Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Harry sebal


__ADS_3

Senyuman di bibir Harry terus terukir dari malam hingga sepanjang hari ini. Di tempat kerja pun begitu, ia banyak mengulas senyum karena mood nya benar-benar sangat baik.


Bukan berarti hari yang lalu tidak baik, namun sesuatu yang membuat mood nya sangat baik hari ini adalah karena kemarin Fadia cemburu dan berakhir permainan ranjang benar-benar panas pada malam harinya.


Ya, ia merasa sangat terpuaskan dengan keagresifan Fadia karena setiap permainan ada kecemburuan dan mengakibatkan Fadia lebih agresif. Ia dapat mengartikan setiap ke agresifan Fadia sebagai bentuk pengungkapan bahwa ia hanyalah milik seorang Fadia Rahayu.


"Pak. Lagi senang ya?" tegur Seto saat keduanya berada di TPH.


"Kelihatan ya pak?" bukan menjawab melainkan balik bertanya.


Seto mengangguk. "Iya pak, aneh saja bapak tidak marah-marah saat kita kehilangan buah kelapa sawit lagi."


Harry terkekeh atas perlakuan nya. "Tidak marah-marah bukan berarti biarkan maling berkeliaran juga kan pak? saya juga sudah beri usulan membantu pihak security berjaga. Karena memang disini sangat minim pihak keamanan."


Seto mengangguk setuju. "Betul pak, sudah buat permohonan ke pak manager juga untuk tambahan pihak keamanan. Kata manager keputusan setelah Lebaran."


"Ya pak manager juga sudah kabari saya pak di tambah lagi dalam seminggu ini perumahan pondok ada 3 rumah yang kemalingan. Jadi kita juga harus bantu jaga malam di sekitar pondok."


Memang benar, kemalingan lagi semarak di perumahan pondok perkebunan kelapa sawit itu. Lebih parahnya rumah kemalingan dalam waktu bersamaan. Rumah itu di masuki maling saat di bawah jam dua belas siang. Saat banyak orang yang bekerja dan sibuk di dalam rumah masing-masing.


"Bapak benar dan nanti malam adalah giliran kita jaga malam pak."


"Bapak benar." Senyuman yang terukir sepanjang hari mendadak luntur sore harinya karena nanti malam harus meninggalkan istri dan anak nya berjaga.


...****...


Hari ini Fadia tengah duduk santai sendirian menunggu sang suami pulang kerja. Sedangkan Gadhing tengah di rumah orangtua Elsa dan izin untuk menginap disana. Fadia hanya bisa mengizinkan karena Gadhing sudah sangat dekat dengan keluarga Elsa.


Ia sudah mandi dan sengaja memakai dress di rumah tidak seperti biasanya jika dirumah ia lebih banyak memakai daster atau celana hotpants dan tanktop.


Tadi sebelum mandi, Hanum melakukan video call padanya. Banyak ia berbincang pada ibu mertua nya, tentang kemesuman hal yang paling utama di bicarakan, lalu tentang kehamilan, dan berakhir meminta tolong pada Fadia untuk membujuk Harry agar saat Lebaran tahun ini izinkan Hanum bertunangan dengan Yudha lalu setelah ia melahirkan baru menikah.


Ia hanya bisa menjawab akan di usahakan. Bukan ia tidak ingin adik iparnya itu tunangan lebih dulu. Tapi ia tahu jika Harry tidak mudah goyah bila memutuskan sesuatu.


"Bu.." panggil bibi Minah art di rumahnya.


Fadia pun menoleh melihat sang art. "Iya ada apa Bi?"


"Begini Bu, boleh saya minta gaji bulan depan di muka?" tanya bibi Minah lirih.

__ADS_1


Fadia terperanjat mendengar nya. "Boleh bi, tapi untuk apa ya bi?"


"Itu anu Bu.. untuk tambahan uang semester kuliah anak saya Bu."


Fadia menatap art nya pias, ia kasihan dengan art nya ini. Suami ada namun tidak mau memberi nafkah dan asyik dengan para wanita ja lang diluar sana.


Lantas ia pun bangkit masuk ke kamarnya mengambil uang gaji art nya.


"Bi, ini gaji bulan ini dan bulan depan ya.. Dan ini saya tambahin untuk hari Jum'at saya wirid ya Bi.."


"Makasih banyak ya Bu.. Saya dari semalam pingin ngomong tapi takut." bibi Minah berkata jujur.


