Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Gara-gara sipembuat kue


__ADS_3

"Ayu.. Boleh ibu mengatakan sesuatu?" tanya ibu Harry berada di dapur bersama Fadia sedang menyiapkan makan siang.


"Boleh Bu."


Kini ibu mertua dan menantu itu sedang berada di kamar yang di tempati ibu Harry selama menginap di rumah jabatan.


"Maaf sebelumnya kamu jangan tersinggung ya.."


Fadia menjadi cemas dengan ucapan ibu mertuanya itu. Ia pun hanya mengangguk.


"Kamu sudah tahu belum kalau sebelum ibu di nikahi bapak, ibu pernah menikah juga."


Fadia tersentak. "Dulu ibu juga sama kayak aku Bu?"


Ibu Harry mengangguk. "Ya. Tapi bedanya ibu belum punya anak. Dulu ibu bolak-balik menolak bapakmu. Kamu pasti tahu kan kita menolak laki-laki bujangan karena apa?"


Fadia mengangguk. "Ya karena status kita yang janda." Fadia tersenyum getir.


"Kamu benar. Banyak stigma-stigma negatif tentang kita yang berstatus janda. Apalagi sampai ada laki-laki bertandang kerumah kita. Pasti akan menjadi gosip terhangat."


"Ya. Jangankan bertandang Bu. Ada laki-laki numpang tanya alamat saja sudah jadi bahan gosip." celetuk Fadia karena hal itu pernah dialaminya.


"Benar yang kamu bilang." jawab ibu Harry.


"Yu.. Mungkin jalan pikiran kita pada suami kita akan banyak sekali perbedaan. Apalagi tentang kecemburuan. Mungkin kita akan lebih mengerti jika nanti ada perempuan lain mendekati suami kita dan kita tidak mempermasalahkan itu selagi suami kita tahu batasan dan si perempuan tidak melewati batas. Tapi kamu harus ingat, suami kita adalah bujangan yang ingin di cemburuin. Apa kamu pernah merasa cemburu pada Harry? lalu reaksinya bagaimana?" sambung ibu Harry.


Fadia diam mencerna omongan dari mertuanya itu. Dan ia teringat saat perlombaan 17 Agustus saat ia mengatakan cemburu karena Harry terus saja berdekatan dengan gadis-gadis desa dan hasilnya Harry tampak sangat senang. Dan ia berpikir waktu Sundari mengganggu hubungan nya. Ia tidak cemburu, hanya kecewa dan reaksi Harry sangat takut waktu itu.


"Harry sangat senang Bu kalau aku cemburu walau aku tambah kesal." jawab Fadia.


Ibu Harry tersenyum. "Tidak apa nak. Dia senang karena merasa kamu sangat sayang pada nya."


Fadia mengangguk mengerti dan ia mengerti apa yang di maksud ibu mertuanya. Ia tidak ingin terlihat terlalu cemburu karena di pernikahan nya dulu, saat ia protes dan cemburu pada mantan suaminya akan berakhir dengan bentakan bahkan kekerasan sering menghampiri nya. Maka saat bersama Harry ia mencoba mengontrol hatinya karena rasa takut untuk terulang kisah lama itu masih ada.


Tapi setelah mendengar ibu mertua nya, ia merasa lebih tenang. Bohong jika ia tidak cemburu. Setiap hari suaminya itu bekerja di kelilingi karyawati yang tidak sedikit sering mencuri-curi pandang pada Harry.


"Jika cemburu bilang saja pada Harry ya Yu. Tidak apa jika kamu masih trauma karena masa lalu. Tapi ibu jamin suami mu walau kaku bin datar itu pasti tidak akan membentak ataupun melakukan kekerasan."

__ADS_1


Ibu Harry tersenyum sembari menggenggam tangan Fadia memberi kekuatan. Sungguh hal ini sudah sangat lama tidak pernah ia alami. Tanpa terasa air mata Fadia luruh.


Ibu Harry mengerti. Ia pun memeluk Fadia, mengusap punggung Fadia yang bergetar karena Fadia sudah terisak dalam pelukan ibu Harry.


****


"Bagaimana kost-kostan sama rumah sewa mu Harry?" tanya sang kakek.


Saat ini Kakek, bapak, dan Harry sedang menikmati kue bolu buatan Fadia dan teh manis hangat di dapur.


