
Di tengah ke badmood an nya, ia mengambil ponsel yang bergetar tanda pesan masuk. Senyum itu terukir kala orang yang menjadi suaminya beberapa hari ini mengirimkan kalimat ungkapan isi hati untuknya.
Harry :
Senyum lah. Karena senyuman mu adalah sebagian dari semangat hidup ku.
Seakan kalimat itu memiliki penyakit menular yang mampu menularkan pada Fadia. Dengan semangat ia membalas pesan WhatsApp dari Harry.
Fadia :
Aku tidak mood.
Tapi tunggu. Mengapa Harry mengirim kan pesan begitu? apa Harry tahu jika sejak tadi ia tidak tersenyum?
Fadia pun akhirnya celingukan mencari seseorang. Entah mengapa rasanya seperti Harry berada di dekat nya.
Namun hasilnya nihil. Dan tanpa sengaja jemari nya menekan ikon panggilan video call. Seketika ia menjadi gelagapan. Ingin menekan ikon akhihi panggilan namun terlambat. Harry sudah mengangkatnya.
Gugup.
Itulah yang di rasakan Fadia kala melihat wajah tampan suaminya.
"Ada apa sayang?"
Fadia hanya menggeleng dan memperhatikan Harry.
"Kamu kenapa? kok ngos-ngosan gitu?"
"Eemm itu sayang.. Lagi.."
"Lagi apa?"
"Lagi main sama Yudha dan Ricky Yu.."
"Ya sudah.. Kami sudah selesai."
Panggilan video terputus sebelum Harry menjawab perkataan nya.
"Mbak.. kamu sudah selesai." ucap Hanum.
Fadia mengangguk. "Biar mbak bayar dulu ya.."
****
"Gila parah.. Sudah kayak anak SMA kita yang main kucing-kucingan." keluh Yudha yang nafasnya masih terengah-engah.
Tadi ketika Harry panik saat Fadia melakukan panggilan video, ia lari ngacir meninggalkan kedua sahabatnya dan tentu kedua sahabat itu auto ikutan panik.
Dan disinilah ketiganya. Di warung bakso pinggiran yang berada di pintu masuk Pasar Minggu.
"Mas. Mie ayam bakso 3 mangkuk dan es jeruk nya 3 ya." teriak Yudha.
Dari tiga sekawan ini, Yudha lah lebih cerewet dan mudah baperan pada seseorang. Berbeda dengan Harry dan Ricky. Jika Harry kaku pada setiap gadis berbeda dengan Ricky. Dia bisa menerima siapa saja dan melakukan apapun yang membuat dia merasa senang dan puas. Belum ada yang bisa menyentuh hatinya.
Saat bersama Sundari juga dia mau melamar nya karena tanggung jawab sudah pernah melakukan hubungan intim.
Begitu juga Harry pernah mengajak Sundari menikah karena Sundari terus menuntut perhatian pada Harry. Ia berpikir jika menikah pasti Sundari akan ia perhatikan. Tapi Allah berkehendak lain. Bukan Sundari jodoh Harry maupun Ricky.
"Ini mas-mas ganteng.. Selamat menikmati" tutur penjual bakso.
__ADS_1
"Terima kasih ya mas." yang hanya di jawab Yudha dengan ramah.
"Terimakasih." jawab Harry dan Ricky tenang.
Ketiganya makan dengan hening menikmati mie ayam bakso yang memanjakan lidah masing-masing.
Tidak ada yang yang menyadari jika seseorang yang mengenal mereka sudah duduk di depan meja meraka.
Mereka hanya berpikir itu adalah pelanggan si penjual bakso. Karena sudah biasa orang yang tak saling kenal duduk dalam satu meja jika makan di pinggiran begini.
Orang itu adalah Fadia. Sedangkan Hanum dan Elsa duduk di meja lain. Sebenarnya Elsa tadi ingin duduk bersama dengan Fadia, tapi Hanum dengan sigap menarik tangan Elsa agar duduk di meja lain.
Fadia menggeleng kepala melihat suami nya duduk di depan ia sekarang. Pantas saja Harry mengirim pesan WhatsApp seperti itu.
Pantas saja. Haahh.. Sudah ku duga dari awal tidak mungkin Harry mengijinkan ku dengan mudah keluar tanpa dirinya. Lihat lah ketiga orang ini apa tidak ada yang melihat ku?
