Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Extrapart Pengakuan Hanum


__ADS_3

"Hanum, maafin mbak ya dik." ucap Fadia saat melihat Hanum baru saja turun dari becak dan segera mendekat membantu menurunkan belanjaan dari atas becak.


"Tidak apa mbak, aku ngerti kok." Hanum tersenyum agar Fadia tidak merasa bersalah seperti itu.


"Mas Harry sama mas Niko kemana mbak?" tanya Hanum ketika mereka sudah berada di dapur.


"Mas mu jemput anak-anak kalau suami mu masih tidur mungkin, belum ada keluar kamar dari tadi. Kamu kasih makan dulu gih."


"Iya mbak."


Hanum mengambil piring lalu membuka rice cooker mengambil nasi kemudian diletakkan ke piring yang dipegangnya. Membuka lemari makan terlihat sayur SOP bening dan tempe goreng disana.


"Mbak yang nyayur?" tanya Hanum.


"Iya, maaf ya mbak masakin untuk suami mu. Mbak takut kamu kelamaan pulang dan Niko terlambat makan."


Hanum tersenyum dan mengangguk. "Tiap apa mbak, makasih banyak. Tapi awas loh mas Harry tahu."


Fadia terkekeh lalu mengangguk. "Sudah sana kasih makan suami mu dulu."


...****...


"Mas.. Maaf aku kelamaan pulang. Mas makan dulu ya." kata Hanum sembari membantu Niko duduk bersandar di kepala ranjang.


"Mas makan sendiri aja."


"Ya sudah, aku mandi dulu ya mas."


Di dalam kamar mandi, Hanum terus termenung memikirkan pertemuan nya dengan Yudha tadi.


Sungguh ia tak ingin terjadi namun, debaran jantung itu masih sama hingga kini ia masih merasakan nya.


Sesakit ini mas.


Di hidupkan nya mesin air untuk menyamarkan tangisan nya di dalam kamar mandi.


Apa kamu sama tersiksa nya seperti ku mas? Kenapa aku belum bisa melupakan mu?


Dengan cepat ia hapus air matanya dan membersihkan diri. Tidak ingin mengundang curiga karena terlalu lama di dalam kamar mandi.


"Sudah siap makan nya?" tanyanya kepada sang suami.


...****...


Niko melihat mata sang istri terlihat sembab hanya bisa menghela nafas. Ia tak tahu apa yang baru saja dialami sang istri.


"Sayang, kemari lah.." titahnya.


Hanum duduk di tepi ranjang berhadapan dengan Niko. Sebenarnya, asam lambung nya sudah tak terasa sakit lagi namun hanya karena berdua serumah dengan Fadia membuat ia mengurung diri di kamar.


Tidak ingin ada fitnah.


"Kamu kenapa?" tanya Niko tulus.


Hanum menggeleng.

__ADS_1


"Cerita sama mas sayang.."


"Tadi aku ketemu mas Yudha." Hanum menunduk tak berani menatap wajah Niko, mau bagaimana pun perasaan nya pada Yudha adalah salah.


Bukan nya marah namun senyuman itu terukir di wajah Niko. "Apa kamu merindukan nya Num?"


"Dengan mata berkaca-kaca, Hanum memberanikan diri menatap Niko. "Maafkan aku mas."


Tangan nya terangkat kala melihat air mata Hanum sudah mengalir membasahi pipi istrinya. "Tidak apa, mas paham. Mas juga ingat kalau kita menikah karena ingin menyembuhkan luka dan menghilangkan perasaan ini."


"Jika kita tak berhasil, kita bisa apa?" imbuhnya lagi.


"Apa mas juga gagal?" tanya Hanum lirih dan di angguki Niko.


Akhirnya mereka berdua saling berpelukan atas kegagalan mereka. Menangisi perasaan yang terlalu dalam untuk mereka yang tak jodoh.


"Maafin mas yang gagal Num.."


"Maafin aku juga mas, aku benar-benar sudah berusaha keras membunuh perasaan ini, tapi ini sangat sakit."


Cukup lama mereka menangis dalam dekapan bersama hingga Niko mengurai pelukan menatap dalam ke mata Hanum.


"6 bulan dari sekarang, kalau kamu tidak hamil juga maka mas akan melepas mu Num. Carilah kebahagiaan mu."


"Mas.."


Niko mengangguk. "Mas ikhlas."


...****...


Sore hari di Bukit Asmara Pantai Ngudel.


