
Sebulan sudah waktu berlalu dari kejadian saat Fadia menjemput Gadhing dirumah orang tua Elsa. Ia terlalu kecewa pada sahabatnya itu.
Dan lebih membuat ia marah dan kecewa pada Elsa adalah dengan tidak merasa bersalahnya Elsa setelah bertanya Harry kemana dia beranjak menuju teras rumah berpura-pura bermain ponsel namun matanya menatap rumah Fadia.
Tapi ia mencoba semua baik-baik saja. Sekarang jika Gadhing meminta kerumah orang tua Elsa, ia akan mengantar nya dan menjemput sebelum Elsa pulang kerja. Belum siap bertemu Elsa itulah alasan nya.
Fadia terkejut melihat Harry pulang sebelum Gadhing pulang sekolah. Melihat suaminya tampak pucat dan lemas ia bergegas menghampiri.
"Kamu kenapa?" tanyanya khawatir sembari menggandeng Harry membawanya ke ruang tamu setelah Harry melepaskan sepatu kerjanya.
Harry menggeleng lemah. "Aku tidak tahu Yu.. Tadi saja pas apel aku muntah-muntah, terus aku ke ruangan ku saja tetap muntah-muntah. Dan aku tidak ada keliling blok dari tadi."Seperti biasa, Harry lebih nyaman mengaduh pada istrinya.
Jika ia tampak tenang dan tanpa ekspresi di luar sana, maka jika dengan Fadia kebalikan nya. Harry akan berekspresi banyak hal.
"Apa perut mu sakit?" tanya Fadia.
"Perutku kembung dan aku akan merasa mulai karena mencium parfum para karyawan. Perutku kayak di aduk-aduk Yu."
Harry terus mengaduh apa yang dirasakan nya sembari memeluk Fadia mencari ketenangan disana. Dan benar saja, ia bergeming tatkala menemukan tempat ternyaman nya.
Kepalanya bersandar di atas payu dara Fadia sembari memeluk erat.
Fadia yang mengerti Harry akan bersikap manja saat tidak enak badan pun membiarkan apa yang dilakukan sang suami. Ia belai lembut kepalanya.
"Di kamar saja yuk.. Biar sampai tiduran. Sepertinya kamu benar-benar sakit." ucap Fadia.
Fadia merebahkan tubuhnya dan disusul Harry langsung mengambil posisi memeluk Fadia sembari meletakkan kepalanya di atas payu dara istrinya seperti tadi.
"Kita ke klinik saja yuk.. Atau ke dokter periksa kamu.." ajak Fadia.
Harry menggeleng. "Aku sudah sembuh tidak mual lagi setelah berada di dekat mu Yu. Harum badan kamu tidak buat aku mual."
Fadia hanya pasrah, padahal ia tidak setuju dengan apa yang di katakan Harry. Mana ada sakit obat nya hanya bau tubuhnya.
Aneh.
...****...
Jam sudah menunjukkan waktu untuk menjemput Gadhing sekolah. Sementara Harry masih terlelap dalam dekapan nya.
Ia mengurai pelukan memandangi wajah Harry sedikit pucat. Mungkin muntah-muntah tadi begitu menguras tenaga nya.
Di hujani kecupan wajah Harry hingga terusik tidurnya. Ia tersenyum tatkala Harry mulai mengerjap mata dan melihat dirinya pertamakali membuka mata.
"Masih pusing?" tanya Fadia memastikan.
__ADS_1
"Sedikit. Aku mau jemput Gadhing dulu baru balik kerja." jawab Harry seraya bangkit dari rebahan.
Fadia ikut bangkit dan mencegah Harry. "Tetaplah disini dulu, biar aku yang jemput ya.. Sekali ini saja biarkan aku naik motor sendiri."
Selama mereka kembali dari Malang, Harry tidak memperbolehkan Fadia untuk naik sepeda motor sendiri. Harus ia yang menjadi sopir untuk istrinya.
Harry mengangguk pasrah. "Baiklah hati-hati Yu dan jangan terlalu cantik kalau pergi tidak bersamaku."
Fadia tergelak mendengar larangan nya. Dalam keadaan sakit pun Harry tetap saja cemburuan.
"Baiklah Baginda raja.. Hamba menuruti apapun yang Baginda katakan."
Fadia beranjak dari tempat tidur lalu mencari sweater pink kesukaan nya dan mengganti celana nya dengan celana panjang.
"Aku pergi dulu ya.." pamit Fadia mencium punggung tangan Harry yang sedang rebahan lalu ia kecup pipi Harry.