Bakso pesanan Fadia pun terhidang kan di depan nya. Dengan santai ia memasukkan saos lalu sambal, dan kecap. Ia aduk-aduk sembari menghirup harum mie ayam bakso di mangkuk nya.
Belum sadar juga? astaga.. seperti dunia milik mereka.
Fadia mulai menyuapkan bakso ke dalam mulutnya. Untuk sejenak ia tidak memperdulikan sang suami yang belum juga menyadari kehadiran nya.
Ah.. Aku baru ingat, tidak boleh terlihat kayak ada masalah. Bisa-bisa aku di gempur sampek pagi.
Fadia melihat Harry sudah menyelesaikan makan nya dan tetap menunduk menatap ponsel nya.
Fadia sedikit berdiri melihat apa yang dilakukan Harry dengan ponsel nya ternyata sedang melihat foto-foto dirinya di galeri foto.
Bibirnya membentuk lengkungan. Sungguh ia merasa sangat di cintai oleh suaminya itu. Ia mendudukkan tubuhnya kembali sembari tetap tersenyum.
Mengingat bagaimana Harry dulu sebelum bertemu dengan nya. Setiap hari selalu saling komunikasi menceritakan apa saja yang dilakukan pada hari itu. Harry yang perhatian dan ia lah yang selalu cerewet padanya.
Fadia :
Fadia sengaja mengirim pesan pada Harry.
Harry :
Lagi mikirin kamu. Kangen 😌😟
Demi apapun. Ingin sekali Fadia mencubit pipi Harry saking gemas nya.
Fadia :
Aku selalu dekat dengan mu. Masih kangen?
Dua tanda centang langsung berubah warna biru itu menandakan Harry sedang menunggu balasan darinya
Harry :
Jangan menghibur ku dengan kebohongan Yu. Kamu sedang asik belanja.
Fadia :
No baby.. Aku ada di dekat mu.
Harry mencebik bibir nya setelah membaca pesan dari Fadia. Ketiga nya larut dalam dunia maya masing-masing.
Fadia hanya memperhatikan saja. Sembari menguping pembicaraan para pria di depan nya.
__ADS_1
"Harr.. Hanum aku pacarin boleh?" izin Yudha pada Harry.
"Nanti setelah anak ku lahir." jawab Harry tanpa beralih pandangan yang fokus pada ponsel nya.
"Memang nya Ayu sudah hamil?" tanya Ricky.
"Ya belum lah goblok.. Aku nikah baru seminggu. Tapi kayak nya aku harus kerja keras mulai nanti malam." Harry kini duduk bersandar dan tersenyum namun mata tetap fokus pada ponselnya.
Fadia salah tingkah dan mendadak ia menjadi gugup mendengar apa yang di katakan Harry. Bisa di pastikan ia akan di kurung nanti malam.
Ponselnya bergetar tanda ada notifikasi pesan WhatsApp masuk.
Harry :
Kamu kangen aku tidak?
Fadia :
Biasa saja.
Harry :
Kamu selalu begitu. Tapi saat aku anu selalu men de sah nama ku.
Demi apapun.. Ingin sekali Fadia menjitak kepala Harry sekarang juga.
Fadia :
Jangan mesum atau aku jitak sekarang?
Harry :
Jitak saja. Kamu kan tidak tahu aku dimana. 😋
Fadia menyeringai membaca pesan terakhir Harry. Sungguh kesempatan emas batin nya.
Fadia :
Aku jitak ya? tapi jangan marah.
Harry :
Iya sayang.
Fadia meletakkan ponsel di atas meja menatap suaminya yang belum menyadari kehadiran nya. Ia mengepalkan tangan nya bersiap memberi jitakan untuk suaminya. Ia berdiri bersiap untuk melakukan tujuan nya.
Cetak..
"Awh.." Harry meringis mendongak melihat siapa yang berani menjitak nya.
Gubrak..
Harry terkejut bukan main. Bahkan ia menjadi pusat perhatian karena suara decitan kursi plastik yang ia duduki mundur kebelakang.
"Sayang.. Sejak kapan ada disini?" tanya Harry yang sudah menghampiri Fadia.
🌸
Bersambung...
__ADS_1
*Para readers ku yang baik hati yang selalu emak sayangi..
Mohon dukungan nya. klik vote karya emak ini ya.. karena vote kalian membantu emak untuk memajukan karya emak ini*..