Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
3 pasang


__ADS_3

"Sayang.. Sejak kapan ada disini?" tanya Harry yang sudah menghampiri Fadia.


"Maaf ya.." Fadia nyengir kuda pada pelanggan tukang bakso disana.


Fadia tersenyum menatap Harry dan mengajak Harry duduk di sebelahnya kebetulan kosong.


Iaenatap Harry masih dengan wajah keterkejutan nya.


"Kenapa ada di sini?" tanya Fadia mulai interogasi.


"Di ajak Yudha kesini." Harry berkilah.


Yang di sebut namanya hanya mencebik bibir saja. Selalu dia menjadi tumbal dari kedua sahabat nya.


"Kamu mengikuti ku kan?"


"Ti-dak sayang." Harry berkilah lagi. Ia takut jika istrinya tidak suka atas perlakukan nya itu.


Tapi ketakutan nya itu salah besar. Kini Fadia sudah tertawa di tengah keributan para pelanggan di warung tersebut.


"Kamu tidak marah?" tanya Harry.


"Untuk apa marah? aku bahkan lebih suka kamu ikut tadi." keluh Fadia karena ia memang merasa tidak mood tadi.


Hanya kamu dan Gadhing yang bisa merubah mood ku. Ah.. Apa kabar anakku?


Harry tertegun mendengar ucapan Fadia. Dan ia menyesali itu. Ia memperhatikan wajah Fadia dan ia tidak salah dengan apa yang tadi dilihatnya bahwa sang istri sedang tidak baik-baik saja.


"Kita pulang yuk."


Fadia mengangguk.


"Kita naik taksi saja." ujar Harry.


"Tidak mau. Aku suka naik angkot." tolak Fadia.


Tapi sepertinya Harry saat ini tidak ingin di bantah. Ia memberikan dua kantung plastik berukuran besar pada Yudha.


"Kalau memang serius sama adik ku, bawak ini dan cari cara untuk membuat ku menyetujui nya. Aku pulang berdua dengan istriku." tukas Harry pada Yudha.


"Serius bro? ah.. kamu memang sahabat ku.. Bukan-bukan tapi abang ipar."


Harry hanya mencebik bibir dan melihat sang adik tersenyum bahagia di sebelah Yudha. Ia pun beralih menatap Fadia yang sudah berdiri di sebelahnya.


"Aku mau bayar ini semua dulu ya sayang." kata Fadia.


"Kenapa kamu?" tanya Harry.


"Masih ada uang kamu tadi."

__ADS_1


"Aku ikut."


Ketiga pasangan itu keluar dari warung tersebut dan berjalan ke jalan raya dengan satu pasang menunggu taksi sedangkan dengan yang lain menunggu angkot.


Harry membuka pintu mobil taksi untuk Fadia dan ia memutar mobil dan membuka pintu untuk nya sendiri.


"Kamu kenapa?" tanya Harry setelah taksi mulai berjalan.


"Aku hanya merindukan mu." elak Fadia. Rasanya tidak pantas bila di bahas di mobil pikirnya.


"Oh ya? ya sudah kalau begitu nanti sampai rumah kita langsung ngamar ya.." ujar Harry dengan senyum nakal nya.


Fadia merutuki ucapannya sendiri. Ia lupa jika Harry akan terus berpikir mesum saat dengan dirinya.


Fadia bergeming beralih memainkan ponsel nya yang selalu ramai dengan grub WhatsApp dari grub sekolah SMP, SMA, grub para karyawati, dan sekarang bertambah satu grub suaminya.


Harry tetap duduk anteng dengan satu tangan mendekap pinggang Fadia dengan posesif dan satu tangan memainkan ponsel juga.


Fadia tersenyum saat mengetik sesuatu di ponsel nya. Entahlah.. Ini bukan dirinya. Untuk pertama kalinya ia berani melakukan hal ini.


Fadia :


Bengi peteng, awane padang. Ora kudu ganteng, sing penting sayang.


(Malam gelap, siangnya cerah. Tidak harus ganteng, yang penting sayang)


Fadia mengirim pesan WhatsApp itu untuk Harry. Sungguh belum juga Harry bereaksi sudah membuat ia tersipu malu.


Harry berdehem setelah membaca isi pesan dari Fadia. Di tatapnya sang istri sudah menunduk menyembunyikan wajah nya yang memerah.


Di raih dagu lancip alami Fadia dengan senyuman yang memabukkan Fadia. Tidak ada kata yang terucap hanya lewat mata menyampaikan apa yang ada di benak masing-masing.


