
Beberapa hari telah terlewati masih dengan drama Harry yang mual muntah-muntah dan semakin sensitif terhadapnya. Harry lebih suka makan dari bekas piring nya dan meminta hal-hal aneh.
Kemarin malam tiba-tiba Harry meminta rujak tumbuk babal (nangka muda). Fadia sempat menolak dan menganjurkan besok saja tapi membuat Harry tersinggung.
Harry berubah dingin dan berkata. "Aku tahu kamu nolak karena sekarang aku penyakitan kan?"
Fadia hanya bisa menggelengkan kepala lalu menghela nafas panjang. "Ya sudah aku buatin, kamu ambil babal nya sama jambu biji biar aku buat bumbunya ya.."
"Dan satu lagi, besok siap penilaian rumah pondok kita periksa ke dokter ya.." sambungnya lagi.
Benar saja, ucapan Fadia membuat senyuman yang ia rindukan merekah dengan mata berbinar. "Oke aku ke belakang dulu ambil babal sama jambu biji nya."
"Iya, hati-hati kalau manjat."
Fadia pun menuju dapur untuk menyediakan bahan rujak tumbuk babal nya. Ia mengambil gula merah, cabai rawit, dan terasi.
"Sayang ini babal sama jambu biji nya tadi aku ambil mangga ini di samping rumah pak Seto."
Mata Fadia terbelalak mendengarnya. "Kamu nyolong Rry?"
Harry terkekeh. "Pengen Yu.. Besok deh aku bilang ke pak Seto."
Fadia hanya mencebik bibir saja.
Pagi harinya saat Fadia hendak membersihkan diri, ia mengambil tabung kecil untuk memeriksa kan apa yang di katakan istri Seto waktu lalu.
Di celupkan 3 alat tes kehamilan sekaligus dari harga termurah hinggal termahal. Namun sebelum hasilnya terlihat, suaminya sudah memanggil namanya.
"Sayang.. Kamu dimana?"
Dengan sigap Fadia menyembunyikan alat itu lebih dulu di pakaian kotor.
"Aku disini..," jawab Fadia seraya membuka pintu kamar mandi.
"Kamu sudah mau berangkat?" tanyanya lagi.
"Iya, kumpul jam setengah 8 sayang. Gadhing biar aku anter ya."
"Kamu sudah tak apa?" tanya Fadia memastikan.
Harry mengangguk tersenyum. "Nanti kalau aku sudah selesai penilaian, kamu datang ke kantor saja ya nunggu di ruangan aku sampai jam makan siang."
"Iya. Kamu hati-hati." ujar Fadia sembari mencium punggung tangan Harry.
Fadia mendapatkan kecupan bertubi-tubi dari Harry. Kebiasaan suaminya yang selalu ia dapat jika akan di tinggal bekerja dan sepulang bekerja.
...****...
Sudah hampir dua Minggu ini Elsa memperhatikan kesehatan Harry menurun. Ingin sekali ia memberikan perhatian pada Harry. Sedikit pijatan misalnya.
Ia bahkan geram memikirkan Fadia membiarkan Harry tetap mengerjakan pekerjaan rumah padahal Harry sedang sakit.
__ADS_1
Ya.. Elsa pernah melihat Harry sedang mengepel teras rumah jabatan Harry saat sore. Dan Elsa juga melihat Fadia duduk di samping rumah Harry.
Fadia sudah melarang Harry untuk membantu nya mengerjakan pekerjaan rumah, tapi Harry selalu berkata "aku baik-baik saja kalau di rumah dekat sama kamu."
Dan benar, di rumah Harry akan muntah-muntah jika Fadia sedang memasak dan Gadhing yang bau keringat. Selain itu ia hanya merasa lemas dan sensitif dengan Fadia.
Elsa melihat Harry baru saja datang ke kantor, ia merasa hari ini adalah keberuntungan nya karena di pekerjakan untuk menjadi tukang bersih-bersih kantor.
Ia melihat Harry ikut mengobrol walau duduk menyendiri tidak ikut berkumpul dengan atasan nya yang lain. Ia pun berinisiatif membuatkan teh manis hangat untuk semuanya. Padahal niat nya hanya membuatkan Harry.
Ia meletakkan satu persatu gelas berisikan teh manis hangat di meja tersebut.
"Silahkan di minum."
Serempak mereka mengucapkan kata terima kasih. Sisa satu gelas yang akan ia berikan pada Harry. Tapi sayang, Harry sudah masuk ke ruangan nya.
