
"Mas.. Sudah ah. Ini sudah terlalu banyak." rengek Fadia karena Harry terus saja menyuapi nya.
"Kamu harus banyak makan sayang.. Ingat kamu itu makan di bagi 3." Harry berkilah. Padahal ia tahu makanan yang sudah masuk ke mulut Fadia cukup banyak.
"Aku tidak mau lagi. Perutku mau meledak kalau gini." tolak Fadia menutup mulut dengan tangan.
Harry menghela nafas. "Baiklah, kamu tidak apa aku tinggal sebentar? Ini sudah jam 1, aku harus balik sebentar jemput Gadhing dan mengambil berkas-berkas yang di butuhkan untuk rawat inap dan buat laporan ke kantor kalau kamu opname."
Fadia mengangguk. "Iya, baju ganti kami jangan lupa ya.. Kartu Keluarga sama Kartu kesehatan ada di laci lemari aku ya. Kunci lemari ada di laci nakas." jawab Fadia.
"ATM kamu letak dimana Yu?" tanya Harry karena ia akan mengambil uang tunai.
"Di laci juga." jawab Fadia.
Harry mengambil obat di atas nakas membuka bungkusnya lalu di sodorkan langsung ke bibir Fadia dan membantunya minum dari gelas yang ia pegang.
"Aku tinggal sebentar ya.." pamit Harry dengan suara tak rela.
"Iya, aku mau tidur saja. Mas hati-hati." ucapnya tersenyum manis sembari mencium punggung tangan Harry.
Harry mengecup kening Fadia dan mencium bibir Fadia dan melu mat nya sebentar. Dipandangi wajah sang istri dengan penuh cinta. Sungguh ia merasa tak rela meninggalkan sang istri sendirian.
"Kenapa masih disini?" tanya Fadia heran menatap Harry.
"Aku tidak rela meninggalkan mu sendiri dan aku takut." jawab Harry jujur.
"Takut apa?"
"Takut matahari di luar Yu, Dia lagi bersinar terang di sana." keluh Harry dengan wajah masam nya.
Harry benar-benar takut tiap kali cuaca berubah menjadi panas. Selama mengalami kehamilan simpatik, Harry sangat takut dengan sinar matahari.
Fadia tergelak melihat wajah Harry. Ia merasa lucu melihat Harry yang sedang mengeluh.
"Kok kamu ketawa sih.." Harry jengkel melihat Fadia tergelak dan itu sukses membuat Fadia semakin terbahak-bahak.
"Kamu lucu mas.."
"Kenapa sekarang kamu buat aku jengkel Yu? kamu sudah tidak sayang aku lagi?" Harry menatap Fadia serius.
"Eh.." Fadia membalas tatapan Harry langsung menelan saliva kasarnya.
Hajab aku lupa kalau suami ku sekarang sensitif kali sama ku. Aku harus apa?
Harry memutuskan tatapan nya lebih dulu. Lalu ia memakai maskernya kembali yang ia letakkan di atas nakas tersebut.
"Eh.. Mau kemana sayang?" Fadia mendadak panik.
__ADS_1
"Ya mau urus berkas-berkas kamu lah." jawab Harry jutek.
Hajab aku. Kenapa jutek begitu.
"Mas.. Tolong ambilkan minum lagi dong." pinta Fadia. Bukan maksud karena haus, namun ia ingin berbaikan dengan Harry.
Dengan sigap Harry mengambilkan Fadia minum dari botol kemasan yang ia beli tadi. Walau hatinya sedang merajuk tapi sikap nya tak boleh acuh pada Fadia.
Fadia mencekal pergelangan tangan Harry hendak melangkah menuju pintu. Kini Harry berbalik ke arah Fadia kembali dan menatap Fadia dengan tatapan tak dimengerti oleh nya.
"Jangan ngambek mas."
Harry bergeming masih dengan tatapan yang sama dan itu sukses membuat Fadia tidak nyaman.
"Peeluuk.." rengek Fadia.
Lagi-lagi Harry melakukan apa yang diinginkan Fadia. Ia mendongak menatap Harry. Sungguh ia merasa yang tengah hamil adalah suaminya.
Fadia memberi isyarat pada Harry untuk menunduk ke arahnya setelah pelukan itu usai.
*Cup
Cup*
"Ini juga." titah Harry menunjuk bibir nya.
"Hei.. Ayolah.. Jangan saat aku sedang tidur baru kamu mau mencium ku Yu.."
