
Harry terus menjaga Fadia dengan siaga. Baik Harry, Fadia, maupun Gadhing sudah berada di kediaman mereka. Tadi ba'da Maghrib Fadia sudah di perbolehkan pulang.
"Jangan bandel tah Yu.. Aku khawatir kalau gini.." ucapnya seraya mengecup punggung tangan Fadia yang tengah terlelap pulas.
"Kamu tahu.. Saat aku tahu kamu tak bahagia dengan pernikahan pertama mu membuat hatiku sakit apalagi sekarang kamu sudah menjadi istriku?"
"Jangan sakit lagi Yu.."
"Dunia ku cuma seputar dirimu. Jika saja ku sadari dari awal bahwa di hatiku cuma ada namamu, pasti kamu tidak akan mengalami penderitaan itu. Maaf aku datang terlambat sayang.."
Harry terus berbicara sendiri sembari mengecup kening Fadia dengan tetap menggenggam tangannya.
"Kamu tahu Yu.. Aku bahagia kita akan memiliki anak, dua sekaligus. Terimakasih sayang.."
"Tapi ada rasa tidak rela yang ku rasakan."
Harry menjeda lalu mengelus perut Fadia dan tersenyum saat merasakan ada gerakan dari dalam perut Fadia.
"Mau tahu alasan ku tidak rela Yu? Ya aku tidak rela waktu mu akan banyak sama mereka bertiga.. Pasti aku di abaikan.. Aku cemburu.."
...****...
Sebenarnya saat Harry mengecup punggung tangan nya, tidur Fadia mulai terusik. Ingin membuka suara namun di urungkan karena Harry terus mengaduh apa yang dirasakan suaminya.
Namun ia terperanjat saat ucapan terakhir Harry. Bisa-bisanya ayah cemburu sama anak-anak nya.
Cubitan di lengan Harry dan timpukan juga ia berikan. Fadia kesal dengan sifat cemburu Harry walau ia sendiri merasa senang akan hal itu. Tapi jangan sama anak juga.
"Kamu dengar Yu?"
Fadia duduk di bantu Harry masih menatap kesal sang suami. Kini ia duduk bersandar di kepala ranjang dengan Harry duduk berhadapan dengan nya.
"Kamu ini kenapa bisa cemburu sama anak sendiri sih?" sungut Fadia memanyunkan bibirnya.
"Rasanya waktu pacaran kita baru sebentar Yu.. Kamu tahu dari dulu aku tidak suka kamu abaikan."
Fadia menghela nafas panjang mengerti keadaan Harry. Ia lantas menepuk pahanya memberi tahu Harry untuk tidur disana.
Harry pun merebahkan kepala di paha Fadia menghadap perut buncit istrinya.
"Geli mas.." Pasalnya Harry terus mengecup perut Fadia.
"Nanti kalau mereka sudah lahir, jangan cuekin aku ya Yu.. Kamu harus utamain aku." pinta Harry menatap Fadia.
Fadia menatap sang suami penuh cinta. "Tidak akan sayang, kamu juga ya.. Nanti kalau mereka sudah lahir jangan hanya aku yang urus mereka."
"Tidak akan sayang, kita kan buatnya sama-sama jadi ngurus nya sama-sama juga dong.."
__ADS_1
Mereka saling menatap penuh cinta. Lalu Harry menghela nafas panjang
"Hah.. Harus puasa juga ya Yu si Junior?"
Fadia terkekeh. "Sabar ya.. Maaf harus puasa. Lebih baik kita tidur yuk.. Aku ngantuk." Fadia harus mengalihkan pikiran Harry agar tidak memikirkan rumah si junior.
...****...
Tanpa terasa bulan suci Ramadhan sudah berada di penghujung dan akan berganti dengan hari Raya Idul Fitri.
Idul Fitri menjadi hari yang ditunggu-tunggu umat Islam selepas menjalankan ibadah Puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan merupakan perintah Allah swt kepada umat manusia untuk menguatkan iman, peduli sosial, dan semakin mencintai alam semesta.
Tepat seminggu lagi hari yang dinanti umat Islam telah tiba. Keluarga kecil Harry Setiawan sangat antusias menyambut hari itu. Sama seperti orang pada umumnya. Mereka akan sibuk beli pakaian baru untuk dipakai pada hari Raya.
