Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Cintamu terlalu sempurna


__ADS_3

Fadia masih ikut bergabung dengan sanak saudara Elsa yang belum pulang. Sedangkan sang pengantin sudah masuk kamar Elsa.


"Ayu.." panggil ibu Ricky.


Fadia menoleh melihat ibu Ricky tengah tersenyum lalu ia bangkit menghampiri ibu Ricky.


"Mana Harry Yu?" tanya ibu Ricky.


Fadia dan ibu Ricky menjadi akrab dari pertama datang dan menginap di rumahnya. Sifat nya yang ramah, lemah lembut, dan sopan dalam bertutur kata membuat siapa pun akan cepat akrab dengan Fadia.


"Mas Harry di depan sama Yudha Bu. Ibu butuh apa?"


Tentu saja Fadia bertanya seperti itu karena tahu ibu Ricky masih canggung dengan keluarga Elsa. Apalagi dari cara bicaranya.


Pasti tahukan bagaimana orang Medan bicara?


"Ibu mau balik ke rumah kamu saja nak. Mau mandi juga."


Fadia mengangguk dan berjalan beriringan keluar rumah Elsa.


Saat mendekati ambang pintu, sayup-sayup ia mendengar gerutuan dari suaminya pada seseorang.


"Aku harus membuat kakak iparmu itu istirahat total. Terkadang de'ene iku merengkel pengen tak iket neng omah." gerutu Harry memikirkan kelakuan Fadia yang kadang tidak memikirkan sedang hamil kembar.


"Siapa yang mau di ikat?" tanyanya setelah sudah di teras.


Ketiga pria tersebut menoleh kearah Fadia lalu Harry membawa Fadia duduk di sebelahnya. "Kamu yang mau aku ikat Yu, kamu sudah berani membantah sekarang. Aku bilang jangan kecapekan."


Fadia mengerutkan dahi. "Yang capek siapa sih mas? aku dari tadi sama ibu sama sepupu-sepupu nya Elsa. Tanya saja sama ibu kalau kamu tidak percaya. Iya kan Bu?" Fadia mencari pembelaan ke ibu Ricky dengan mengedip-ngedipkan mata.


Hajab aku kalau ketahuan Harry. Astaga.. Kenapa dimana tempat selalu saja suamiku ini bagasinya aku terus sih?


Ibu Ricky menahan tawa mendapati kode mata dari Fadia. "Iya benar Harr.. Jangan terlalu di kekang istrimu, nanti dia bosan akhirnya ninggalin kamu." Ibu Ricky berlalu meninggalkan mereka menuju rumah Fadia ingin membersihkan diri.


Harry mendadak terdiam setelah mendengar ucapan ibu Ricky. Bahkan ia baru menyadari hal itu sekarang.


"Ikut aku sebentar Yu."


"Tunggu mas, aku panggil Gadhing dulu."


"Gadhing biar disini saja Fad." ucap bapak Elsa.


Fadia pun mengangguk. "Kami pamit sebentar ya pak, kak Yudha.."


Belum sempat mereka melangkah, seseorang di depan teras rumah mengucapkan salam.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumussalam.." jawab semua yang mendengar salam.


Bang Rudi..

__ADS_1


Ya, orang itu adalah Rudi. Mengetahui siapa yang datang, Fadia merasakan genggaman Harry menjadi sangat erat. Ia tahu hati Harry sedang tidak baik-baik saja.


"Fad. Ini undangan dari abang. Datang ya.. Titip juga untuk Elsa. Abang pergi dulu. Mari pak.."


...****...


Setibanya di rumah, Harry membuka pintu dengan satu tangan tetap menggenggam tangan Fadia.


Sepanjang jalan Harry hanya diam membisu dan Fadia tidak berani untuk bersuara.


"Duduk." titah Harry dan Fadia langsung duduk.


Harry duduk berhadapan dengan Fadia. Ia masih bungkam karena menetralkan hatinya.


"Fadia Rahayu.. Kamu tahu apa salah mu kali ini?"


Fadia mengangguk dan tertunduk tidak berani menatap Harry.


"Kamu tahu, kebiasaan buruk mu adalah sering mengabaikan orang-orang yang membutuhkan mu saat kamu sedang asyik melakukan sesuatu."


Ya, Harry memutuskan untuk menegur Fadia dan meminta Fadia untuk berubah. Ini demi kebaikan anak-anak nya.


"Maaf." ucap Fadia lirih.


"Aku tidak butuh maaf mu Yu, aku butuh kamu berubah. Selama ini aku membiarkan mu begitu tapi tidak dengan sekarang. Kamu mengabaikan anak-anak kita."


Fadia semakin tertunduk mendengar Harry menegurnya. Untuk pertama kalinya Harry menegurnya dengan tegas.


"Maaf." cicitnya lagi.


"Aku mengijinkan mu bantuin mereka bukan berarti kamu harus ikut andil di semua kegiatan. Buat kue dadar kamu, buat kue lapis kamu, buat kue Bugis juga kamu, dan aku yakin menu lauk dan sayur disana juga kamu ikut bantu kan?"


