadia merah merona.
****
Fadia berbalik membelakangi Harry. Ia sangat malu melihat tubuh Harry yang sexy di matanya itu.
"Harry.. Kenapa tidak pakai baju?"
Harry terkekeh melihat tingkah Fadia. Ia merasa Fadia baru melihat tubuh seorang pria.
"Kan pernah aku bilang kalau aku tidurnya suka pakai boxer Yu."
"Tapi kamu tidak bilang kalau tidak pakai baju."
Harry diam tanpa menjawab dan memeluk Fadia dari belakang. Mencium harum rambut Fadia yang masih setengah basah itu.
"Aku menunggu waktu sekarang ini Yu. Dimana kamu selalu menemani tidur. Beradu kasih dan kehangatan."
Harry mulai mencium dan mengendus dari kepala beralih ke tengkuk leher dan pundak Fadia.
Fadia yang di perlakukan seperti itu terpaku. Tubuhnya meremang, darahnya seperti tersengat aliran listri dan ia terpejam menikmati sentuhan yang di berikan Harry.
Bolehkah ia membandingkan sekarang? Inilah yang ia suka, kelembutan yang diberikan Harry selalu mampu membuat hasrat yang tidak pernah ia dapat kini ia rasakan.
Dulu saat dengan mantan suaminya, ia tidak pernah menemukan hasrat dalam dirinya. Yang ia lakukan hanya keterpaksaan saja dan hal itu membuat ia tidak pernah menikmati nya.
Fadia tersadar melupakan apa yang ia pegang. "Ini kado dari Elsa. Boleh di buka? aku penasaran."
Harry mengangguk. Ia tidak ingin terburu-buru walau pada akhirnya ia akan membuat Fadia pasrah sepanjang malam.
Fadia duduk di tepi ranjang membuka bungkus kado dari Elsa. Dengan semangat ia membukanya.
Tapi setelah terbuka dan mengetahui apa isinya membuat Fadia maupun Harry menelan saliva nya.
"Kenapa aku nyesal membuka kado Elsa gila ini." gumam Fadia yang masih terdengar di telinga Harry.
Harry melihat itu menjadi panas dingin kemudian ia tersenyum nakal dengan pikirannya.
"Sayang.. di pakai ya.." titah Harry.
Fadia menggeleng. "Jangan Harry. Aku malu. Bagaimana bisa aku memakai itu? seperti saringan teh saja."
Elsa memberikan lingerie model babysuits bahan renda plus ****** ***** dengan tali saja berwarna merah mencolok membuat kesan sexy nya bertambah.
"Aku tidak mungkin ganti dan keluar kamar mandi dengan baju begini Harry. Bagaimana kalau bang Fadil bangun?"
__ADS_1
Harry membenarkan apa yang dikatakan Fadia tapi karena keinginan nya tidak bisa dibantah dan ia juga sudah tidak sabar melihat Fadia tanpa busana harus mencari cara agar terlaksana keinginan nya.
"Ya sudah ganti di kamar saja." ujar Harry.
Fadia menganga mendengarnya. "Ka-kamu serius?"
Harry mengangguk pasti.
Dengan ragu Fadia membuka pakaian nya. Dengan debaran jantung yang tak terkontrol lagi. Ia membuka kancing baju piyama nya perlahan di depan Harry.
Harry bangkit menghampiri Fadia.
"Aku bantu ya.."
Fadia mengangguk pasrah. Bukankah ini akan terjadi? tapi mengapa ini jauh lebih mendebarkan pikirnya.
Untuk pertama kalinya Harry melihat tubuh wanita bagian dalam nya. Dan itu hanya Fadia.Istrinya.
Dipandang penuh damba tubuh Fadia yang hanya memakai lingerie bahan renda yang tembus pandang itu. Bahkan ia dapat melihat payu dara yang tidak memakai bra itu. Lingerie berwarna merah sungguh sangat menggoda.
"Sayang.." panggil Harry. Suara bariton itu seakan menahan sesuatu sedari tadi.
mata keduanya bersitatap menginginkan sesuatu.
"Apakah aku boleh memulai nya sekarang?"
Ayolah suamiku.. Aku sudah sexy begini tinggal di serang saja kenapa harus ijin sih? apa dia tidak tahu kalau aku ini istrinya? ladang pahala nya? pengen kali aku sepakkan bokong nya itu.
Fadia hanya mengangguk.
Dengan gerakan tak terduga Harry menempelkan bibirnya pada bibir Fadia. Dengan sabar dan kelembutan ia menarik tengkuk leher Fadia untuk memperdalam ciu man nya. Seakan gemas seolah-olah itu adalah hal yang ingin ia lakukan sejak lama. Padahal dini hari sebelum akad ia sudah mendapatkan ci uman dari Fadia.
Ciu man setelah halal itu tidak berlangsung lama karena perlahan Harry mendapati Fadia tidak bereaksi.
Fadia mendongak pada wajah Harry yang sudah berdiri tegak, seolah menata kesadarannya itu.
"Kenapa?" tanya Harry. Ia mengernyitkan dahi dengan salah tingkah ketika menyambut pandangan menuntut dari Fadia.
Kenapa berhenti sih? kenapa tidak lanjut? haruskah aku jadi perempuan agresif? gengsi. Tapi sudah kepalang tanggung.
Seseorang yang sedang jatuh cinta memang kadang bersikap melawan kebiasaannya. Fadia yang selama ini mencoba menyembunyikan sifat bar-bar nya kini harus memakai sifat tersebut.
Ia berjinjit bertumpu pada ujung jari kakinya. Kedua tangannya mengalung di leher Harry. Bergantung supaya tidak kehilangan keseimbangan.
"Jangan berhenti. Aku membutuhkan mu." ucap Fadia dengan nada manja sembari meraih bibir Harry mendaratkan ciuman lembut untuk Harry.
🌸
__ADS_1
Bersambung...
Lanjut gak ni gaes?