
Dulu kau telah membuatku jatuh cinta. Namun saat ini kusadari, aku jatuh cinta padamu setiap saat.
Hatiku adalah yang paling beruntung dan paling bahagia di alam semesta karena kamu hidup di dalamnya. Tidak ada kata yang dapat menjelaskan betapa aku bersyukur menjadi penerima cinta dan dukunganmu.
Hatiku mengandung semua kebahagiaan di dunia karena kamu adalah cinta dalam hidupku, suamiku, dan sahabat terbaikku.
Harry tersenyum menatap Fadia yang masih terlelap dalam dekapannya. Ucapan kata cinta dari istrinya sungguh membuat ia begitu bahagia.
Tadi setelah Harry kembali memuntahkan isi perutnya, ia begitu takut dan khawatir dengan keadaan dirinya sendiri sehingga menimbulkan rasa panik dan takut kehilangan Fadia.
"Yu.. Bagaimana kalau aku sakit parah? apa kamu akan meninggalkan ku?" tanyanya sembari menikmati elusan tangan Fadia di kepalanya.
"Jangan aneh-aneh. Makanya kita berobat.. Ini sudah seminggu Harry.. Besok kita akan meriksa perumahan pondok loh.."
"Dan itu yang aku tidak suka.. Kita beda pondok." gerutu Harry. Bukan masalah untuknya jika ia sehat, tapi selama seminggu ini begitu tersiksa karena tidak bisa jauh dari Fadia.
Saat bekerja saja ia harus pakai masker untuk meminimalisir bau tubuh orang lain dan bau masakan yang dibawa karyawan nya.
Ia juga harus mengenakan kacamata hitam bila terik matahari sudah berada di atas kepala. Sungguh ia merasa sinar matahari adalah musuhnya selain bau tubuh juga bau masakan.
"Jadi mau bagaimana? aku kan kelompok pondok 5 sama bagian istri pak Seto Bu Dina, istri Pak KTU Bu Sofa, sama istri pak Manager."
"Dan kami harus terpisah sama istri kami sendiri." gerutu Harry lagi.
...****...
Seperti pagi dalam seminggu ini selalu ada drama muntah-muntah dan ada teriakan Gadhing meminta bantuan untuk merapikan seragam yang ia kenakan.
"Sebentar sayaaanngg..." teriak Fadia balik.
"Harry.. Sebentar ya, aku lihat Gadhing dulu." tanpa menunggu jawaban Harry, ia langsung menghampiri Gadhing dikamarnya.
"Gadhing perlu apa nak?"
"Ini sudah benar belum Bun kancing nya?" tanya Gadhing.
Fadia pun berlutut di depan Gadhing merapikan biji kancing. Lalu memakaikan kaos kaki serta memakai kan sepatu yang memang sudah Fadia bawa ke kamar Gadhing.
__ADS_1
"Terimakasih bunda.. Maaf ya Bun, pasti bunda capek."
Fadia tersenyum. "Tidak apa sayang, ayo kita lihat ayah dulu."
Keduanya menghampiri Harry baru keluar dari kamar mandi. Sepertinya suaminya baru siap mandi.
Hari ini Fadia dan Harry akan melakukan pemeriksaan perumahan pondok menjadikan Harry hanya apel pagi saja.
Fadia sengaja meminta salah satu orang tua teman sekolah Gadhing membonceng nya pergi dan pulang. Alih-alih menolak namun saat mengetahui sekarang Fadia adalah istri dari Harry Setiawan yang di segani warga perumahan pondok dan di desa juga menjadikan orang tua temannya sekolah memberi tumpangan pada Gadhing.
Karena para istri di haruskan memakai baju atasan berwarna putih. Menjadikan Fadia pilihan pada baju putih lengan panjang berbahan rajut dan celana kulot hitam. Rambut panjang coklat nya ia kuncir kuda seluruhnya. Tidak lupa anting panjang dan tas jinjing ia selempang kan di pundak.
"Kenapa kamu cantik sekali Yu.." Kalimat memuji sang istri namun dengan nada kesal.
"Aku kan ngikuti aturan pakai baju putih." Fadia membela diri.
