
"Aku tidak ikut kalau naik travel Harry." ucap Fadia di balik ponsel. Saat ini ia sedang teleponan dengan Harry.
"Iya. Tapi kenapa? bukan nya lebih cepat?"
Fadia dari kemarin menolak keras ajakan Harry ke Medan menaiki mobil. Ia hanya mau naik kereta api. Bukan maksud apa-apa. Hanya satu alasan nya. Fadia takut mabuk darat dan itu pasti memalukan.
"Lebih enak naik kereta api." jawab Fadia.
"Baiklah. Apapun untuk mu calon istri ku." ucap Harry lembut.
Fadia mencebik setelah membaca balasan pesan dari Harry. Selalu dan selalu saja Harry bisa merubah suasana hatinya.
Ia sudah memberitahu kan kedatangan nya pada Fatin. Saudari Fatin satu-satunya. Tentu dengan sederetan omelan ala Fatin.
Dan Fadia sudah terbiasa akan hal itu.
*****
Kemarin malam, setelah Harry berkunjung di rumah Elsa. Ia memutuskan keesokan hari setelah pulang kerja mereka akan ke Medan. Ia tidak ingin menunda pernikahan nya terlalu lama lagi. Sudah cukup perjalanan cinta nya. Ia harus segera berlabuh bukan lagi menepi.
Dan pilihan nya tepat pada sosok wanita kuat dan sederhana. Sosok ibu yang kuat, baik, dan mampu mendidik menjadi anak yang baik dan penurut.
Fadia Rahayu.
Orang yang menilai pasti ia dan Fadia cinta lokasi atau Fadia lah yang merayu nya. Itulah yang sering kita jumpai kebanyakan yang menilai apa yang di lihat namun kenyataannya berbeda. Mereka tidak ada yang tahu jika Harry dan Fadia telah lama saling mengenal.
Tapi ia tidak peduli itu. Yang terpenting adalah ia menikah dengan Fadia. Sahabat dunia maya nya.
Harry juga sudah mengabari keluarga di Malang. Dalam waktu dekat ia akan mengadakan acara lamaran. Pastinya acara di langsungkan setelah mendapat restu dari calon kakak iparnya.
Ia ingin melakukan acara lamaran dengan adat Jawa. Sungguh ia sudah tidak sabar. Tidak ada acara pertunangan seperti pada umumnya. Ia hanya ingin acara lamaran dan langsung menikah.
Tapi waktu itu kapan tergantung dirinya meyakinkan Fatin calon kakak iparnya.
Demi Ayunya dan Gadhing, tentu saja ia akan berusaha memenangkan hati dari seorang Fatin. Calon kakak ipar.
Apalagi selama ia di izinkan untuk mencium Fadia, tubuhnya semakin tidak karuan bila berdekatan dengan Fadia.
Ia sering merutuki dirinya bila sudah ada Fadia di dekatnya. Sungguh sangat sulit menahan hasrat itu. Maka ia memutuskan langsung menikah saja.
Harry :
Aku merindukan mu Yu.
Harry mengirim pesan WhatsApp setelah panggilan telepon berakhir.
Jiwa ingin selalu berada dekat dengan Fadia kian menggebu setiap saat. Dulu, saat ia baru terjun dengan kisah percintaan tidak pernah segila ini dalam mencintai.
Yang katanya cinta pertama sulit di lupakan, benar kah mantan pacarnya sewaktu SMA adalah pacar pertamanya? atau Sundari?
Harry berdecak ketika nama itu terlintas. 7 tahun nya sia-sia hanya menanti kepastian dari gadis itu. Hasilnya ia di duakan dan hatinya juga mendua. pikir Harry.
Lalu siapakah cinta pertama nya?
Apakah Fadia lagi?
__ADS_1
Apa hubungan persahabatan dunia maya nya begitu dalam hingga tanpa sadar nama Fadia telah menjadi penghuni tetap dihatinya?
Entahlah. Ia bingung untuk itu.
Fadia :
Tidak lucu Harry. Kita baru bertemu tadi malam. Kamu kerja yang benar. Jangan handphone saja.
Harry terkekeh membaca omelan dari calon istrinya. Sungguh ia suka perhatian Fadia walau kesan nya Harry di omeli oleh Fadia.
Hari ini Fadia tidak masuk. Harry telah mengajukan cuti untuk hari Sabtu dan Senin, karena hari Selasa mereka sudah mulai bekerja.
Sebenarnya Harry ingin Fadia berhenti bekerja namun wanitanya itu bilang akan berhenti sebulan sebelum pernikahan. Alasan nya hanya karena Fadia masih memiliki angsuran sepeda motor. Padahal ia bisa membayar sisa angsuran nya sekaligus.
