Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Syar'i


__ADS_3

Sore hari nya setelah pulang kerja Hanum menumpang salah satu rekan kerja nya menuju salah satu bank ternama dimana Niko bekerja. Tadi sebelum pulang kerja Niko mengabari terlambat menjemput jadi ia berinisiatif mendatangi Niko saja.


"Makasih ya May.." ucapnya pada rekan kerja nya bernama Maya.


"Oke siap. Aku duluan ya.."


Senyuman nya menyurut saat melihat Niko tengah berbincang pada seorang wanita memakai pakaian batik dan rok span pendek sedang ia memakai rok plisket panjang motif warna dasar Mocca, baju kemeja putih, dan pasmina senada dengan warna dasar rok nya.


Aku insecure.


"Mas.." panggil Hanum setelah berada dekat dengan Niko dan seorang wanita.


"Loh Num.. Sama siapa kesini?" tanya Niko sedikit terkejut dengan kehadiran Hanum.


"Jalan kaki." sahut Hanum ngasal dengan bibir mengerucut.


"Ya ampun.. Kenapa jalan kaki? kan mas sudah bilang tunggu sebentar, mas lagi nunggu teman yang shif sore. Kalau kaki mu terluka gimana? kamu tahu kan mas Harry mu cerewet nya minta ampun.." cerca Niko khawatir.


Pegawai bank yang bersama Niko tadi tertawa. "Ya ampun bang.. cerewet kali rupanya kau sama cewek mu."


Niko nyengir menggaruk tengkuk leher yang tak gatal. "Iya, payah ini.. Anak emas, bisa di gorok leher abang kalau sampai lecet."


Pegawai itu tertawa. "Bisa saja kau bang, ya sudah jangan lupa datang malam Minggu ya bawa juga kakak kita ini."


"Pasti."


Melihat teman kerja nya sudah pergi, Niko mendekati Hanum yang masih saja cemberut. Ia tahu Hanum tengah merajuk padanya.


"Kenapa hem?"


"Siapa itu?"


"Dini teman kerja mas." sahut Niko sembari tersenyum.


Melihat Niko tersenyum membuat Hanum semakin jengkel. Dan hal itu membuat Niko tertawa.


"Iihh mas nyebelin."


"Tak perlu takut, Dini ngundang kita ke acara pertunangan nya."


Hanum salah tingkah sudah salah paham dan cemburu tadi. Niko melihat itupun tertawa lalu mengajak Hanum pulang.

__ADS_1


Seharusnya yang kamu cemburuin adalah saat aku berdekatan dengan Fadia Num. Sungguh sangat sulit aku mengendalikan diri kalau sudah berada di dekatnya. Teruslah bersama ku, maaf. Mencintai Fadia lebih dari sepuluh tahun itu sangat sulit untuk menghilangkan perasaan ini.


"Langsung pulang atau kemana dulu ni?" tawar Niko.


"Aku pengen beli yang lagi viral itu loh mas.."


"Yang mana?"


"Itu warung nya dekat lapangan. Ayo kesana kita.."


Niko memakaikan helm pada Hanum begitu juga dirinya. Tak jauh dari tempatnya bekerja mereka telah sampai di lapangan. Tepatnya warung yang di maksud Hanum.


"Ayo mas.."


Niko menggeleng karena perutnya sudah terasa mual walau jarak antara warung cukup jauh.


"Kenapa?"


"Kamu duluan saja Num."


Hanum tak menggubris nya langsung menarik tangan Niko. Ada yang aneh rasa Hanum tapi ia tak perduli.


Saat berada di warung bertuliskan 'ES CENDOL DURIAN MAKNYOSS'. Hanum memesan dua porsi. Baru mendudukkan diri Niko sudah berlari menjauh dari warung itu dan Hanum menjadi panik ikut lari.


"Mas pusing cium bau durian Num.. Hoowekk.."


"Ya ampun kenapa tak bilang?" Hanum terus memijit tengkuk leher Niko.


"Kak ini pesanan nya.." ucap sang penjual mendatangi Hanum dan Niko.


"Oh iya ini uang nya.. Makasih ya mbak."


...****...


"Assalamualaikum.." ucap Harry di depan pintu rumah nya. Ia baru saja pulang kerja sore itu.