Kini dirinya telah bebas dari tipu daya mantan istrinya, perceraian mereka langsung ia urus sebelum pergi ke pasar dan bertemu Hanum tadi.


Ia memilih berada di bukit Asmara ini karena katanya tempat ini sangat cocok untuk mereka yang sedang sedih.


Dari Bukit Asmara, panorama Ngudel dapat terlihat dengan lebih luas. Dramatisnya ombak-ombak berkejaran serta sunset yang jingga, seperti mendukung siapa pun untuk menangisi kesedihan di sini.


Katakanlah ia pria pecundang yang sedari awal tak dapat mempertahankan cinta nya. Dan kini ia menyesali semuanya. Hanum telah dimiliki orang lain.


"Aku hidup tapi mati."


Yudha bangkit lalu kembali ke perkemahan. Malam ini ia berencana menjauh dari kehidupan yang membuatnya lara.


Ingin berdamai dengan masa lalu adalah pilihan tepat saat ini. Biarlah waktu yang menjawab semuanya, jika berjodoh pasti akan di persatukan.


Tetapi jika tidak, maka dengan berat hati harus menerima jika dirinya hanya sebagai tempat persinggahan.


...****...


"Assalamualaikum bunda.." pekik Gadhing.


"Kum nda.." salam Daffa dan Daffi bergantian.


Fadia yang baru saja selesai berpakaian langsung keluar terburu-buru sehingga mukenah lah yang ia pakai sebagai penutup kepala. Pasalnya ia lupa meletak hijab nya entah dimana.

__ADS_1


Dengan senyum mengembang ia menerima uluran tangan dari ketiga anak laki-laki nya lalu berjongkok agar tingginya tak jauh berbeda dengan anak-anaknya.


"Mas Gadhing sudah mandi?"


"Sudah Bun tadi tempat buyut sama adik-adik juga." sahut Gadhing yang memang paling mengerti keadaan.


Lalu ia tatap anak kembarnya yang sudah berusia 1 tahun 6 bulan itu.


"Apa adik nakal tadi?" tanya Fadia yang memang tahu Daffi lebih aktif dari Daffa.


"Ndak."


"Iya Bun, adik Daffi lari-lari. Nenek sampai capek kejar adik." adu Gadhing.


"Adik Daffi tidak boleh nakal ya.. Sekarang ayah mana?"


Serempak anak-anak fadia menunjuk ke arah dimana Harry berada yang sedang menelepon seseorang.


Yang pasti dari raut wajah Harry tampak jika suaminya itu sedang tidak baik-baik saja.


Fadia menghela nafas sejenak lalu menyuruh anak-anaknya untuk mencuci kaki, tangan, dan menggosok gigi barulah pergi tidur.


Ia memberi waktu sang suami hingga menyelesaikan telepon tersebut. Bukan curiga namun memberikan waktu sang suami.


Cukup lama ia menunggu hingga Harry menghampiri nya. "Assalamualaikum.."


"Waalaikumussalam mas." sahut Fadia lalu mencium punggung tangan Harry.


Dan Harry pun melakukan kebiasaan nya yaitu mencium kening dan mengecup bibir Fadia sekilas.


"Anak-anak kemana?"


"Sudah masuk ke dalam kamar." sahut Fadia lembut.


"Sayang, rumah kita sudah selesai dan aku sudah siapin persiapan syukuran pindahan kita."


Fadia hanya manggut-manggut. Sungguh sekarang Harry benar-benar membuat ia sebagai penghuni rumah dan ia tak pernah mengeluh sedikitpun.


"Bisa buatkan aku teh?"


Fadia menatap lembut ke arah Harry dan mengangguk. "Aku buatin dulu ya.."


Fadia beranjak menuju dapur. Menyalakan kompor untuk memanaskan air karena Harry sangat menyukai teh dengan air yang baru saja mendidih.


Fadia keluar ke teras menemui Harry dengan segelas teh panas di tangan nya. "Ini mas."


"Makasih Yu. Sini."


Fadia berjalan ke arah Harry. Kini ia berada tepat di depan sang suami yang masih duduk.


"Harry.."


"Biarkan begini sebentar, hanya memeluk mu membuat pikiran ku tenang."


Dengan sigap Fadia mengelus kepala Harry dengan sayang. Membiarkan Harry tetap memeluknya dan kepala sang suami berada di perutnya.

__ADS_1


🌸


Bersambung...


__ADS_2