
"Ternyata mandi dini hari di kamar mandi terpisah kamar dengan ada orang lain di rumah kita lebih menyeramkan daripada bertemu mbak kunti di sawitan." celetuk Fadia saat ini ia baru selesai mandi.
"Makanya biasakan bawa baju ganti Yu."
"Lupa. Kebiasaan langsung bablas ke kamar." jawab Fadia ketus.
Tadi setelah selesai melakukan malam pertama. Masih dalam keadaan polos tertutup selimut. Fadia bertanya sesuatu pada Harry.
"Harry. Aku ingin bertanya."
"Tanya saja tidak perlu meminta izin.""
"Apa kamu pernah melakukan itu sebelum bersama ku?"
Harry diam saja sembari mengelus kepala Fadia dengan sayang. Sesekali ia menghujani kecupan disana.
"Iihh kenapa diam sih?" Fadia mulai kesal dan pikiran nya mulai berprasangka buruk pada suaminya itu.
"Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu Yu?" bukan nya menjawab Harry malah balik bertanya.
"Keahlian dan keperkasaan mu itu seperti sudah berpengalaman."
Harry tersenyum mendengar pujian Fadia secara tidak langsung itu. Dan hal itu dilihat Fadia semakin membuatnya dadanya sesak. Ia takut suaminya tidak bertanggung jawab pada wanita itu.
Matanya terasa panas karena air mata akan memenuhi matanya. Ia pun beranjak mengambil handuk keluar kamar menuju kamar mandi di dapur.
Di dalam kamar mandi Fadia terus menggerutu dan menyesali menerima pernikahan ini terlalu cepat. Pada akhirnya ia tidak tahu apapun tentang masalalu suaminya.
Hingga ia tidak sadar jika tidak membawa baju ganti ke dalam kamar mandi. Hingga akhirnya ia berdiam diri di kamar mandi.
Harry tahu Fadia tidak membawa pakaian ganti pun memilihkan Fadia baju piyama biru tua motif abstrak.
Ia memakai boxer nya dan membawa handuk baru dari dalam lemari Fadia. Kemudian ia keluar kamar.
"Maaf bang. Ada istriku di dalam." tegur Harry saat melihat Fadil menuju kamar mandi.
Fadil yang masih setengah sadar pun berhenti dan menoleh kearah Harry.
"Ah ya maaf abang tidak tahu." Fadil pun berlalu masuk ke kamar lagi menunggu Fadia keluar kamar mandi.
Harry pun mengetuk pintu kamar mandi. Pintu itu langsung terbuka dan menyembulkan kepalanya Fadia.
"Ini baju nya. Sekali lagi hati-hati ya." ujar Harry dengan senyuman lalu ia mengacak rambut Fadia dengan gemas.
Fadia yang masih belum mendapat jawaban tadi hanya berdehem saja.
****
"Kamu kenapa masih cemberut sayang?" tanya Harry melihat Fadia mengeringkan rambut dengan wajah cemberut.
__ADS_1
Fadia yang sudah berprasangka buruk pada Harry pun hanya diam saja tapi pikiran nya sudah kemana-mana. Dan ia teringat perkataan Sundari kala itu.
Apa perempuan itu Sundari Rry?
Harry menghela nafas. Bagaimana ia mengakui yang tidak ada di lakukan nya? Bahkan ia sendiri tidak tahu bagaimana yang perkasa dan tidak perkasanya.
Ia berjalan mendekati Fadia. Membungkuk lalu meletakkan wajahnya di pundak Fadia karena istrinya itu sedang duduk di depan meja rias. Dan Fadia pun mematikan hairdryer nya.
"Hanya kamu satu-satunya perempuan yang aku sentuh Yu. Ingin sekali aku meremas bo kong mu itu."
Fadia gemas akhirnya menjitak kening Harry. "Dasar mesum."
Harry tergelak mendengar itu. Ia sama sekali tidak marah.
"Ayo aku mau buat teh hangat sebelum kamu ke mesjid." titah Fadia.
Harry mengangguk. "Kalau capek tidur saja Yu. Aku bisa buat sendiri."
Fadia menggeleng. "Tidak. Kita istirahat bersama saja nanti. Oh iya dimana tas kamu Rry?"