Sedangkan Nenek, Hanum, dan Gadhing sedang berada di samping rumah duduk di bawah pohon rambutan. Kebetulan pohon rambutan itu sedang berbuah dan sudah mulai memerah menjadikan ketiganya semangat untuk mengambil dan memakan nya saat itu juga.


"Kost-kostan penuh, rumah sewa 1 kosong dan yang 1 nya sudah terisi kek." jawab Harry.


Harry memang memiliki bisnis properti. Ia memiliki 3 rumah. 1 rumah berlantai dua yang sengaja ia buat kost-kostan menjadi 8 kamar. 3 kamar di lantai dasar dengan ruang tamu bersatu dengan ruang tv, dapur dan ada satu kamar mandi. Sedangkan di lantai dua ada 5 kamar. Dua diantaranya memiliki kamar mandi di dalamnya yang pasti biaya nya lebih mahal dari yang lain.


Mau tahu dari mana modal bisnis nya? tentu dari sang kakek juragan sapi. Dulu saat Harry tamat sekolah SMA sebelum kuliah di IPB, ia di beri modal dari kakek untuk meneruskan usaha menjadi juragan sapi. Tapi ia berpikir dua kali dan mengikuti test beasiswa di IPB ternyata di terima.


Oleh karena itu ia memilih membangun rumah berlantai dua tanpa tujuan apapun. Tapi setelah berpikir panjang akhirnya ia membangun rumah berlantai dua itu menjadi kost-kostan. Dan penghasilan dari kost-kostan ia bangun dua rumah lagi dengan tipe 36 seperti rumah Fadia.


"1 rumah itu sengaja ku kosongkan untuk keluarga istriku besok kek saat tinggal disana selama acara ngunduh mantu." sambung nya lagi.


Harry menggeleng. "Belum pak. Gaji ku saja dia tidak tahu berapa." Harry terkekeh. Ah ia jadi merindukan istrinya itu.


Harry pun beranjak.


"Mau kemana?" tanya kakek.


"Cari istriku kek.."


"Istrimu sedang bersama ibu. Biarlah dia dengan ibu sebentar." ujar bapak Harry.


Harry tidak menjawab. Ia tetap melangkah mencari istrinya.


****


"Sayang.. Kamu kenapa?" Harry terkejut dan khawatir saat melihat istrinya menangis dalam pelukan ibunya.

__ADS_1


Harry meraih tubuh Fadia dan mendekapnya penuh kasih sayang. Di kecup nya pucuk kepala Fadia berkali-kali


"Kamu kenapa? Apa ibu membuat mu menangis?" tanya Harry yang masih khawatir.


*Plak..


Plak*..


Dua pukulan mendarat di lengan dan dada Harry. Siapa lagi pelakunya kalau bukan ibu dan Fadia.


"Sembarangan kalau ngomong menantu ibu mengeluhkan kamu yang nyebelin. Sudahlah ibu mau cari bapak." gerutu sang ibu dan membalas perkataan sang anak.


Selepas ibu pergi dan Fadia mulai tenang yang masih dalam dekapan Harry belum ada yang memulai berbicara. Keduanya menikmati dekapan itu.


"Kamu kenapa?"


"Aku cemburu tahu." ucap Fadia pura-pura merajuk dan memanyunkan bibirnya.


Harry mengerutkan keningnya. "Cemburu bagaimana? aku dari tadi di dapur sama kakek dan bapak menikmati kue buatan mu Yu."


"Ya itu. Kamu cuma nikmati kue nya saja. Sama yang buat tidak." Entah dari mana akal gila itu melintas di otak Fadia.


Harry terdiam mencerna ucapan Fadia. Ia pun tersenyum mengerti maksud dari ucapan Fadia.


"Jadi kamu merindukan aku hm?" tanya Harry semakin mengeratkan pelukannya.


Fadia gelagapan saat ia mendongak menatap mata Harry yang sudah memandangnya penuh damba serta senyum nakal itu. Aahh ia terjebak oleh ucapan nya sendiri.


"Harry.. Ini di kamar ibu."


"Ya sudah ke kamar kita saja." jawab Harry cepat.


Fadia mendadak gugup. Tidak boleh terjadi waktu panjang itu di siang bolong dan banyak orang di rumah suaminya itu.


Ini karena mu sipembuat kue. Dan sialnya aku yang buat kue itu.


"Kamu yang memancing ku Yu. Sekarang tanggung jawab."

__ADS_1


"Eh.."


__ADS_2