Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Kamu tidak berubah


__ADS_3

Keluarga kecil itu tampak sudah tampak rapi, Sang suami mengenakan kemeja putih celana jeans hitam sedang istri memakai blouse putih celana jeans hitam. Sedang anak kembar mereka sudah tampak lebih tampan.



"Sayang.. Kenapa mereka sangat tampan?" tanya Harry melihat kedua anak kembarnya sedang tidur.


"Bukankah itu bagus mas? Akan banyak perempuan yang mengejar cinta mereka nanti."


"Tapi mereka akan jadi saingan ku di rumah dan aku tak akan biarkan itu." sergah Harry tak terima.


Fadia mencebik bibir tanpa menjawab. "Anak udah tiga masih aja cemburuan. Anehnya cemburu sama anak sendiri." cibiran Fadia.


"Sudah ayo, sudah di tunggu Hanum sama Niko." lanjut nya lagi sembari menggendong Daffa dan Raffi di gendong Harry.


Mereka akhirnya menuju kerumah orang tua Elsa mengendarai mobil Harry dengan Niko yang mengemudi. Namun Harry tak membiarkan Hanum duduk bersebelahan dengan Niko.


Tak butuh waktu lama akhirnya mereka telah sampai di rumah Elsa. Si kembar telah tertidur damai.


"Hai El.. Gimana keadaan mu sekarang?" tanya Fadia menyambangi sahabatnya sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur dengan kaki selonjoran.


"Baik. Tapi aku tak nyaman dengan kaki ku. Lihatlah.." Elsa menarik kain yang menutupi kaki nya.


Melihat kaki Elsa yang diikat membuat Fadia tertawa pelan. "Siapa yang mengikat?"


"Ibu nya kak Ricky." sahut Elsa cemberut.


"Ibu mertua mu ingin itu menantunya tetap rapat." ujar Fadia.


"Iya, ibu juga bilang gitu, tapi tak nyaman Fad, masak miring saja tak boleh.."


"Yang sabar, cuma 40 hari kok."


Keduanya terdiam melihat Niko sedang duduk bersama suami mereka masing-masing. Sedang Hanum tengah melihat bayi Elsa dan si kembar berada di tempat tidur Elsa.


"Fad, aku senang akhirnya Niko sudah move on dari mu." celetuk Elsa.


Fadia mengangguk setuju. "Ya, dan dia bakalan jadi adik ipar ku."


"Oh iya, siapa nama anak mu?"


"Amanda Rafhania."


Fadia tersenyum. "Nama yang cantik. Aku pingin punya anak perempuan.."

__ADS_1


"Buat lagi lah.."


"Buat nya sering, tapi ya jangan di jadikan dulu."


Tepat pukul sepuluh malam Harry membawa keluarganya pulang setelah berpamitan. Tak lupa mereka memberi beberapa bingkisan untuk bayi mereka.


Sesampainya di rumah, keluarga Harry meninggalkan Niko dan Hanum yang sedang duduk di teras rumah.


"Mas, anak nya mbak Elsa cantik ya.. Aku gemas tahu lihat nya."


"Mau punya anak gemas gitu?"


"Ya iyalah, siapa yang tak mau punya anak gemas gitu, apalagi kembar kayak mbak Ayu.."


Niko terkekeh mendengar celotehan calon istrinya itu dan bayangkan bagaimana jika mereka memiliki anak. Apakah akan secentil Hanum atau seperti dirinya?


"Kapan kamu mau aku nikahin?"


Hanum menoleh menatap Niko. "Kata mas Harry kita pengenalan selama setahun kan? sabar ya.."


Niko mengangguk memaklumi. Harry begitu karena sedang menilai keseriusan nya terhadap Hanum dan melihat ia akan melirik Fadia lagi atau tidak.


"Mas pulang ya.. Sudah malam, besok kita akan kerja."


Hanum mengangguk lalu bangkit mengikuti Niko. Niko menyempatkan mengacak rambut Hanum. Bukan memberikan ciuman lembut atau panas seperti saat berpacaran dengan Elsa.


Wanitanya yang manja.