Harry menatap Fadia yang tengah tertunduk. Ada rasa tidak tega di hati melihat sang istri lesu begitu, tapi memang ia harus melakukan ini.


"Maaf. Jangan marah mas."


Harry menghela nafas mendengar jawaban Fadia. Bahkan istrinya itu tidak menatap ke arah nya.


"Apa kamu marah kalau aku begini padamu Yu?" tanya Harry karena ia masih kepikiran dengan perkataan ibu Ricky.


Fadia menggeleng.


"Apa alasan mu tidak marah?"


Fadia memberanikan diri menatap Harry. Dan Harry terkejut melihat Fadia menangis. Di dekati sang istri lalu ia usap air mata itu.


"Jangan menangis. Ku mohon.." pinta Harry menyesali perbuatannya tadi.


Fadia menggeleng memegang tangan Harry berada di pipinya.


"Aku tak apa. Kamu mau tahu kenapa aku tidak marah? Aku sudah lama sekali tidak ada yang memperhatikan dan tidak ada yang melarang ku ini dan itu semenjak ayah dan bunda juga kakek tiada. Orangtua Elsa memperhatikan ku tapi mereka tetap membiarkan ku melakukan sesuatu yang ku anggap benar."

__ADS_1


Pandangan mereka bersitatap, Fadia tetap menggenggam tangan Harry.


"Tapi dengan mu, aku merasakan sama seperti mereka masih ada yang melarang ku ini dan itu, jangan begini dan begitu. Aku senang untuk itu. Tapi maafin aku sering sekali mengabaikan larangan mu. Aku terkadang berpikir karena aku sudah pernah merasakan kehamilan membuatku berpikir hamil kedua ini juga akan baik-baik saja."


"Tapi aku lupa kalau di kandungan ku ada dua anak kita.. Hasil buah cinta kita. Maafin aku." Fadia menyesal membuat tangisan itu datang lagi. Ia kecup berulang kali punggung tangan Harry.


Harry mengangguk dan membawa Fadia dalam dekapan nya. "Sudah jangan menangis. Ada satu lagi yang mau aku omongin."


Fadia mengurai dekapannya. "Apa?"


"Kenapa sih kamu tidak pernah senyum kalau aku lagi negur kamu?"


Fadia menganga mendengar pertanyaan yang menurutnya aneh.


"Pernah. Tapi aku lebih banyak menangis. Pernah kamu begitu ke aku?" tanya Fadia namun ia tidak membiarkan Harry menjawab.


"Pernah sih dua kali. Tapi yang sering kamu lakukan hanya mengejar dan memaksa untuk miliki aku. Sedangkan itu hanya untuk kepentingan kamu."


Fadia berbicara menatap Harry. Kini giliran nya mengungkapkan apa yang ada di hatinya.


"Kamu tidak ngasih aku kesempatan untuk melakukan hal serupa."


Harry mengerutkan dahi merasa tidak terima dengan apa yang dikatakan Fadia.


"Maksud kamu apa? salah kalau aku ngejar-ngejar kamu? salah kalau aku ngungkapin semua perasaan ku?" cerca Harry.


Fadia menatap dalam ke mata Harry.


"Aku percaya kamu mencintai aku. Tapi cinta kamu itu terlalu kuat dan meyakinkan. Sehingga aku tidak perlu cemburu atau ngerasa takut kehilanganmu."


Harry semakin tidak mengerti. "Apa itu salah?" tanya Harry.


Fadia mengangguk.


"Kok salah?"


"Kamu tidak ngasih aku celah untuk breaksi. Cinta kamu terlalu sempurna untukku Harry.. Aku jadi tidak tahu apa yang harus ku berikan untuk bisa balas itu semua. Aku juga butuh mengasihani mu Rry.. Khawatirin kamu.. Jadi ngerasain aku ini berguna."


"Cintamu sungguh terlalu sempurna." ucap Fadia lirih.


Kini Harry mengerti maksud dari semua perkataan sang istri. Itu semua keluhan Fadia karena cinta nya yang sempurna untuk Fadia.


Ternyata ini alasan mengapa Fadia sangat jarang cemburu. Bahkan pada sahabatnya sendiri pun Fadia tidak mengatakan cemburu.


"Satu senyuman saja dari kamu sudah bisa membuatku berdoa dalam mimpi indah dan doa itu ku kumpulkan satu persatu dan hanya aku yang tahu."


"Aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya untuk membalas semua keindahan yang kamu berikan untukku Yu.. Kamu tidak tahu betapa pentingnya kamu dari sebelum kita ketemu."


Fadia tertegun dengan apa yang di katakan Harry. Pipinya menjadi merona ketika harry mengatakan kejujuran tentang satu senyuman darinya.


"Terimakasih untuk cinta mu yang sempurna."

__ADS_1


🌸


Bersambung...


__ADS_2