
"Eh.." Fadia tersentak saat tubuhnya melayang karena digendong Harry.
"Diamlah.. Aku menuntut mu untuk tanggung jawab." bisik Harry dengan senyum nakalnya.
Demi apapun. Tolong Fadia saat ini. Bukan hanya karena tubuhnya masih terasa remuk dan lelah. Tapi ia tidak punya keberanian untuk melakukan itu di siang hari apalagi banyak orang.
"Harry.. ini siang bolong loh." Fadia berusaha menolak secara halus.
Harry berhenti menatap Fadia. "Kamu menolak ku Yu? apa aku tidak memuaskan mu makanya kamu tidak mau mengulangi nya lagi?" Harry menatap Fadia kecewa dan ada rasa takut jika ucapan nya benar.
Nah kan.. Kalau begini Fadia harus jawab apa?
"Bukan begitu." Fadia jadi bingung harus jawab apa sekarang.
Harry menurunkan Fadia dari gendongan nya. Semangat nya yang tadi sudah menguap entah kemana. Jawaban Fadia membuat ia yakin kalau dirinya tidak membuat Fadia puas. Ia pun duduk di sofa yang kebetulan mereka sudah berada di ruang tamu.
Fadia menelan saliva nya dan ia merutuki dirinya sendiri karena menolak Harry tadi.
Dia merajuk gitu? aku dosa tidak sih? kenapa dia diam saja? aahh aku harus apa?
Fadia menggigit bibir bawahnya memperhatikan Harry yang masih diam saja.
Baiklah.. Sepertinya sifat bar-bar ku berguna kali ini.
Fadia beranjak melangkah kearah Harry yang masih diam mematung dengan tatapan lurus ke depan. Ia celingukan melihat keadaan rumah jabatan
Aman.
"Harry.." Fadia duduk di pangkuan Harry dengan tangan mengalungkan kedua tangan nya di leher Harry.
Cup
Fadia mengecup bibir Harry sekilas. Mau tahu apa yang dirasakan Fadia saat ini? Gugup dan merasa dirinya seperti wanita penggoda walau benar adanya. Ia sedang menggoda suaminya.
"Kenapa tidak bawa aku ke kamar?" tanya Fadia lalu menggigit bibir bawahnya.
"Aku takut kamu tidak puas dengan ku Yu.. Pasti mantan suami mu lebih kuat dan perkasa makanya kamu nolak aku." jawab Harry dengan menatap Fadia.
Fadia menggeleng. "Kamu jauh lebih kuat dan perkasa. Aku suka , aku menikmatinya, dan aku sangat puas." Fadia menjawab dengan malu-malu. Mendadak wajahnya menjadi panas dan ia yakini kini sudah memerah karena ulahnya sendiri.
Tampak wajah Harry berubah menjadi ceria kembali. "Mau disini saja atau dikamar?"
Lagi-lagi Fadia menjadi kikuk dengan pertanyaan Harry.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban Fadia. Harry sudah menggendong Fadia menuju kamarnya. Tapi bukan di ranjang ia turunkan Fadia melainkan di meja rias miliknya.
Harry tersenyum melihat wajah bingung Fadia. Ia merapikan anak rambut Fadia. Ia kecup kening istrinya itu. Lalu ia tatap kembali mata Fadia yang masih terlihat kebingungan. Ditariknya hidung mancung istrinya.
"Sakit Harry.." rengek Fadia.
Harry terkekeh tanpa merasa bersalah karena tarikan nya tadi tidak lah keras. Tapi rengekan Fadia mampu membangun kan satu penduduk yang tinggal di bawah perut itu.
Akhirnya bibir Fadia telah tertaut dengan bibir Harry. Ia sangat suka ciuman yang di berikan Harry. Kelembutan itu mampu membuat ia terlena dan terbuai.
Sering ia berpikir. Bagaimana bisa Harry secepat ini ahli dalam ciuman? Padahal jika di pikirkan, sebelum menikah mereka hanya 3 kali atau lebih melakukan ciuman seperti ini.
"Eghh.." Fadia mele nguh ketika Harry sudah berada di leher Fadia.
Baru saja awal permainan tapi tubuh Fadia sudah lemas. Kedua tangan nya sudah bertumpu di belakang tubuhnya.
"Harry.. Aku takut suara ku terdengar orang."
Harry beralih menatap Fadia yang tadinya ia sedang bermain di dua gunung yang baru tadi malam ia mainkan.