"Ya Allah bi.. Kalau ada saya kasih kok.. Oh iya kalau bibi mau pulang sekarang tak apa sama Bawak lauk yang tadi kita masak ya Bi.."


"Boleh Bu?"


Fadia mengangguk. "Boleh bi.. Malam ini Gadhing tidur dirumah neneknya. Jadi hanya kami berdua pasti bakalan sisa banyak nanti."


"Sekali lagi makasih banyak bu.." ucap bibi Minah lalu bergegas ke dapur untuk membungkus ayam rica-rica yang di masak tadi.


Selesai membungkus bibi Minah berpamitan pulang dan Fadia memutuskan untuk jalan-jalan sekitar perumahan. Sudah hal biasa istri staf-staf jarang keluar rumah. Hanya saat perwiritan atau persoalan yang mengharuskan istri staf-staf ikut hadir.


...****...


Dari kejauhan Harry melihat sosok yang sangat ia kenal. Berjalan sendirian mengelus perut buncit.


Siapa lagi kalau bukan Fadia Rahayu. Istri tercinta, sahabat tersayang, satu-satunya nya wanita yang bisa mengendalikan dunia nya setelah sang ibu.


Matanya memicing perhatikan kemana tujuan sang istri karena sudah melewati beberapa rumah dari rumah jabatan nya.


"Kemana Bi Minah kok Ayu jalan sendiri?" tanya Harry yang hanya ia sendiri mendengarnya karena saat ini ia sedang mengendarai sepeda motor sendirian.


Harry menambah kecepatan agar cepat menghampiri sang istri.


"Sayang mau kemana?" tanya Harry menghentikan sepeda motor nya.


Fadia mengedikkan bahu. "Pengen jalan-jalan saja mas."


"Ayo naik, kamu sudah terlalu jauh jalan-jalan sendirian nya. Besok kalau mau jalan-jalan ajak bi Minah atau tunggu aku saja ya."

__ADS_1


"Iya.."


Harry menjalankan sepeda motor membawa Fadia pulang kerumah. Di perjalanan Fadia menceritakan tentang art nya yang meminta gaji di awal dan Harry tidak mempermasalahkan asal uang cash yang di pegang Fadia cukup sampai akhir bulan tanpa harus mengambil lagi di rekening gajinya.


Bukan pelit, tapi akan banyak pengeluaran dari membangun rumah kontrakan di Malang, niat Harry membeli mobil sebelum Fadia melahirkan, dan biaya Fadia lahiran ketiga itu butuh banyak uang.


"Aku mau ngomong mas."


"Sekarang? bisa aku mandi dulu? mas juga mau ngomong sama kamu."


Fadia mengalah membiarkan Harry mandi lebih dulu dan ia pun menyiapkan pakaian ganti untuk Harry.


Harry keluar dengan handuk melilit di pinggang nya dan Fadia hanya bisa berdecak kagum atas ciptaan Tuhan yang sempurna ini.


"Mau ngomong apa Yu?" tanya Harry setelah selesai pakai pakaian.


Cup


Fadia tidak tahan anggurin sang suami akhirnya mengecup bibir Harry.


"Aku mau kamu izinin kak Yudha dan Hanum tunangan saat Lebaran Rry.."


Jika Fadia bicara serius maka Fadia akan menyebut nama Harry tanpa embel-embel mas atau sayang dan Harry mengerti itu bila sekarang Fadia bicara sebagai sahabatnya.


"Kamu tahu jawaban ku apa Yu.. Aku tidak mau meninggalkan mu disini sedangkan aku disana. Bagaimana bisa aku berjauhan dengan mu? Sedangkan nanti malam giliran ku berjaga perumahan pondok sudah buat aku uring-uringan apalagi jika kamu disini dan aku di Malang?"


Fadia menghela nafas panjang, ia sudah yakin jawaban nya akan seperti ini. Tapi ia tidak mau dirinya sebagai alasan menunda hal baik dari Yudha dan Hanum.


Fadia mengelus pipi Harry dengan ibu jari. Di tatap mata Harry masih ada kilatan emosi disana.


"Jangan marah." tegur Fadia.


"Pasti mereka kan yang suruh paksa aku?"


Fadia menggeleng. "Mereka tidak salah Rry.. Tapi pikirkan sekali lagi, jangan sampai Hanum berbuat nekad dan terjadi sesuatu yang tidak kita ingin kan."


Harry bergeming menatap sebal Fadia yang tidak bisa mengerti dirinya.


🌸

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2