Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Menemani mu


__ADS_3

Sementara Giyan yang baru akan meninggalkan ruang VIP dari atas melihat arah bawah dan melihat Aditya yang menatap ke arah Naina dengan tatapan yang tidak ia sukai.


Giyan bergegas turun dan berniat menghampiri Aditya lagi. Namun Aditya keburu berlalu meninggalkan cafe. Giyan pun merasa sedikit lega. Menatap Naina sejenak lalu kembali duduk di tempat semula.


Ingin rasanya Giyan menghampiri sang pujaan hati. Tapi keinginannya itu ia tahan sebisa mungkin. Takut Naina tidak nyaman dengan kehadirannya.


Sudah cukup lama Naina menunggu Aditya seorang diri. Dirinya merasa ada hal yang terjadi pada Aditya. Rasa penasarannya mulai timbul. Sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 Wib, saatnya jam kerja dimulai lagi. Naina tak memiliki pilihan lain, dirinya harus kembali ke kantor. Nanti Aditya biar dia hubungi lewat telfon.


Akhirnya Naina beranjak dan keluar meninggalkan cafe. Perkiraan Giyan tak meleset. Giyan selangkah lebih maju satu langkah di depan Naina. Dirinya telah siap di dalam mobilnya. Dan begitu Naina terlihat berdiri di bahu jalan, buru buru Giyan menghampirinya. Dia buat seolah olah tak sengaja melihat Naina dan akan mengajaknya kembali ke kantor bersama.


Rencana Giyan memang selalu jitu mengenai sasaran. Naina yang melihat mobil Giyan berhenti di depannya memang mengira Giyan tak sengaja lewat dan melihat dirinya. Naina tak perlu sungkan lagi karena jika di luar kantor mereka berteman cukup dekat.


Dan Akhirnya tak berbasa basi terlalu lama Naina masuk ke mobil Giyan dan mereka kembali ke kantor bersama sama.


"Habis makan enak kenapa nggak ngajak ngajak?" Tanya Giyan sedikit bermaksud untuk mulai mengorek informasi lebih mengenai pertemuannya dengan Aditya.

__ADS_1


"Tadinya mau ngajak Mas Giyan, tapi pas mau ngajak tadi aku cari Mas Giyan diruangan, Mas Giyan udah nggak ada. Mas pergi kemana?" Jelas Naina sembari bertanya.


Giyan baru ingat, memang dirinya meninggalkan ruangan sebelum jam 12 pas. Dirinya siap siap di mobil untuk misi penguntitannya tadi. Jadi begitu Naina keluar dirinya telah stand by.


Tapi setelah mendengar penjelasan Naina dirinya sedikit menyesali keputusannya yang terlalu buru buru mengambil keputusan.


Andai dirinya tak tergesa gesa menunggu di mobil, pasti dirinya akan pergi menemani Naina untuk bertemu Aditya. Jadi dengan begitu dirinya tak perlu jadi penguntit. Pikirnya dalam hati.


"Bener tadi kamu mau ngajak Mas, bukannya kamu tadi bilang ada acara untuk ketemu sama temen sekolahmu?"


"Apa itu Nai?" Tanya Giyan.


"Putu Ayu spesial buatan bu Ningsih, ibunya Aditya Mas. Dulu waktu masih sekolah aku sering main ke tempat Aditya, dan pertama mencicipi putu ayu buatan ibu Ningsih rasanya beda dengan putu ayu lainnya, enak sekali Mas rasanya. Dan sejak itu pula aku sangat menyukai rasa putu ayu itu. Makanya setelah aku jarang ketemu Aditya, aku slalu memesan jajan ini ketika akan bertemu Aditya". Jelas Naina sepertinya sembari membayangkan dirinya makan putu ayu kesukaannya itu.


Giyan yang mendengar cerita Naina mengenai putu ayu yang menjadi favorit Naina seketika pasrah, karena dia merasa tidak akan pernah bisa memberi sesuatu yang Naina teramat suka seperti Aditya. Kalau hanya sekedar putu ayu sembarang mah satu trek pun Giyan akan belikan untuk Naina. Sekarang yang jadi masalah kan yang Naina sukai itu putu ayu buatan ibunya Aditya. Orang yang tadi ia labrag dengan menyamar sebagai Reyhan.

__ADS_1


"Selain putu ayu itu apa tidak ada lagi jajanan lain yang jadi favorit kamu Nai?" Tanya Giyan penuh harap. Berharap ada jalan lain selain melalui Aditya.


Naina menggeleng dan tersenyum manis.


"Nggak ada yang se enak putu ayu bu Ningsih Mas, Mas mau nyoba?" Tawar Naina.


Giyan menghela nafas yang terasa berat dengan menggelengkan kepalanya. Lalu sejenak Giyan tersenyum memandang Naina. "Tak apa jika aku tidak bisa memberikan apa yang seperti Aditya berikan untuk mu, aku akan membuatmu bahagia dengan cara ku. Karena aku memang berbeda dari Aditya ataupun Reyhan sekalipun. Teruslah disisi ku seperti ini Nai, menemani mu selalu adalah salah satu yang menjadi prioritas dalam hidupku saat ini. Seterjal apa aral yang akan ku lalui nanti, asal kau terus di samping ku aku pasti akan melewatinya hanya demi terus bisa menemani mu setiap waktu". Lirih hati Giyan bersuara penuh harap dalam cinta yang kian membara.


Entahlah cinta Giyan pada Naina semakin hari semakin bertambah besar. Giyan bak kehilangan logika bahwa Naina telah menjadi isteri dari temannya sendiri. Yang Giyan tahu hanya Naina tak boleh dimiliki laki laki lain lagi selain dirinya dan Reyhan. Walau caranya membuat Naina merasa menjadi miliknya hanya dengan sebatas menjadi teman. Teman yang selalu ada dalam suka dukanya, teman yang selalu menjadi pelindungnya, serta teman yang akan terus menemaninya.


#Sekian dulu episode hari ini.


Lanjut lagi nanti sore ya guys..


Mohon terus dukung dan vote kisah ini teman...😎😎

__ADS_1


__ADS_2