
Setelah meninggalkan Giyan yang belum beranjak pergi dari posisinya, Naina berbalik badan melihat kearah Giyan yang masih terpaku di belakang sana.
Naina melempar senyum manis yang malah membuat hati Giyan tambah tak karuan. Ingin rasanya Giyan berlari menuju Naina dan hendak menggapai sang pemilik senyum indah tadi. Tapi nalarnya masih berfungsi dengan normal, tak mungkin itu ia lakukan di kantor saat ini. Yang ada malah nanti disangka merebut isteri orang.
Tapi pemikiran konyol tersebut justru mampir dan bersarang dihati Giyan.
Masa iya aku sudah jatuh cinta pada Naina? kalau iya itu terjadi apakah harus aku menjadi perebut isteri orang? Mampukah aku melakukan itu? Lebih dari itu, seribu pertanyaan yang tak mampu ia jawab, berkecamuk dalam hati dan benaknya.
Seakan akan moment yang baru saja terjadi di simpang koridor gedung tadi membuat Giyan merasakan ada peluang untuknya agar bisa lebih dekat dengan Naina. Namun ia masih menahan diri, karena tahu Naina milik Reyhan, yang termasuk dalam daftar teman karibnya juga.
Hari-hari kini berlalu semakin cepat. Dan Naina pun sudah kembali ceria seperti sedia kala. Rumah tangganya berjalan harmonis sesuai yang di impikan walau mimpinya untuk segera hamil belum terwujud.
Dan dilain hari, waktu sudah menunjukan pukul 16.15 Wib. Jam kantor telah berakhir 15 menit yang lalu. Karyawan yang berada di dalam kantor satu persatu meninggalkan Gedung PT. Prakarsa.
Di sisi gerbang Giyan yang baru melewati pintu keluar melihat wanita yang akhir-akhir ini sering kali mengganggu pikirannya tersebut. Yaaaaapps betul sekali, yang dilihatnya memang Naina Jasmine yang sedang berdiri ditemani Nita dan juga Tika.
Giyan menghentikan langkahnya yang tadinya hendak menuju mobilnya diparkiran kanan gedung. Namun melihat Naina dirinya pikir sayang jika dia lewatkan kesempatan untuk memandang Naina, walau dari kejauhan.
Nita yang menyadari bahwa Giyan sedang memperhatikan dari arah seberang memberi kode pada Naina agar menoleh ke arah Giyan berada. Naina pun menoleh seketika dan langsung melemparkan senyum manis untuk Giyan seraya melambaikan tangannya. Memberi tanda agar Giyan mendekat dan ikut bergabung dengannya.
Giyan yang berada di halaman gedung pun menangkap sinyal yang diberikan oleh Naina. Dan tak lupa pula membalas senyumnya seraya beranjak maju melangkah mendekati Naina, Nita dan juga Tika.
"Nai, Tik...kalau dilihat lihat nih ya, Bos kita itu ganteng juga lho, tapi kenapa masih jomblo yah? Padahal kalau dia mau sama aku dan rela jadi yang kedua setelah Mas Angga, aku mau jadi pacarnya." celoteh Nita.
__ADS_1
"Mana mau Bos sekeren dia jadi yang kedua, mending sama aku yang masih sama-sama jomblo juga, itu akan lebih serasi pastinya, ya nggak Nai..?" jawab Tika seenaknya pula.
Naina hanya senyum-senyum mendengar kedua sahabatnya yang saling berebut Giyan.
Memang pesona Giyan tak kalah bisa membuat hati kaum hawa meleleh melihatnya. Hanya saja Giyan tak bisa akrab dengan sembarang orang. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa dekat dan berteman dengannya.
Termasuk Naina yang dulunya tidak saling sapa walau satu staf dengannya. Hingga Naina dalam hati menjulukinya si Monster yang angkuh.
Tapi setelah Giyan naik jabatan 3 bulan sebelum pernikahan Naina dan Reyhan, dirinya dan Giyan mulai akrab dan saling merespon. Dari situlah kedekatan Naina dan juga Giyan terjalin hingga menular pada Nita dan juga Tika yang akhirnya juga akrab dengan Giyan.
"Kalian belum pulang?" sapa Giyan dengan bertanya. Maksud hati sih mau bertanya hanya pada Naina, tapi tidak enak hati jika mengabaikan 2 sahabat Naina.
"Sedang nunggu angkot Mas, Mas sendiri kok belum pulang? Apa ada yang ditunggu juga?" jawab Naina.
"Ini baru mau pulang, kenapa harus nunggu angkot? Suamimu mana?" tanya Giyan lagi semakin ingin tahu.
"Mas Reyhan sedang ada meeting mendadak, jadi nggak bisa jemput aku, sedangkan Nita motornya masuk bengkel, dan akhirnya Tika pun yang biasa nebeng Nita harus ikut nunggu angkot bareng aku." jelas Naina panjang kali lebar.
Seperti tak ada rasa lelah sedikitpun dari raut wajah Naina. Wajahnya selalu terlihat segar dan ayu, walau seharian dirinya harus berkutat didepan komputer dan berkas-berkas yang harus dikerjakannya, sungguh keringat dan lelahnya tak mengurangi kecantikan wanita yang kini meratui alam pikiran Giyan Mahesa.
"Nai, Nit, Tika...ikut aku saja gimana? Kita kan searah? Hanya saja yang tidak searah Naina, tapi biarlah kita bareng saja. Lagian sudah sore kan, nunggu angkot juga belum tentu ada apa enggak." rayu Giyan berharap Naina mau menerima tawarannya.
"Kalau aku, yes!!" jawab Nita singkat.
__ADS_1
"Aku juga, yes!!" jawab Tika juga tak kalah singkat.
"Sekarang tinggal kamu Nai, yes or no? Keburu Bos kita berubah pikiran tuh." desak Nita seraya menyenggol lengan Naina yang sepertinya ragu untuk ikut bersama Giyan.
"Ngerepotin si Bos nggak nih?" tanya Naina memastikan dulu, bahwa nantinya tidak menjadi beban untuk Giyan yang harus mengantar 3 orang sekaligus.
Giyan tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Jadi sekarang kalian tunggu disini ya, aku ambil mobil dulu disamping sana." ucapnya seraya berlari kecil menuju parkiran.
Hatinya senang akhirnya dirinya mendapat kesempatan untuk berbuat baik lagi pada Naina.
Dirinya tak berharap lebih, selain untuk bisa memandang lebih lama sang wanita yang telah menganggu pikiran dan hatinya.
-
-
-
-
#Apa lagi yang akan terjadi selanjutnya? Nantikan terus episode berikutnya.
__ADS_1
Biar nggak patah semangat bantu vote dan likenya yah kawan..😚