Hanum masuk setelah Niko pulang. Ia pun menuju kamarnya paling belakang. Mengapa pilih kamar paling belakang? karena menurutnya itu adalah tempat ternyaman dari keributan berasal dari kamar depan sang empunya rumah.


Semenjak ia tinggal bersama Harry, hampir tiap malam ia mendengar suara aneh. Hanya dua bulan masa nifas kakak iparnya lah ia tak pernah mendengar suara itu.


"Apa aku bakalan di serang mas Niko tiap malam kayak mbak Ayu?" tanya Hanum sendiri.


Tiba-tiba wajahnya bersemu merah membayangkan bagaimana mereka akan melewati malam panas.


"Ya ampun pikiran ku.. Memikirkan nya saja aku sudah gugup apalagi waktu itu tiba.. Lebih baik aku tidur."


Hanum memilih tidur menghilangkan pikiran-pikiran yang seharusnya belum ia pikirkan. Tapi nyatanya walau matanya terpejam, pikiran itu kian terngiang bersama suara-suara aneh itu terus saja menggema di sepanjang malam.


"Sepertinya mas Harry sedang menghukum mbak Ayu.. Ganas.."


Di dalam kamar Harry dan Fadia.

__ADS_1


Hentakan terus ia berikan untuk sang istri membuat suara keduanya saling bersahutan. Ini yang ia suka dari kedua anak kembarnya. Mereka seakan mengerti jika sang ayah tengah menggagahi bunda nya dan akan tetap tertidur pulas di box mereka masing-masing.


"Kamu kenapa bee? aakh.." tanya Fadia di tengah desa han nya. Ia merasa berbeda dari tiap hentakan yang diberikan Harry.


Mata mereka saling mengunci. "Aku cemburu kamu masih saja memikirkan Niko."


"Apa ka-mu tak ya-kin sama cinta ku?"


Harry menghentikan hentakan masih menatap Fadia yang berada di bawah kukungan nya. "Aku percaya cinta mu untuk ku, walau sekarang sudah terbagi untuk ketiga anak kita.. Tapi aku belum yakin dengan Niko."


Merasa hentakan terhenti pun ia berinisiatif menggoyangkan pinggulnya agar hasrat itu tetap meninggi.


"Aakkhh.. Kamu semakin pintar Yu.."


Fadia tersenyum. "Boleh aku di atas?"


Harry menggeleng. "Jangan sekarang, aku tahu perut mu belum pulih betul. Jadi tetaplah dalam kendali ku." Harry menyesap bibir Fadia dan kembali menghentak pinggulnya dalam-dalam.


...****...


Pagi hari nya, Hanum sudah di jemput Niko untuk berangkat bekerja bersama. Sedang Harry tengah sarapan bersama Fadia. Si kembar masih terlelap karena pukul empat subuh tadi sempat terbangun.


"Yu, hari ini gajian.."


"Sudah tahu mas.."


"Jangan lupa transfer uang untuk Gadhing. Oh iya nanti periksakan email dari Dana. Berapa sapi yang terjual selama bulan kemarin, jangan lupa transfer gaji dia sama kedua paman kita." titah Harry.


Fadia senang karena Harry menyerahkan perihal keuangan padanya, ia merasa di hargai walau ia tidak ingin ikut campur dengan bisnis keluarga suaminya itu.


"Iya, kakek juga nanti aku transfer ya.." jawab Fadia.


Harry mengangguk. "Iya, tapi sekalian saja ke nomor rekening bapak. Nanti tak ada yang ambilkan punya kakek. Dan kamu transfer dari M-BANKING bukan ke bank nya langsung atau ke ATM."


"Pulsa ku tak ada suami ku.. Sekali-kali aku keluar sendirian kan tak apa sih?"


Harry mengerutkan dahi. "Biar apa keluar sendiri?"


"Biar di sangka masih gadis lah.. Kan aku masih ramping, payu dara aku makin besar apalagi bokong aku juga ikutan besar."


Harry melotot mendengar jawaban Fadia yang asal jeplak. "Enak saja keluar, kamu itu punya aku." Harry merengut di tengah sarapan nya.


Fadia tertawa, ia senang melihat Harry yang cemburu. "Kamu tidak berubah suami ku.."

__ADS_1


🌸


Bersambung...


__ADS_2