
Berdasarkan hasil beberapa penelitian, cinta dapat membuatmu stres, baik pria maupun wanita. Ini karena ketika jatuh cinta, senyawa yang terhubung dengan sirkuit otak, menghasilkan berbagai macam reaksi fisik dan emosi.
Mulai dari jantung yang berdebar nggak beraturan, telapak tangan yang berkeringat, pipi yang bersemu kemerahan, merasakan gairah serta cemas.
Tingkat kortisol, hormon stres, juga meningkat selama fase awal cinta yang romantis, membuat tubuh berhadapan dengan masa 'krisis'. Seiring meningkatnya level kortisol, level serotonin jadi menurun. Ini dapat menimbulkan perilaku obsesif-kompulsif yang berkaitan dengan kasmaran pada semua orang.
Meski merasa stres ketika jatuh cinta, ada rasa aman dan nyaman saat bersama pasangan. Senyawa lain yang bekerja selama jatuh cinta adalah oksitosin dan vasopressin, hormon yang berperan dalam kehamilan, menyusui, dan hubungan ibu-anak.
Kedua senyawa ini dihasilkan saat bercinta dan meningkat karena adanya kontak langsung pada kulit satu sama lain. Oksitosin memperdalam perasaan keterikatan dan membuat sepasang kekasih merasa lebih dekat satu sama lain setelah bercinta. Oksitosin yang juga dikenal sebagai hormon cinta juga memicu perasaan puas, tenang, dan aman, yang sering berkaitan dengan ikatan pasangan.
Itulah yang dirasakan baik Fadia maupun Harry. Keduanya memang saling mengenal sangat lama namun kembali lagi, saat kedua orang berbagai perbedaan di persatukan maka akan banyak hal yang menimbulkan mengarah ke stres tapi tetap saja akan berakhir di atas ranjang dan membuat keduanya kembali merasakan damai dan merasa lebih dekat.
Sepertinya kalimat ini cocok untuk Harry dan Fadia.
Masalah akan hilang kalau ranjang sudah bergoyang.
"Badan ku capek Rry..." rengek Fadia setelah ia rapi dan keduanya akan check out dari hotel.
Harry terkekeh lalu mencium kening dan bibir Fadia memberikan luma tan sekilas disana.
"Kamu buat aku nagih sih.. Ya sudah nanti malam kamu bebas deh." ujar Harry karena ia juga mengerti kalau Fadia kelelahan akibat ulahnya.
"Benar? tidak bohong kan?" tanya Fadia antusias dengan mata berbinar.
Harry mengangguk dan tersenyum. "Iya sayang.. Ayo kita pulang." ajak Harry seraya menggenggam tangan Fadia.
Fadia hanya tersenyum menanggapi ucapan Harry seraya menyeimbangkan langkah menuju taksi online yang sudah Harry pesan untuk mereka.
Seperti sebelumnya, Harry membukakan pintu mobil untuk Fadia dengan tangan di atas kepala Fadia agar tidak terbentur. Kemudian memutari mobil dan masuk disisi sebelah Fadia.
"Nanti malam ajak Gadhing tidur dengan kita Yu." ucap Harry.
Fadia menatap Harry penuh tanda tanya karena ini adalah pertama kalinya Harry meminta Gadhing tidur bersama mereka.
"Serius?"
Harry mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa Yu?"
"Yakin Gadhing tidur sama kita? nanti kamu tidak bisa peluk aku loh.." Tidak salah Fadia mengatakan itu, karena nyatanya Harry selalu tidur memeluk dirinya dan lebih parahnya Harry suka melakukan sesuatu yang seharusnya wanita lakukan.
__ADS_1
"Kamu di tengah jadi bisa ndusel-ndusel kayak biasanya."
Fadia hanya mencebik bibir saja.
Butuh waktu 20 menit untuk sampai di rumah orang tua Harry karena tadi mereka sudah di tengah jalan sebelum akhirnya mampir ke hotel. Tidak lama di hotel hanya 5 jam dan benar-benar di manfaatkan Harry untuk membuat Fadia mende sah hebat tanpa takut suara nya akan di dengar orang lain.
"Assalamualaikum.." ucap keduanya.
"Waalaikumussalam."
Harry dan Fadia masuk ke dalam rumah. Fadia masuk ke kamar lebih dulu ingin mengganti pakaian nya sedangkan Harry ke ruang tamu mendatangi orang yang menjawab salam.
"Ngapain masih disini? ini sudah mau Maghrib. Pulang sana." usir Harry pada orang itu yang tak lain adalah Yudha.
"Aku di tahan ibu." jawab Yudha.