"Aku akan membungkam nya sayang.. Nikmati saja ya.."
Fadia hanya bisa pasrah. Dan ia merutuki pakaian yang ia kenakan. Ia yang memakai blouse hitam dengan kancing di depan sangat mudah memberikan akses untuk Harry dan parahnya lagi ia memakai rok jeans se lutut dan tentu Harry suka akan hal itu.
Dan sekarang ia melihat dengan jelas Harry sedang membuka kaos hitam nya dengan menatap inti miliknya dengan tatapan lapar karena Harry sengaja membuka pahanya sebelum membuka kaos nya tadi.
"Harry.. Aku malu jika kamu lihat begitu." protes Fadia lalu merapatkan kaki nya.
Harry menggeleng. "Aku suka pemandangan itu Yu."
Harry memajukan wajahnya dengan kedua tangan nya berada di pinggang Fadia. Ia tersenyum saat mempertemukan bibirnya dengan inti Fadia.
Fadia hanya bisa menggigit bibir bawahnya merasakan sensasi berbeda dengan tangan meremas kepala Harry dan tanpa di duga tubuhnya meliuk-liuk karena perlakuan Harry.
Harry semakin bersemangat dengan aktivitas nya bahkan ia baru saja merasakan sesuatu yang keluar dari inti Fadia saat tubuh Fadia menegang.
"Sudah siap?" tanya Harry mendongakkan kepala menatap Fadia yang sudah berkabut gai rah.
Penyatuan itu pun terjadi dengan di temani suara decitan meja rias kamar itu. Harry dengan semangat membungkam bibir Fadia dengan bibirnya karena ia juga tidak ingin suara syahdu Fadia terdengar keluar.
"Ke-napa harus di sini?" tanya Fadia saat ciuman itu terlepas.
"Mau coba yang lain yu."
__ADS_1
Lagi-lagi Harry membuatnya terlena dan terbuai. Membawanya terbang ke langit tertinggi menahan panasnya terik siang ini.
Tok..tok..tok.
"Harry.." Seseorang memanggil Harry dari luar dan mereka mengenali suara itu yang tak lain adalah sang kakek.
Harry berhenti sejenak dari permainan nya karena kakek memanggil beberapa kali dan itu sukses membuat Fadia cemas bahkan ia buru-buru ingin melepas penyatuan. Tapi Harry menahan tubuh Fadia agar tetap di posisi tadi.
"Ada kakek." bisik Fadia.
Harry tersenyum menyeringai karena terlintas ide gila nya. Ia menggendong Fadia bak koala dengan tetap dalam keadaan menyatu.
Ia berjalan mendekati pintu dan itu sukses membuat Fadia gusar dengan perlakuan gila Harry.
Ia sandarkan Fadia ke dinding lalu ia lu mati kembali bibir istrinya.
"Harry.." Panggil kakek lagi di luar pintu.
"I-iya kek." jawab Harry di tengah erangan yang tertahan.
"Kamu sudah sewa mobil antar kami ke kota?" tanya kakek lagi.
Harry yang sedang bermain pun tidak langsung menjawab karena ia harus membungkam bibir Fadia agar tidak mengeluarkan suara.
"Su-dah kek. Aakkhh.." Akhirnya ia sendiri yang tidak bisa menahan nya.
****
Sebenarnya kakek sudah curiga karena Harry tidak juga menjawab panggilan nya. Bahkan ia sempat terkejut suara Harry saat menjawab nya seperti menahan sesuatu.
Sekalian saja ia kerjain menanyakan hal-hal yang sebenarnya ia sudah tahu. Bahkan ia bisa mendengar lengu han Fadia dan cecapan keduanya agar menghalangi suara mendayu itu keluar.
Ia tersenyum kemenangan akhirnya cucunya sendiri yang tidak bisa menahan suara itu.
Kakek berjalan mencari istrinya yang sedang bersama menantunya.
"Istriku.. Temani aku sebentar." ajak sang kakek yang sudah berumur 70 tahun itu.
"Kemana pak?" jawab nenek.
"Aku di kerjain cucu mu panas-panas dan sekarang aku kangen."
Sang anak tak lain bapak Harry mendengar itu pun bersuara.
__ADS_1
"Aku juga ingin istriku. Ayo kita juga ke kamar."
Pada akhirnya terjadilah permainan di siang bolong satu keluarga itu. Beruntung Hanum dan Gadhing sedang berada di rumah Elsa dengan mengendarai sepeda motor matic Fadia.