Harry menghela nafas di balik masker yang ia kenakan. "Ya sudah ayo." Harry menggandeng Fadia sampai ke depan rumah dan membiarkan Fadia memeluk pinggang nya saat berada di atas sepeda motor.
Itu yang diinginkan nya.
"Pak, biasanya bapak naik motor saja. Kenapa sekarang naik mobil?" tanya Didi.
"Loh.. Bukan nya bapak sama ibu tugasnya pisah ya?"
"Saya sudah minta izin ke manager biar saya bareng istri pak. Saya masih tidak enak badan."
Akhirnya Harry berada di satu mobil dengan Fadia. Walau di dalam mobil tersebut ia di cuekin sang istri tidak masalah baginya. Penting dekat sang istri sudah nyaman ia menjalani hari.
Sedangkan Fadia sedang mendengarkan penuturan istri Manager dan istri KTU apa yang akan mereka lakukan disana.
Karena ini hanya memeriksa sebelum dinilai untuk beberapa hari kedepan. Fadia hanya manggut-manggut mengerti.
Mobil berhenti ketika sampai di pelataran masjid perumahan pondok. Fadia turun dengan tangan masih dalam genggaman Harry. Ia terkejut kala mendapati sang suami berjalan cepatenuju toilet mesjid lalu ia mengikutinya.
"Kita pulang saja ya.." tawar Fadia sembari memijit tengkuk leher Harry.
__ADS_1
"Kenapa? biar bebas dalam keadaan cantik begini?"
"Eh.." Bukan itu maksud Fadia.
"Kamu menuduh ku Harry.." ia mulai kesal dengan Harry yang sensitif akhir-akhir ini.
Kelompok pemeriksa Harry dan Fadia mengunjungi rumah pondok pertama. Para pria menjelaskan apa saja yang tidak boleh berada di rumah saat hari penilaiam. Misalnya jangan ada deregen minyak, jangan ada menyimpan jenis racun apapun, jangan menggunakan tabung bekas cat dinding untuk tempat keperluan rumah tangga. Untuk menampung air contoh nya.
Sedangkan para wanita melihat pelataran rumah tersebut. Mereka menjelaskan disana harus memiliki tanaman sehat seperti kunyit, jahe, temulawak, dan berbagai tanaman sehat lain nya. Termasuk memberi sedikit bocoran bahwa tanaman hidroponik menambah nilai plus.
Mereka juga menyampaikan pada salah satu dari rumah mereka yang membuka usaha disana agar bangunan kios nya tidak boleh di depan, minimal letak nya setara dengan rumah utama. Harus ada jarak antara kios dan rumah utama. Juga mereka mengatakan saat hari penilaian di harapkan kios tutup saja.
...****...
Di tempat lain, kepala dusun beserta istri dan beberapa warga tengah sibuk menyediakan wejangan yang akan di berikan untuk rombongan Harry dan Fadia.
"Pak Kadus, ini durian nya sudah saya letakkan di wadah. Rambutan nya juga sudah tidak ada semut nya."
"Ya sudah durian nya simpan saja di kulkas, nanti kalau sudah disini baru kita keluarkan."
...****...
Rombongan sudah sampai di kediaman kepala dusun yang juga tinggal di perumahan pondok. Para pria sudah berjalan lebih dulu sedangkan para wanita berjalan santai di belakang mereka.
"Ibu sedang isi?" tanya istri Seto bernama Mega.
Fadia mematung. Ia baru mengingat selama menikah dengan Harry sama sekali tidak kedatangan tamu bulanan. Dan terakhir kedatangan tamu seminggu sebelum pernikahan.
"Saya tidak tahu Bu.." jawab Fadia.
"Tapi sudah nampak dari badan ibu loh.."
Belum sempat Fadia menjawab, suaminya sudah menerjangnya dengan pelukan. Beruntung Harry dapat menahan tubuhnya yang terhuyung ke belakang.
"Kamu kenapa Rry?"
"Perutku mual Yu.. Bau durian." rengek Harry sembari menghirup dalam-dalam bau rambut Fadia.
__ADS_1
🌸
Bersambung...