Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
TAMAT


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat. Setahun sudah berlalu. Rumah orang tua Harry tampak ramai,kini. Para warga berbondong-bondong datang mengucapkan selamat atas kelahiran putri pertama Yudha dan Hanum.


Canda tawa dan senyum bahagia terukir jelas disana tetapi tidak dengan Fadia. Mengurung diri lebih baik karena begitulah suasana hatinya.


Peristiwa 5 bulan lalu masih membekas dan tak akan pernah sembuh. Di tatap ketiga anak nya yang setia menemani kesedihan nya.


"Kenapa kalian disini? keluarlah, temani adik Nasya kalian." ujar Fadia sembari mengusap air matanya.


"Bunda, kenapa menangis?" tanya Gadhing tidak menjawab ataupun menuruti titah sang bunda.


Anak laki-laki berusia 8 tahun itu seakan mengerti atas kesediaan sang bunda karena ia juga berada di tempat saat peristiwa naas itu terjadi kepada bundanya, Fadia.


Fadia tersenyum menatap anak sulungnya. "Tidak apa bang, sana abang ke depan. Lihat adik Nasya."


Gadhing menggeleng. "Abang tidak suka adik Nasya. Karena dia buat bunda menangis."


Lagi, air mata itu menetes tanpa di minta. "Jangan begitu bang, tidak boleh. Adik Nasya juga adik kamu yang harus kamu jaga sama seperti Daffa dan Daffi. Nanti kalau sudah besar juga abang harus ajari mengaji."


Gadhing tidak lagi menjawab karena apapun yang di minta Fadia seakan itu seperti perintah padanya. Bukan Fadia mengharuskan Gadhing menurut. Tapi begitulah Gadhing. Ia tidak ingin melihat ibunda sedih.


...****...


18 tahun kemudian.


"Berhentilah mengikuti ku Nasya." sentak Gadhing kepada Nasya yang tak lain adalah sepupunya sendiri. Kini ia berjalan di pekarangan rumah ayah dan bunda nya sedan Nasya setia mengekor


Ahmad Gadhing Athafariz anak laki-laki pertama Fadia Rahayu hasil dari pernikahannya sebelum menikahi Harry Setiawan.


Ia sudah menjadi pria dewasa. Pria yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu sudah berusia 26 tahun dan banyak di gilai wanita termasuk sepupu nya sendiri, Nasya.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan ia menjadi seorang dokter kandungan. Peristiwa dahulu yang mengakibatkan begitu menyakitkan untuk sang bunda lah faktor utama menjadikan nya seperti sekarang.


Kini mereka berdua sudah tahu jika mereka tak memiliki ikatan darah. Dan perasaan Gadhing masih sama seperti saat ia masih berusia 8 tahun.


Kejadian dimana sang bunda tak lagi memiliki semangat hidup untuk beberapa tahun. Amarah dan dendam terpendam terus menggebu di hati hingga sampai sekarang ini.


Tidak ada yang tahu jika ia begitu membenci Nasya. Bahkan gadis itu selalu mengekor padanya tak pernah ada rasa perduli sedikit pun.


Setiap kali Nasya mengajaknya bicara selalu ia jawab dengan ketus. Sering sekali bunda Fadia menegur dan memberi pengertian padanya agar memaafkan kejadian yang lalu.


Bunda Fadia telah ikhlas tetapi tidak untuknya.


"Assalamualaikum, bunda." ucap Gadhing tepat berada di depan pintu utama rumah ayah Harry.


Pintu utama terbuka.


"Waalaikumussalam, abang kenapa baru sampai?" wajah bunda Fadia terlihat cemberut membuat Gadhing terkekeh.


"Maaf Bun."


"Assalamualaikum bunda cantik." sapa Nasya ramah sembari menyembulkan kepala melihat ke arah bunda Fadia karena tubuh mungilnya tertutupi oleh tubuh tinggi tegap Gadhing.


"Waalaikumussalam sayang. Bunda kira tidak ada kamu. Ayo masuk-masuk." sahut bunda Fadia tak kalah tamah bahkan sampai mengabaikan anak sulung nya yang baru tiba dari Jakarta.


Nasyama Rania Khadijah memiliki sifat yang ceria, sedikit ceroboh, dan terkadang mengeluh. Tetapi tidak ada yang tahu bagaimana keadaan hatinya.


Hatinya terus merasakan perih bila Gadhing selalu bersikap sombong dan dingin. Tidak ada yang tahu bila ia sudah jatuh cinta kepada sepupunya sendiri. Tapi semua rasa cintanya tertutupi dengan sifat nya itu.


"Abang, bukain tutup botol ini dong." pinta Nasya menyerahkan sebotol minuman rasa teh kepada Gadhing yang tengah sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


Gadhing meletakkan ponsel di meja. Ia berdecak tetapi tetap menerima botol itu lalu membuka nya.


Nasya sendiri tersenyum bahagia karena di balik sifat sombong dan dingin Gadhing tetapi perhatian padanya.


"Makasih, bang." Nasya berlalu kembali masuk kamar Daffi di lantai dua.


Bunda Fadia memerhatikan adegan tadi turut tersenyum, setidaknya anak sulung nya itu benar-benar tidak membenci Nasya karena kejadian 18 tahun lalu.


🌸


TAMAT


*Jodoh KEDUA benar-benar tamat ya gaes ☺️


18 tahun kemudian itu cuplikan untuk sekuel Jodoh KEDUA yang menceritakan kisah cinta anak sulung Fadia dengan Nasya (anak semata wayang Yudha dan Hanum.)


Pertama-tama emak ucapin banyak terimakasih untuk kalian readers kesayangan emak.


Terima kasih tetap setia tunggu novel emak. Pantengin novel emak yang lain ya..


- PENYESALAN DINDA


- Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA*


*Mohon maaf kalau masih banyak typo bertebaran di mana-mana dan tanda baca belum sempurna.


Emak masih penulis pemula yang masih urakan tulisan nya dimana-mana.


Emak sayang kalian ❤️❤️*

__ADS_1


__ADS_2