Begitu juga dengan Fadia dan Gadhing. Keduanya pasti akan bersorak gembira saat Harry mengajak mereka untuk berbelanja beli pakaian baru.
"Hati-hati sayang.." ucap Harry karena sedari tadi Fadia berjalan mondar-mandir di sela-sela padatnya pengunjung toko.
Fadia menoleh melihat sang suami lalu menarik Harry agar mendekatinya.
"Tetaplah berada di dekatku karena aku selalu merasa aman jika berada di dekatku."
"Ya iya lah Yu.. Wong aku ngelindungi kamu."
Fadia tidak menanggapi lebih memilih pakaian untuk Gadhing karena pakaian untuknya juga Harry sudah dibeli lebih dulu.
"Mas Gadhing.. Ayo kita bayar baju-baju mas habis itu kita pulang ya.. Bunda sudah capek."
Lantas Fadia dan Gadhing pun menunggu di depan toko kebetulan disana ada kursi plastik untuk Fadia duduki.
Sesuai tiket pesawat dipesan Harry, Mereka akan berangkat dua hari lagi dan kembali tujuh hari setelah lebaran.
Fadia duduk bersandar termenung melihat kendaraan berlalu lalang. Sedangkan Gadhing berdiri dengan merangkul lengan Fadia.
Ia memikirkan curhatan Hanum tentang hubungan nya dengan Yudha. Sungguh iapun merasakan sakit hati yang dirasakan Hanum.
Membujuk Harry pun percuma, alasan suaminya itu juga benar adanya. Ia berharap semua akan baik-baik saja.
...****...
Di kediaman Ricky dan Elsa.
"Kak.. Serius kita pulang ke Malang?" tanya Elsa.
"Iya, kasihan ibu sendirian. Tahun depan baru kita lebaran disini ya.."
Elsa mengangguk. "Apa tidak sayang uang nya kak?"
__ADS_1
Ricky tersenyum dan hal itu pula membuat Elsa senang bukan main. Karena pasalnya Ricky sangat jarang tersenyum.
"Hanya setahun sekali tidak apa kita habiskan tabungan El.. Apa kamu tidak ingin bertemu Ayu disana juga?"
Mata Elsa berbinar mendengar nama sahabat nya akan berada di kota yang sama.
"Serius Fadia juga mudik kesana? bagaimana kehamilan nya? bukan nya Fadia harus banyak istirahat?"
"Ya, tapi secara finansial Harry lebih mapan jadi mereka tidak perlu khawatir untuk itu kan?"
Elsa mengangguk setuju dan ia merasa bersyukur Fadia mendapatkan suami yang tepat. Dan ia menyesali pernah mengagumi sosok suami sahabatnya itu.
"Kak.."
"Ya.."
"Boleh minta sesuatu?" tanya Elsa manja.
"Apa?" tanya Ricky pasalnya sang istri sangat jarang minta sesuatu dan bernada manja seperti ini.
Elsa ragu mengucapkan keinginan nya takut Ricky marah.
"Bilang saja El.." Ricky mengerti Elsa takut padanya.
"Tapi kakak jangan marah ya.." ucapnya lirih.
"Iya, mau minta apa?"
Elsa menatap dalam mata Ricky yang sedang menatapnya juga. Sungguh ia telah jatuh dengan suaminya yang cuek ini.
"Aku pengen kakak panggil aku sayang setiap kaki ngomong sama aku kayak kakak sebut aku sayang pas setiap pelepasan." rengek Elsa mengguncang lengan Ricky.
Ricky menaikkan satu alis heran dengan permintaan Elsa. Itu akan sulit ia kabulkan karena memang walau dulu seorang player wanita namun untuk menyebut 'sayang' pada para wanitanya tak pernah ia lakukan.
Lidahnya kaku dan ia merutuki dirinya selalu saja keceplosan saat pelepasan memanggil nya sayang. Walau hatinya memang hanya Elsa yang menempati seluruh isi hati.
"Apa ini ngidam juga?" tanya Ricky karena yang ia tahu kalau istri hamil harus di turuti.
Elsa tersenyum melebar. Tidak terpikirkan olehnya jika keinginan nya itu di nilai ngidam oleh sang suami.
Baiklah Elsa.. Kita harus memenangkan hati suamimu ini. gumam Elsa senang.
"Iya kak, panggil aku sayang ya.."
"Iya sa-sayang."
🌸
__ADS_1
Bersambung..
Udah hari Senin, yok vote karya emak.