Harry :
Sudah bersiap belum? 30 menit lagi aku jemput ya..
Fadia :
Sudah kok.
Harry :
Oke. Aku juga baru selesai. Aku kesana ya..
Fadia :
Hati-hati.
Perhatian kecil itu menjadi pupuk di hati Harry. Ia pun bergegas menuju rumah Fadia.
****
Di stasiun Kereta Api.
Harry, Fadia, Gadhing, pak Seto, Elsa, dan Niko sudah berada di ruang tunggu. Para pria duduk satu barisan sedan Fadia dan Elsa duduk di barisan belakang para pria.
"El." panggil Fadia.
"Hem.."
"Berasa kayak ratu tidak sih kita berdua? di kawal 4 pria." ucap Fadia cekikikan.
Elsa pun tersadar dan cekikikan bersama dengan Fadia.
"El. Kenapa kau nekad ajak Niko?" tanya Fadia.
"Itulah Fad. Sudah ku bilang jangan ikut. Bahaya." terang Elsa.
"Itulah. Nekad kalian, aku saja sudah tidak bisa tidur memikirkan kak Ros gendut itu."
Fadia dan Elsa menjuluki Fatin adalah kak Ros gendut karena kecerewetan dan bentuk tubuh yang gendut. Keduanya sering di omeli hanya hal-hal kecil bila Fatin pulang ke desa. Seperti tempat tidur berantakan misalnya maka omelan nya akan berlangsung sepanjang hari itu.
"Berdoa saja kak Ros kita sakit gigi saat kita datang." seru Elsa dan membuat keduanya tergelak.
__ADS_1
Dasar adik durhaka!
"Aku takut mbak Fatin juga interogasi Niko Fad."
Fadia mengangguk setuju. "Itu pasti lah. Macam tak kenal mbak Fatin saja."
"Ku harap tidak. Oh iya waktu kau kabari mbak Fatin apa katanya?"
"Katanya gini. Suruh datang kalau memang dia laki-laki. Harus bisa memenuhi syarat dari mbak."
Elsa terkekeh mendengar itu. ia sudah hafal betul karena ia menganggap Fatin sebagai kakak sendiri dan ia juga sering menjadi sasaran omelan Fatin.
"Fad. Kita kan sudah setahun ini tidak ada berkunjung, kira-kira kita bakal di apain ya?" tanya Elsa.
Fadia menghela nafas. "Kita lihat saja nanti. Mbak Fatin mah gitu, masih nganggap kita anak kecil."
"Iya anak kecil sudah bisa buat anak kecil." Sontak membuat keduanya tergelak.
Begitulah jika keduanya sudah bersama. Keluhan dan ketakutan seakan sirna. Mereka bisa membuat dua hal itu sebagai lelucon receh untuk melupakan hal itu sejenak.
****
Harry menggeleng mendengarkan obrolan dua wanita beda status itu. Segitu takutkah mereka? mungkin memang seperti itu seorang kakak pikirnya.
Karena ia sendiri juga seperti itu pada adik perempuan nya. Tapi bukan omelan. Ia lebih melindungi adik nya dengan tindakan. Itulah perbedaan seorang kakak perempuan dan kakak laki-laki.
Bila kakak perempuan lebih ke banyak bicara sedangkan kakak laki-laki lebih ke tindakan.
Tapi ia tidak gentar. Apapun nanti syarat dari calon kakak ipar nya akan ia turuti.
"Bun. Gadhing duduk sama ayah ya." Izin Gadhing saat mereka sudah berada di gerbong kereta api.
Fadia mengangguk. Tapi sekarang ia bingung. Karena di tiket sebenarnya Fadia duduk bersebelahan dengan Harry. Sedangkan Gadhing duduk dengan pak Seto. Elsa dengan Niko.
Haruskah ia duduk di sebelah pak Seto?
"Biar aku saja yang duduk dengan pak Seto." kata Niko.
"Iya Bu. Saya duduk dengan teman ibu saja." ucap pak Seto.
Fadia melongo. Bagaimana bisa atasan nya memanggil dirinya dengan sebutan ibu?
"Pak Seto jangan panggil saya ibu dong."
"Biarkan saja. Kamu segera duduk Yu. Jangan bicara sama laki-laki terus." kata Harry ketus. Ia cemburu jika Fadia bicara dengan laki-laki lain.
"Iya-iya."
Fadia duduk dengan Elsa. Lebih memilih tidur adalah pilihan tepat untuk mengisi daya sebelum mendapat amukan dari Mbak Fatin pikir Fadia.
🌸
Bersambung...
Like dan komen ya.. biar emak semangat.
__ADS_1