
Fadia berjalan gontai dimana Elsa sedang menunggu nya di blok.Tadi Elsa sudah menghubungi nya jika sudah mau mulai kerja.
"Woy. itu muka kenapa merah? masih pagi ini.". ucap Elsa.
Sontak membuat Fadia menyentuh kedua sisi wajahnya. Kemudian ia menggeleng mengingat kejadian di ruangan Harry.
Elsa menatap Fadia curiga. "Baru mesum-mesuman kalian ya?"
"Mesum apa sih. Mana ada." sanggah Fadia.
Elsa semakin memicingkan mata dan Fadia sadar itu. "Cuma sedikit El. Tidak sampai yang aneh-aneh." akhirnya Fadia mengakui karena tidak ada yang di sembunyikan dari keduanya.
Elsa tersenyum. "Akhirnya.. Dari sekian purnama sahabatku merasakan lagi." Elsa tergelak.
"Kau membuatku malu El. Iihh.. Dan kau cepatlah menikah dengan Niko. Jangan sampai kebablasan."
Ya Elsa juga sering bercerita tentang bagaimana cara dia dan Niko berpacaran. Bahkan Elsa menceritakan secara detail saat mereka berciuman, cara bagaimana Niko merayu dan bahkan Elsa memberi tahu jika mereka sudah beberapa kali mojok di perkebunan.
"Iya aku bisa jaga diri Fad. Aku nikahnya nunggu kamu nikah."
Fadia menatap sahabat kecilnya. "Kenapa gitu?"
"Aku tidak mau melihat mu sendirian Fad. Kalau aku menikah lebih dulu bagaimana bisa aku menemani mu setiap harinya?"
Mendadak keadaan menjadi melow. Fadia terharu dengan sahabat kecilnya ini. Walau Elsa terkenal tomboy dan pedas bila bicara. Tapi sungguh Elsa lah tempatnya mencurahkan isi hatinya.
"Tapi berjanjilah jika aku menikah, kamu harus cepat menikah El."
Elsa mengangguk. "Iya. Aku janji."
Keduanya pun memulai bekerja. Hari ini Fadia dan Elsa di tugaskan untuk mencangkul piringan pohon kelapa sawit.
Rudi sering curi-curi pandang pada Fadia. Bohong bila ia tidak kecewa tapi mau bagaimana lagi? Fadia lebih memilih atasan dimana mereka bekerja.
Sebenarnya ia sadar jika Fadia sering sekali menghindari nya. Tapi karena ia merasa cocok dengan Fadia menjadikan nya terus berusaha.
****
Sore harinya Fadia, Harry dan Gadhing sudah berada di depan makam kedua orang tua Fadia.
Lantunan surat Yasin hampir usai dibaca oleh Harry. Sedangkan Fadia sedari tadi hanya menangis dalam diam. Ia tidak sanggup melanjutkan bacaan nya.
Rindu!
Satu kata yang sangat menyakitkan dalam hidup. Bila rindu pada seseorang berjarak jauh masih bisa terobati dengan suara nya. Tapi tidak dengan kedua orang tua Fadia.
Ia menjadi teringat sebelum kedua orang tuanya berangkat ke luar kota untuk Halal bil halal.
__ADS_1
"Fadia.. Kamu dirumah saja ya.. Ayah sama Bunda hanya sebentar."
Kala itu Fadia masih duduk di kelas IX SMP yang masih masa pubertas tentu ingin ikut. Dengan pikiran ingin cuci mata.
"Fadia ingin ikut Bun."
Bunda menggeleng. "Jangan. Kamu dirumah saja ya tunggu ayah dan bunda pulang. Nanti saat ayah dan bunda pulang pasti rumah kita ramai."
Ia yang tidak tahu ucapan bunda adalah sebuah pertanda pun hanya mengangguk.
"Ayah dan bunda berangkat ya.. kamu jaga diri baik-baik." ucap bunda memeluk Fadia sangat erat. Pelukan terakhir untuknya.
"Fadia. Kamu jangan suka melawan apa kata mbak mu. Tidak baik." nasihat ayah setelah pelukan bunda terlepas.
"Mbak Fatin cerewet yah. Berisik." adu Fadia.
Ayah tersenyum. Ia dapat melihat senyuman itu sangat indah.
"Ya sudah. Ingat ya. Kamu harus menjadi perempuan yang kuat seperti nama mu. Jangan sering nangis." nasihat ayah lagi.
Fadia tersenyum dan mengangguk. "Ayah dan bunda hati-hati."
Kalimat terakhir dari ayah dan bunda selalu terngiang dikala Fadia benar-benar merasa rindu. Pelukan dan senyuman terakhir itu masih melekat diingatan Fadia.