Ia pun tersenyum menyeringai. Kesempatan bagus untuk bisa berduaan dengan Harry tanpa menjadi obat nyamuk lagi.
...****...
Tok..tok..tok..
"Masuk."
Harry yang sedang berbalas pesan dengan sang istri terpaksa mengalihkan pandangan nya menatap pintu siapa yang mengetuk pintu.
Ia berdecak setelah mengetahui siapa yang masuk.
"Panggil saya Pak karena saya atasan mu. Dan bawa pergi teh itu." jawab Harry tanpa melihat lawan bicara nya.
"Aku ini sahabat istri mu."
Harry hanya mencebik bibir saja.
"Aku katakan bawa pergi teh itu." karya Harry lantang.
"Memang nya kenapa dengan teh ini? aku hanya membuatkan mu teh."
"Aku hanya meminum teh dari buatan istriku." Harry mulai jengah pada wanita tidak tahu malu ini.
"Kenapa? apa yang kurang dari ku Harry sampai kamu tidak melirik ku sedikitpun? apa yang sudah di kasih Fadia? tubuh nya? padahal tubuhku lebih menarik dari nya karena aku masih gadis."
Harry mulai tersulut emosi, rahangnya mengeras bahkan buku-buku jemari Harry memutih karena mendengarnya.
"Jangan samakan istriku dengan perempuan murahan seperti mu." tegas Harry karena ia tidak ingin membuat keributan.
"Kenapa? apa Fadia sudah menggerakkan tubuhnya padamu? bahkan aku bisa memberi lebih dari Fadia."
Harry yang mendengar itu lantas tertawa menakutkan. "Wanita terhormat tidak akan menawarkan dirinya untuk seorang laki-laki apa lagi yang sudah beristri. Aku kasihan padamu karena kau sudah dicicipi laki-laki yang belum tentu jadi suami mu. Dan sayangnya laki-laki itu pun tidak punya perasaan padamu." Untuk pertama kalinya Harry berkata kasar pada wanita.
Tampak mata Elsa sudah berkaca-kaca mendengar apa yang di katakan Harry.
__ADS_1
"Kau menyakiti ku."
"Dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti istriku. Ku peringatkan, jangan lagi temui istriku. Kau tak pantas disebut sebagai sahabat atau teman sekalipun."
...****...
Dirumah jabatan dimana Harry dan Fadia tinggal. Di dalam kamar mandi Fadia menangis haru melihat 3 alat tes kehamilan menggambarkan 2 garis merah.
Sangat jelas.
"Aku hamil.." ucapnya lirih dengan air mata terus mengalir membasahi pipi.
"Aku hamil anak sahabat dunia maya ku.." Fadia terkekeh membayangkan bagaimana perkenalan nya dengan Harry dari SMP hingga sekarang.
Ia menghapus air matanya dan bersiap ke kantor suaminya untuk memberikan kejutan pada Harry.
Ia mengingat Harry tidak pernah sekalipun menyinggung masalah kehamilan pada Fadia. Entah tidak terlalu memikirkan masalah itu atau lupa. Karena ia juga tidak berpikir akan hamil secepat ini.
Sudah bersiap dan ia mengendarai sepeda motor sangat perlahan karena harus ada yang ia lindungi.
Buah cinta ia dan Harry.
"Loh.. Suami saya mana ya pak Seto?" tanya Fadia saat para staf akan memasuki mobil perusahaan tapi ia tidak melihat suaminya.
"Pak Harry ada di dalam Bu, katanya akan nyusul naik motor saja."
"Oh iya, makasih ya pak." Fadia pamit dan memasuki kantor Harry. Berjalan dengan menggenggam kotak kecil berisi 3 alat tes kehamilan miliknya.
Ia melambatkan langkahnya kala mendengar suara suaminya sedang marah-marah dan berkata kasar. Bahkan ia baru pertama kalinya mendengar Harry berbicara kasar.
Deg..
*Elsa?
apa ini disebut menyatakan cinta?
Aku mendengarnya*..
Fadia berbalik arah tanpa sadar telah menjatuhkan kotak kecil yang ia genggam. Melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang menuju Kabupaten Kota.
Selama di perjalanan, Pandangan nya tetap fokus ke depan tapi pikiran nya melayang. Rasa kecewa begitu mendalam pada Elsa.
Tin..Tin...Ttiinnn....
*Brraakk...
🌸*
***Bersambung..
Selamat weekend sayang2 aku***..
__ADS_1