Fadia menatap Harry. Ini sangat memalukan, ternyata kebiasaan Fadia mencuri ciuman di bibir Harry saat tertidur ketahuan sang suami.
Cup
"Sudah sana pergi iihh.." Ingin rasanya Fadia menghilang saat itu juga.
Harry tergelak lalu mengecup kening Fadia setelah itu memakai masker nya kembali.
"Aku pergi dulu, kamu istirahat ya.."
Fadia hanya mengangguk dan menerima pelukan dari Harry sebelum sang suami benar-benar pergi.
Ia pun memilih baringkan tubuhnya karena merasa tubuhnya kini mulai merasa pegal-pegal.
...****...
Harry tersenyum di balik masker sepanjang perjalanan nya. Tidak menyangka ia akan menjadi sebenar-benarnya seorang ayah.
Akan memiliki 3 orang anak?
__ADS_1
Harry menggeleng masih tidak percaya telah di beri amanah pada Sang Pencipta begitu banyak. Tujuan hidupnya kini bertambah lengkap. Dan semoga kedua calon anak nya menjadi anak yang penurut, sama seperti Gadhing.
Ya.. Gadhing adalah anak pertamanya.
Ini bukan seperti di novel-novel yang sering merebut kan hak asuh anak. Pada kenyataannya, sangat banyak seorang ayah akan melupakan anaknya ketika hubungan pernikahan mereka telah berakhir.
Tapi ia bersyukur dan terima kasih pada mantan suami sang istri. Jika dia tidak mengusir Fadia, maka ia tidak akan bertemu hingga menikah seperti ini.
Memikirkan sang istri rasanya ia tidak ingin jauh dari istrinya. Belum lagi ia akan bertemu dengan orang-orang yang menggunakan parfum beraneka ragam bau nya dan itu sukses membuat ia mual dan muntah-muntah.
Harry menghentikan sepeda motornya tepat di depan rumah jabatan yang kini menjadi tempat hunian keluarga kecilnya.
Ia buka pintunya dengan kunci serep yang selalu ia bawa lalu ia menuju kamar membuka lemari Fadia.
Mengambil keperluan Fadia dan juga Gadhing. Ia bisa saja membuat Fadia dirawat dengan biaya pribadi, namun ia juga berpikir untuk memberi contoh pada karyawan biasa yang juga memiliki kartu sehat dari pemerintah.
Ia tidak ingin di nilai mentang-mentang atasan gaji besar tidak mau memakai kartu sehat dari pemerintah.
Setelah selesai menyiapkan keperluan istri dan anak nya, ia membawa berkas-berkas yang di perlukan Fadia ke kantornya, dimana ia akan meminta staf untuk membuat pernyataan bahwa istrinya telah di rawat.
Urusan di kantor telah selesai dan ia pun bergegas ke rumah Seto untuk menjemput Gadhing.
"Assalamualaikum.." ucapnya.
"Waalaikumussalam. Eh pak Harry.. Masuk pak." jawab Seto.
Harry mengangguk dan membuka maskernya. Beruntung ini bukan lah waktu para istri memasak jadi ia tidak perlu khawatir walau rasa mual di perut nya mulai menjadi karena tidak sengaja mencium bau parfum Seto.
"Ayah..." seru Gadhing baru munculkan diri.
Harry tersenyum walau dalam hati berharap Gadhing tidak bau keringat saat mendekat kearahnya. Terkadang ia jengkel mengapa hanya tubuh Fadia yang menjadi satu-satunya pengobat segala lara dari kehamilan simpatik ini.
"Makasih banyak pak Seto sudah mau kami repot kan." kata Harry tulus.
"Tidak apa pak. Gadhing juga sering main kesini karena ada dedek bayi." balas Seto karena benar adanya. Semenjak Gadhing ikut tinggal di rumah jabatan, ia akan bermain bersama anak dari pak Seto.
"Bagaimana keadaan ibu pak?" tanya Seto tulus.
Tapi tidak dengan Harry, ia tidak suka pria lain bertanya tentang istrinya. Ia cemburu akan hal itu.
Dasar bucin.
"Istri saya baik pak. Ada luka lecet di bagian tangan dan kepala tapi tidak parah. Dan istri saya hamil." jawab Harry.
"Waahh.. Selamat ya pak.. Tokcer bapak."
🌸
__ADS_1
Bersambung...