"Itu."
Fadia beranjak mengambil tas ransel Harry dan memilih pakaian ganti untuk suaminya. Lalu ia menyerahkan pada Harry.
"Terimakasih Yu."
Dalam perjalanan ke dapur menuju kamar mandi, Harry selalu curi-curi ciuman di bibir Fadia.
"Sudah dong cium nya. Kamu tidak lihat bibirku bengkak." gerutu Fadia.
Harry tergelak tanpa menjawab.
Harry sudah masuk ke kamar mandi sedangkan Fadia melangkah ke dapur. Langkah nya terhenti saat melihat abang iparnya sedang bolak-balik meneguk air minum.
"Bang Fadil sudah bangun?" tanya Fadia sopan.
Fadil menatap intens Fadia dan tentu membuat ia salah tingkah.
Bahkan aku tidak tidur karena suara syahdu mu adik ipar.
"Iya abang kebangun tadi haus." ucap Fadil berbohong. Ia pun tidak membiarkan batasan itu ia lewati walau begitu sulit hanya karena suara syahdu Fadia.
Fadia pun menjadi kikuk karena Fadil berdiri di dekat kompor. Menjadikan ia duduk di kursi meja makan menunggu Fadil beranjak dari sana.
"Abang lanjut tidur ya."
Fadia pun mengangguk canggung. Kemudian ia mengambil panci menuangkan air secukupnya. Ia letakkan panci di atas kompor lalu di hidupkan kompor gas tersebut dan kembali duduk.
Beberapa saat kemudian Harry menyusul ke dapur. Ia mengecup pucuk kepala Fadia.
__ADS_1
"Kamu duduk saja. Suka manis atau tidak terlalu manis sayang?" tanya Harry.
"Jangan terlalu manis ya karena aku sudah manis." ucap Fadia narsis.
"Waw... Narsis sekali. Sini aku coba manis atau tidak."
Dengan sigap Harry menyesap bibir Fadia lembut. Dan tentu hal itu membuat Fadia salah tingkah.
"Iya manis. Sangat manis."
****
Fadil bolak balik meneguk air minum karena tubuhnya masih panas dingin karena mendengar suara syahdu adik iparnya itu.
Sebelumnya ia tidak pernah terpengaruh tentang kehidupan Fadia. Cukup ia tahu jika Fadia seorang janda karena mantan suami dan keluarga nya tidak memperlakukan Fadia dengan baik dan Fadia menolak keras untuk tinggal bersama.
Tapi malam ini setelah mendengar suara syahdu Fadia tentu ia bisa menilai betapa liar Fadia di atas ranjang bersama suami barunya itu membuat ia traveling membayangkan Fadia tidur bersamanya.
Fadil menepis pikiran kotornya. Ia tahu ini salah. Bukan Fadia yang salah. Tapi dirinya lah yang tergoda tanpa sengaja.
Bahkan ia harus dua kali ke kamar mandi melakukan permainan solo memakai sabun di kamar mandi karena suara syahdu Fadia benar-benar membangkitkan gairah nya malam ini.
Pikiran nya menjadi membedakan Fatin dengan Fadia dari suara syahdu itu. Fatin istrinya memang mengeluarkan suara syahdu itu tapi tidak semenggoda Fadia.
Ia menggeleng kepala dengan pikiran nya itu. Ini adalah godaan nafsu saja. Ia pun masuk kamar membangunkan Fatin.
"Dek.."
"Hem.."
"Tolongin abang." rengek Fadil karena ia belum juga bisa menuntaskan hasratnya.
Fatin pun bangun dan terkejut atas kelakuan suaminya.
"Ada Dita bang." tegur Fatin.
"Sebentar dek. Ini membuat kepalaku pusing."
Fatin pun perlahan membantu suaminya menuntaskan urusan nya.
Fadil memejamkan mata merasakan apa yang sedang di lakukan Fatin tapi bayangan nya Fadia lah yang melakukan nya dengan mengingat suara syahdu Fadia tadi.
Maafkan abang malam ini kau menjadi fantasi liar abang Fadia... Suara mu sangat menggairahkan adik ipar.
🌸
Bersambung...
Maaf telat up ya..
__ADS_1