
Allaahu akbar
Allaahu akbar
Allaahu akbar
Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar wa lillaahil-hamd.
Terdengar takbir menggema di setiap sudut Kota Malang. Keluarga kecil Harry Setiawan dan Ricky Saputra baru saja tiba di kediaman orangtua mereka masing-masing.
Mereka sampai ke tujuan dengan sangat terlambat dari biasanya. Seharusnya mereka tiba kemarin namun karena perjalanan sangat padat membuat mereka terlambat.
Harry membiarkan sang istri dan anak sambung nya itu beristirahat di kamarnya. Ia perlu berbicara dengan Hanum berdua sebelum mengambil tindakan.
Walaupun ia selama ini menolak keras keinginan semua orang untuk Hanum bertunangan dengan Yudha, pastilah ia memikirkan perasaan sang adik.
Ia kenal betul bagaimana polos dan tulusnya hati sang adik. Karena itulah Hanum sangat mudah untuk di manfaatkan.
"Hanum.." panggil Harry di depan pintu kamar Hanum yang tidak tertutup.
"Masuk mas.." sahut Hanum masih membereskan alat make up nya.
Harry masuk melihat sang adik telah cantik dengan makeup menghiasi wajahnya.
"Mau kemana dik?" tanya Harry.
"Tak kemana mas, aku baru saja buat video tutorial makeup natural. Gimana? cantikkan?" tanya Hanum menghadap Harry dengan senyum merekah.
Selain bekerja sebagai pegawai honorer, Hanum juga menjadi youtuber yang isinya tentang tutorial makeup dan hijab. Ia melakukan itu karena menyukai makeup.
"Cantik." jawab Harry singkat dan itu membuat Hanum senang bukan main. Sangat jarang Harry memujinya.
"Tapi cantikkan istri mas.". sambungnya lagi membuat senyum Hanum luntur seketika.
Nyesel aku puji mas ku sendiri.. Hah.. Betapa beruntungnya mbak ayu dapat suami kayak mas Harry.. Selalu memujanya sedang aku? usaha ku membuat luka di hatinya sia-sia. Dia tak mau perjuangin aku. Jerit Hanum dalam hati.
Harry sadar dengan perubahan wajah Hanum bukan karena perkataan nya. Pasti karena sahabatnya itu.
"Jangan bilang kamu cemburu sama mbak mu karena mas puji mbak mu." Harry mencoba goda Hanum.
Hanum hanya mencebik bibir karena merasa aneh Harry menggoda dirinya.
__ADS_1
"Boleh mas tanya?" tanyanya dan di anggukan Hanum.
"Kalau misal Yudha lebih memilih perjodohan itu gimana perasaan mu Han?"
Bukan tanpa alasan bertanya seperti ini karena ia sangat mengenal Yudha. Ia tahu betul seberapa penurutnya seorang Yudha. Bahkan dengan dirinya dan Ricky juga Yudha paling nurut.
Karena sifat penurutnyalah sering dimanfaatkan oleh orang tua nya. Sifat otoriter orang tua Yudha sangat membuat Harry merasa jengkel. Bagaimana bisa Yudha sudah dewasa terus saja di atur-atur apalagi menyangkut pasangan hidup.
"Aku bisa apa mas?" bukan menjawab melainkan bertanya karena ia merasa bisa apa jika Yudha tak mau perjuangin dirinya.
Harry menghela nafas panjang. Melihat sang adik seperti ini sangat menyakiti hatinya tapi ia pun tidak bisa memaksa Yudha untuk perjuangin sang adik.
"Dik.. Dengarkan mas, misal nanti pun Yudha peruuangin kamu dan akhirnya kalian menikah, mas yakin orang tua Yudha tetap akan mengatur kehidupan rumah tangga kalian. Kamu mau di atur dengan mertua mu?"
Hanum mencerna setiap kata dari Harry dan ia pun menggeleng. Wanita mana yang mau di perdaya mertua?
"Mas ingin kamu dapat mertua sama kayak ibu yang perlakukan istri mas dik.. Kamu lihatkan bagaimana ibu memperlakukan istri mas itu sampai mengabaikan mas." Nada bicara Harry berubah menjadi kesal.
Hanum mengerutkan dahi merasa aneh dengan nada bicara Harry.
"Mas kenapa jadi kesal begitu?"