Harry hanya bisa melengos dan menanggapi Yudha yang bercerita perkembangan kafe nya. Bukan kafe yang memiliki cabang dimana-mana.
Yudha baru memiliki dua kafe yang tidak begitu besar. Masih merintis dan ia butuh orang yang bisa bertukar cerita. Untuk saat ini tidak ingin bekerja di perusahaan mana pun padahal nilai IPK nya cukup bagus. Alasan nya ia tidak ingin di atur atasan.
Yudha berpikir enak menjadi sahabat satu nya ini. Harry adalah paling pintar dari mereka bertiga jadi pantas Harry mendapat beasiswa dan dapat jabatan lumayan bagus di perusahaan perkebunan. Walau mencapai itu semua pasti ada perjuangan yang tak mengenal lelah.
"Apa tidak mau bekerja sambil mendirikan usaha Yudh?" Harry bertanya seperti itu karena dari cerita Yudha mengalami kesulitan dana dan harus sering mengganti cover dinding kafe akibat persaingan.
Harry menggaruk kepala yang tidak gatal. Ia juga membenarkan bahkan ia juga tahu zaman sekarang kalau tidak ada uang tidak bisa kerja. Rasanya ijazah yang di dapat percuma.
"Di tempat mu ada lowongan tidak Harr?" entah dapat ide dari mana ia mempertanyakan hal itu.
"Belum ada, tapi biasanya setahun sekali ada buka lowongan. Mungkin beberapa bulan lagi. Tapi pikirkan Yudh. Kerja di perkebunan itu susah."
"Susah nya gimana?"
"Mau pakai ijazah kuliah pun kamu akan tetap dari bawah dulu Yudh. Kamu harus bisa dodos, ngegrek pohon sawit, harus bisa babat rumput."
"Kamu bisa Harr?"
"Ya bisa lah. Itu juga aku rasakan dulu waktu masa percobaan."
Banyak obrolan yang Harry terangkan dari kesulitan-kesulitan yang akan di jalani saat bekerja di perusahaan perkebunan dan juga Harry menjabarkan apa yang di dapatkan dari pekerjaan itu seperti premi, keuntungan bunga koperasi karyawan yang tiap tahun di keluarkan, ada bonus tahunan dan tunjangan hari Raya, ada simpanan pensiun, Jamsostek, BPJS ketenagakerjaan.
__ADS_1
Harry melakukan itu agar menjadi pertimbangan untuk sahabat nya ini. Ia juga menceritakan bagaimana akan ada saat Yudha di tegur mandor bahkan asisten seperti dirinya. Ia tahu Yudha tidak suka di atur berbeda dengan Ricky yang memang belum ingin mencari pekerjaan karena sibuk membantu usaha toko roti orang tuanya.
Makan malam pun telah usai, Yudha sudah pamit pulang dan Gadhing juga sudah mereka jemput dari rumah kontrakan.
"Gadhing tidur sama bunda dan ayah ya?"
"Boleh bun?" tanya Gadhing antusias.
"Boleh dong.. Sini bunda peluk."
Saat ini keduanya sudah berada di tempat tidur sedangkan Harry masih membersihkan diri. Ia tersenyum merasakan pelukan Gadhing begitu erat.
"Sayang.. aku juga mau di peluk." rengek Harry sudah rebahan di belakang Fadia.
Fadia pun membalikkan tubuh untuk memeluk Harry namun Gadhing mencegahnya.
"Peluk Gadhing saja bun, sudah lama Gadhing tidak peluk bunda karena ayah terus peluk bunda." bocah laki-laki itu mengeluh pada sang ibu.
Harry mendengar itu langsung protes. "Gadhing kan sudah lama peluk bunda, gantian ayah dong peluk bunda."
"Suruh siapa ayah tidak pulang-pulang." sepertinya Gadhing tidak ingin mengalah malam ini.
"Ayah kerja. Sekarang ayah mau peluk istri ayah." Dan sang ayah pun tidak ingin mengalah malah sudah memeluk Fadia.
"Gadhing juga ingin peluk bunda." Gadhing mulai berontak mencoba melepaskan pelukan Harry di tubuh Fadia.
Fadia tercengang melihat pertengkaran suami dan anak nya. Tidak ada yang mau mengalah seakan melupakan umur yang sudah tidak pantas merebutkan wanita yang sama.
Ia masih diam saja di tengah sesak di dada akibat dari pelukan keduanya.
"Stop... Sesak dada bunda ini." protes Fadia sedikit meninggikan suaranya.
🌸
Bersambung..
*Apa kabar?
semoga kita sehat selalu ya..
__ADS_1
Di tunggu like, vote, dan hadiah nya..
Komen ya biar emak tambah sangat*.