Di labuhkan bibir nya dengan bibir Fadia. Kedua bibir itu saling berpagut dan melu mat satu sama lain.


Harry menahan tengkuk Fadia agar memperdalam pagutan. Lewat ciu man itu ia menyampaikan rasa cinta yang begitu dalam. Setelah ia resapi hatinya, ia menyadari bahwa hati nya sudah sangat lama terpaut nama Fadia disana.


Berbeda dengan Fadia. Dari pagutan ini ia mengutarakan bahwa ia takut Harry akan tergoda dengan penggoda di luar sana. Apalagi memikirkan jika benar Elsa menginginkan Harry. Apa Harry akan bertahan dan tidak terpengaruh dengan pesona Elsa yang masih gadis?


"Bernafas sayang.." ujar Harry melepaskan pagutan karena tahu Fadia mulai kehabisan stok udara.


Fadia mengangguk. "Maaf."


Harry mendekap Fadia. Sedari tadi ia menyadari ada yang berbeda dengan istrinya.


****


"Dik.. Tadi kamu dengarkan apa kata Harry?" tanya Yudha antusias.


"Ya.." jawab Hanum singkat. Ia senang tapi tidak ingin memperlihatkan pada Yudha. Walau hati nya telah lama jatuh pada pesona salah satu sahabat sang kakak, ia tetap harus memastikan Yudha sudah benar-benar melupakan mantan tunangan nya atau ia hanya sebagai pelampiasan.

__ADS_1


"Kamu kok kayak tidak senang gitu?"


"Mas Yudha masih ingat mantan."


"Itu butuh waktu untuk melupakan nya Hanum.. Tentu tidak mudah karena kami sudah berhubungan selama 2 tahun."


"Ya sudah tunggu lupa saja aku seneng nya." jawab Hanum santai sembari melintir rambut pendek nya meninggalkan Yudha yang masih berdiri terpaku dengan menenteng kantung plastik besar milik Fadia.


Mas sama adik sama-sama menyebalkan. Tapi kamu sangat menggemaskan Hanum..


Ketiga pasangan itu memilih pulang sendiri-sendiri dengan berpasang-pasangan. Entah apa maksudnya. Tapi itu seperti ide yang tidak buruk.


****


"Ini taman sering kami buat untuk ketemuan dengan perempuan dulu saat SMA." ucap Ricky tersenyum membayangkan masa SMA nya dulu.


Saat ini Elsa dan Ricky memutuskan untuk mampir ke taman kota. Tidak ada niat terselubung disini. Hanya ingin mengajak Elsa saja.


Koreksi. Mungkin belum.


"Termasuk Harry ketemuan disini?" tanya Elsa penasaran.


Ricky menelisik raut wajah Elsa dan tersenyum menyadari sesuatu.


"Tidak. Dunia nya hanya di penuhi dengan Ayu." Ricky terkekeh dengan perkataan.


"Maksud mas apa?" Lidah nya sedikit kaku memanggil Ricky mas. Ini adalah pertama kali keduanya berbicara berdua.


"Semenjak aku mengenalkan Ayu pada Harry, dunia nya berubah. Dia lebih sering tersenyum di depan handphone nya dan aku tahu itu karena Ayu. Apa Ayu tidak pernah cerita?" pancing Ricky.


Elsa menggeleng karena benar Fadia tidak pernah cerita sedetail itu padanya.


"Tapi nyata nya seperti itu. Harry akan uring-uringan kalau Ayu tidak ada kabar. Entah apa yang di rasakan Harry saat tahu Ayu menikah saat itu karena kami harus terpisah jarak." Lagi-lagi Ricky melihat raut wajah Elsa yang murung menahan rasa cemburu.


"Dan karena aku tahu Harry begitu ketergantungan pada Ayu, aku mengalah untuk tidak lagi berkomunikasi dengan Ayu." lanjutnya.


Elsa menatap Ricky. "Kenapa begitu?"


"Karena aku tidak mau hubungan persahabatan kami hancur karena menyukai orang yang sama. Perasaan itu salah dan semoga kamu mengerti." jawab Ricky lugas dan berniat menyindir Elsa.


Deg


Elsa membeku mendengar itu. Ia menatap Ricky.


"Menikahlah dengan ku agar kamu tidak menggangu sahabat ku terlalu jauh."


🌸


Bersambung..

__ADS_1


*Terimakasih banyak untuk para readers ku..


Jauhi perasaan yg salah ya.. Seperti Elsa misalnya. Itu sangat salah*.


__ADS_2