Harry mengusap punggung Fadia setelah selesai membaca surat Yasin.
Harry tersenyum. "Kakek dan nenek tidak akan bangun sayang. Tugas kakek dan nenek sudah selesai. Sekarang tugas kitalah untuk mendoakan kakek dan nenek agar mereka tetap tersenyum disana."
Gadhing tampak manggut-manggut. Entah ia mengerti atau tidak. "Bunda jangan menangis. Nanti kita beli es krim ya."
Sebuah kebiasaan Fadia jika Gadhing menangis ketika ia rindu sosok ayah. "Nanti kita beli es krim ya."
Dan lihatlah. Kalimat Fadia terucap dari mulut anaknya sendiri. Ia terkekeh dalam tangisnya mengingat hal itu.
"Iya. Es krim coklat ya." dan jawaban itu adalah yang disebutkan Gadhing ia ucapkan juga.
Gadhing juga terkekeh menyadari hal itu. "Bunda ikut-ikut Gadhing."
Harry mengusap air mata Fadia. Hatinya nyeri melihat Fadia menangis. "Jangan menangis, hatiku juga sakit melihat mu menangis."
"Aku rindu ayah bunda Rry. Andai aku tahu ucapan Bunda adalah pertanda akan pergi selamanya. Lebih baik aku ikut pergi bersama ayah bunda." jawab Fadia kembali menangis.
"Jangan katakan itu. Bagaimana aku jika kamu pergi Yu? bagaimana jadinya hidupku tanpa mu? dari dulu hingga kini kamu lah yang selalu memberi hidupku warna. Mungkin jika kamu pergi aku akan menyusul mu kesana agar bisa bersamamu."
Harry meraih Fadia dalam pelukan. Tidak peduli dengan celana yang ia kenakan sudah kotor karena lutut nya sebagai tumpuan. Harry juga memberi isyarat pada Gadhing agar mendekat dan ia memeluk Gadhing juga.
Seakan memberi perlindungan untuk dua orang yang kuat. Ia tahu tidak mudah menjadi Fadia.
__ADS_1
"Kamu yang aku kenal adalah orang yang kuat. Kamu pasti bisa melewati ini." ucap Harry mencoba menenangkan Fadia.
Fadia mengangguk lemah di isak tangisnya.
"Jangan tinggalkan aku Harry."
"Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu karena aku mencintaimu dan aku berjanji untuk mencintaimu dengan segenap kekuatanku. Sayang, jangan menyerah karena aku tidak akan bisa hidup tanpamu. Aku mencintaimu sepenuh hati. Jauh sebelum kita bertemu. Sungguh aku tidak bisa hidup tanpamu.“
“Bahkan jika seluruh dunia tampak hitam dan putih bagimu, aku akan melukisnya dengan warna-warna cerah hanya untukmu. Kamu adalah cinta dalam hidupku.”
Fadia menatap Harry. "Benarkah?"
Harry mengangguk mantap dan tersenyum. "Ya sudah ayo, hari mulai gelap. Kita beli es krim Bunda dan beli buah tangan untuk nanti malam ke rumah Ibu."
"Gadhing juga beli es krim ya yah." pinta Gadhing kegirangan.
Kini dua sejoli itu telah mengetahui perasaan masing-masing. Keduanya mulai sadar, ternyata perhatian kecil yang sering mereka berikan membuat hati mereka terbiasa dan berujung cinta.
Dan berharap setelah halal perasaan mereka bertahan bahkan semakin mendalam. Berdoa dalam sujud semoga di permudah segalanya.
Fadia menatap punggung Harry di boncengan sepeda motor.
Bolehkan ia bersyukur telah di cintai pria di depan nya ini?
Sanggup kah ia di saat cobaan yang akan datang bertahan dengan cinta nya?
Bolehkan hingga kini hatinya masih merasa curiga bagaimana perasaan pria didepan nya?
Lalu bagaimana dengan Sundari?
Benarkah cinta di hati mereka benar-benar telah usai?
Lalu bagaimana jika suatu saat Sundari menginginkan kembali?
Mengingat lamanya mereka berhubungan tentu rasa cinta itu tidak mudah pudar bukan?
Apakah Harry memilih bertahan atau kembali pada cinta lama?
Bagaimana bila Harry memilih kembali pada cinta lama?
Bagaimana nasib dirinya?
Bahkan sebelum itu terjadi ia bisa memastikan betapa hancur hidup nya bila benar-benar terjadi.
🌸
Bersambung...
__ADS_1
like dan komen ya.. jangan lupa klik favorit ya kakak..