Ia tersenyum melihat penampilan Fadia berbeda dari biasanya. "Sayang.. Mau kemana?"


"Siapa?" alih-alih ingin menjawab malah bertanya balik.


"Lah balik nanyak. Ya kamu Yu mau kemana? apa dari pengajian?" tanya Harry lembut karena sebenarnya ia sangat suka melihat Fadia mengenakan gamis dan hijab seperti saat ini.

__ADS_1


Fadia tersenyum. "Sini sayang duduk." bukan nya menjawab, Fadia menuntun Harry untuk duduk di sofa sedang si kembar berada di troli mereka masing-masing.


Fadia terus tersenyum menggenggam kedua tangan Harry. Di tatap mata sang suami yang penuh tanda tanya.


"Mas.. Aku tahu ini sudah sangat terlambat. Aku tahu begitu banyak dosa dari sebelum bertemu dengan mu hingga kini kita di persatukan. Aku tahu selama kita menikah, aku bukanlah istri yang baik untuk mu. Aku masih sering membangkang apa katamu. Aku masih sering malas-malasan saat kamu menyuruhku sholat. Aku masih sering bohong saat kamu pergi ke mesjid untuk sholat sedang aku tidak jadi sholat di rumah."


Harry melotot tak percaya mendengar ucapan Fadia namun ia tersenyum karena ada rasa bangga mengetahui sang istri berani mengaku salah padanya. Ia tetap memilih diam mendengarkan istrinya.


"Tolong maafin aku mas dan jangan marah.."


Harry tersenyum. "Fadia Rahayu.."


Fadia menelan saliva susah saat Harry menyebut nama lengkapnya. "Tuh kan marah."


"Tidak. Aku justru senang kamu mengakui kesalahan mu."


Fadia tersenyum bahagia. "Mas.. Tolong ridhoi aku.. Tolong bimbing aku. Ajaklah aku menggapai surga Allah. Izinkan aku mulai saat ini menutup aurat ku di depan orang yang bukan mahram ku. Ajari aku ilmu agamaku, ajari aku bagaimana membaca Alqur'an dengan ilmu tajwid yang benar. Dan mari kita didik anak-anak kita dengan ilmu agama juga beradab."


Akhirnya keinginan awal menikahi Fadia terkabulkan. Ia teringat alasan awal menikahi Fadia saat ayahnya bertanya alasan ia menikahi Fadia selain karena cinta.


Harry tersenyum bahagia, di dekatnya tubuh sang istri. Di kecup pucuk kepala Fadia yang terbungkus hijab itu.


"Ayu.. Aku sungguh mencintaimu. Terimakasih telah memberi kebahagiaan ini di hidupku. Dari dulu memang keinginan ku melihat mu pakai hijab syar'i kayak gini. Tapi aku tak ingin memaksa mu."


Di pegang kedua bahu Fadia ditatapnya wanita yang menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya. Wajahnya kian bertambah cantik dengan balutan hijab syar'i berwarna hitam.


"Kamu cantik. Bukan.. Bukan.. Tapi sangat cantik." Puji Harry jujur.


Wajah Fadia bersemu merah. Hingga kini pujian Harry masih membuatnya tersipu malu.


"Tapi ingat ya.. Pakai pakaian ini ketika di luar rumah, jangan lupa kaos kaki nya. Tapi kalau di kamar kamu tetap pakai baju dinas kayak biasa. Apalagi yang warna merah yang kamu pakai tadi malam." Harry mengerling kan mata pada Fadia membuat istrinya tertawa.


"Dasar kamu ya.."


Harry tak menjawab memilih menghampiri kedua anak kembar nya. Ia terus menghujam ciuman di pipi anak kembarnya hingga terbangun.


"Anak ayah akhirnya bangun juga.. Kalau gitu ayah mandi dulu."


Fadia menganga mendengarnya. "Dasar ya.. Sudah bangunin malah di tinggalin gitu." gerutunya.


Harry tertawa namun tetap berjalan masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Ia paling suka melihat Fadia mengomel dengan pipinya yang mulai mengembul.

__ADS_1


🌸


Bersambung..


__ADS_2