"Mas jengkel kalau istri mas sudah berdekatan sama ibu. Pasti mas di cuekin." gerutu Harry.
Ternyata melihat sang kakak kesal karena ulah ibu dan kakak iparnya adalah hiburan untuknya.
"Dasar bucin." ledek Hanum.
Harry menatap Hanum yang melipat bibir menahan senyum langsung dirangkul leher sang adik.
"Aduh sakiiittt... Lepasin.." teriak Hanum.
"Berani mengejek mas?"
Hanum menggeleng sembari memukul lengan berotot Harry agar rangkulan itu terlepas.
Satu tangan Harry menggosok-gosokkan di ketiak lalu ia tempelkan ke hidung sang adik membuat adiknya tambah meronta.
"Hhuuweeekk.. Lepasin.. Wwiihh ini bau pasti belum mandi dari semalam." gerutu Hanum.
Harry melepaskan rangkulan dan tertawa renyah di tambah melihat sang adik merengut menatapnya kesal.
Tanpa mereka sadari, interaksi itu di saksikan Ibu Harry dan Fadia. Tadi Fadia harus terbangun karena panggilan alam harus di keluarkan. Setelah itu ia mengambil minum dan melihat ibu mertua nya baru masuk dari pintu dapur.
__ADS_1
Banyak keduanya bercerita terutama tentang kehamilan Fadia. Keluarga Harry belum ada yang tahu jika Fadia hamil anak kembar begitu juga Fatin sang kakak Fadia. Mereka hanya memberitahu Fadia hamil saja.
Sampai keduanya mendengar suara teriakan Hanum membuat kedua wanita itu khawatir dan penasaran akhirnya memutuskan untuk melihat Hanum di kamarnya.
Namun langkah mereka terhenti saat mengetahui jika kakak dan adik itu sedang bercanda. Hati kedua wanita itu menghangat melihat interaksi keduanya.
Ada rasa lega karena Harry mampu mengalihkan pikiran Hanum untuk saat ini. Fadia melihat tawa Harry membuat ia jatuh cinta lagi membuat ia mengelus perut nya berharap salah satu diantara kedua anaknya ada yang mewarisi wajah tampan Harry dengan tawa yang membuat ia terpesona.
"Sayang.." panggil seseorang yang ia pikirkan sedari tadi.
Fadia nyengir ketahuan berdiri melihat mereka. Ia pun celingukan mencari dimana keberadaan ibu mertua.
"Sayang.. Cari siapa?" tanya Harry yang masih duduk di ranjang sang adik.
Fadia menggeleng. "Maaf aku ganggu mas, aku balik ke kamar ya.." Ia merasa ketahuan seperti penguntit.
Harry bangkit lalu berkata. "Nanti mas mau bertemu dengannya, kalau dia tetap menuruti orang tuanya persiapkan hatimu."
Iya mas." jawab Hanum lirih.
"Dan kamu harus nurut kata mas." sambungnya melangkah menghampiri sang istri.
...****...
"Mas maaf ganggu tadi." Fadia merasa tidak enak padahal ia hanya bermaksud melihat saja tapi karena lamunan tentang tawa Harry yang membuat ia terpesona menjadi ketahuan.
Harry hanya tersenyum mengeratkan pelukan di pinggang Fadia membawanya ke kamar. Setelah berada di dalam kamar, Harry mendudukkan sang istri di tepi ranjang lalu ia memutari kasur dan menggendong Gadhing untuk di pindahkan ke kamar orang tuanya.
Fadia sudah tahu maksud Harry. Tiba-tiba jantung nya berdegup jantung memikirkan hal apa yang akan di lakukan Harry.
Tidak memungkiri jika ia merindukan sentuhan sang suami karena keduanya harus menahan hasrat itu akibat Fadia dehidrasi dan mudah lelah mengakibatkan harus beberapa kali di infus selama bulan Ramadhan ini.
Ada rasa bersalah jika memikirkan kehamilan sekarang tidak bisa berbuat apa-apa. Beruntung dua Minggu terakhir ia merasa jauh lebih baik karena itu mereka bisa mudik ke Malang tapi yang pasti dengan banyak bekal obat dari dokter dan tetap menjaga kesehatan.
Fadia melihat Harry masuk kamar dan mengunci pintu dari dalam.
🌸
Bersambung...
*Apa kabar para readers ku?
pada sehat kan*?
__ADS_1