"Kalau ada apa-apa telepon aku ya.." sambung nya lagi dan di balas dengan anggukan oleh Harry.
Tidak lupa ia membawa dompet selain kunci sepeda motor. Melajukan sepeda motor matic nya dengan kecepatan sedang menuju sekolah Gadhing.
Setelah berada di pelataran sekolah TK Gadhing, Fadia memilih duduk di atas sepeda motor daripada harus bergabung dengan ibu-ibu wali murid lain nya. Masih mengingat betul bagaimana terakhir mereka mencibir Fadia seorang janda.
Fadia berdecak saat telinga nya mendengar mereka membicarakan dirinya. Stigma negatif tentangnya belum juga menghilang. Bagaimana mau hilang? wong Fadia menikah dengan orang yang terpengaruh di salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit Kabupaten Kota tersebut.
Dan ia juga tahu beberapa dari mereka adalah istri karyawan di perusahaan perkebunan tempat suaminya bekerja.
"Bunda.." panggil Gadhing berlari kearah Fadia.
Fadia tersenyum melambaikan tangan pada anaknya. "Nulis apa hari ini nak?"
"Gambar sama hafal surah An-Naba' Bun."
Fadia meringis mendengar hafalan surah An-Naba'. Karena ia tahu itu surah yang ayat nya banyak. 40 ayat.
"Gadhing sudah hafal berapa ayat?"
"Baru sepuluh Bun. Di suruh ibu guru 20 ayat dulu." jawab Gadhing berada di boncengan.
Fadia semakin meringis karena ia pun tidak hafal surah An-Naba'.
...****...
"Ayo kita salim ayah dulu. Ayah sakit sayang." ajak Fadia setelah sampai di rumah.
Ia melangkah cepat saat mendengar suara suaminya sedang muntah-muntah di dalam kamar.
Dengan sigap ia memijat tengkuk leher Harry. Ia semakin khawatir dengan keadaan Harry.
__ADS_1
"Kita berobat ya.." ajak Fadia sembari menggandeng Harry ke tempat tidur.
Harry hanya menggeleng.
Fadia menghela nafas. "Sebentar aku ambilin air hangat dulu."
Gadhing melihat ayahnya terbaring lemah ikut sedih. Karena selama ini ia tidak pernah tahu Harry sakit.
"Ayah sakit apa?" tanya Gadhing.
"Hanya masuk angin." jawab Harry tersenyum.
Gadhing mendekati Harry dengan niat memeluk ayahnya namun Harry mencegah langsung bangkit berlari menuju kamar mandi lagi.
Sungguh perut nya sangat tidak nyaman dengan apa yang ia cium.
Lagi-lagi Fadia merasa khawatir dengan keadaan Harry. Di letakkan segelas air hangat dan sebungkus warna kuning obat cair minuman orang pintar. Lalu menuju kamar mandi lagi.
Selesai membasuh wajah Harry beralih menatap Fadia dengan mata memerah mendadak hatinya berubah mellow.
"Kamu jangan jauh-jauh Yu.." ucapnya sendu memeluk Fadia.
Jujur Fadia merasa bingung dengan sikap Harry sekarang, kenapa semakin bertambah manja dan aneh.
"Ayo kita ke ranjang dulu ya.. Aku sudah bawa air hangat dan obat masuk angin untuk mu."
Harry menggeleng. "Ada Gadhing. Perut ku mual lagi tadi karena tercium bau keringat Gadhing Yu."
Fadia mengerutkan keningnya semakin merasa aneh pada Harry. Bukan hanya Gadhing yang bau keringat, dirinya juga begitu.
"Aku juga bau keringat loh.."
"Tidak. Kamu wangi dan membuat ku nyaman. Tidak mual lagi juga."
Fadia tidak menjawab, ia hanya melangkah keluar kamar mandi dan menyuruh Gadhing mandi lebih dulu jika ingin dekat dengan ayahnya.
Dan ia membawa Harry duduk di tepi tempat tidur memberikan air hangat dan obat masuk angin.
"Yu.. Minggu depan kamu di tunjuk untuk periksa perumahan pondok karyawan loh.."
Fadia mengangguk saja. Jujur ia merasa tidak enak pada orang perumahan pondok. Bagaimana pun dulunya ia berteman dengan mereka saat bekerja di sana juga.
"Aku mandi dulu ya.."
"Jangan.. Peluk aku saja Yu.."
🌸
__ADS_1
Bersambung...