
"Ck.. Mentang-mentang pengantin baru jadi telat keluar kamar." celetuk Yudha pada Harry.
Harry hanya tersenyum tipis tanpa menjawab laku mendudukkan bobot tubuhnya. Kini tiga sekawan sedang berkumpul di rumah orang tua Harry.
"Harr.. Betul nikah sama Ayu?" tanya Ricky memastikan.
Harry hanya mengangguk. Seperti biasa ia akan memasang wajah tanpa ekspresi nya saat bersama yang lain walau kedua sahabatnya tahu jika Harry termasuk orang yang friendly.
"Waahh tidak nyangka aku Harr. Sekarang mana Ayu? aku juga ingin tahu."
Harry mencebik. "Jangan terpesona, Jangan tergoda atau jangan menggoda istri ku Rick."
"Posesif." celetuk Yudha.
Tiga sekawan itu bercerita pengalaman masing-masing termasuk Ricky menceritakan akhir kisahnya dengan Sundari begitu juga Yudha batal bertunangan. Harry merasa prihatin dengan kedua sahabatnya.
"Ayaahh..." seru Gadhing yang baru datang dari rumah kakek langsung memeluk Harry.
Harry tersenyum lebar. "Senang main di rumah buyut?"
"Ya ayah. Banyak sekali sapi disana. Kalau di rumah kita orang bilang nya lembu kan yah? disini sapi kata buyut."
Gadhing terus bercerita tentang apa yang di lakukan seharian bersama dua pria dewasa itu.
Yudha dan Ricky terperangah melihat Harry bersama bocah laki-laki dengan memanggilnya ayah.
"Harr.. Ini?"
Harry mengangguk. "Gue beli satu bonus satu."
Mata Yudha dan Ricky membulat tak percaya.
"Jadi Ayu?" tanya Ricky lagi.
Harry mengangguk pasti. "Yang berpengalaman lebih mantap." Harry terkekeh sendiri atas ucapan nya.
****
Di dapur rumah orang tua suaminya. Fadia, Hanum, dan Elsa tengah membuatkan teh untuk Harry dan sahabatnya.
"Mbak bisa jaga rahasia tidak?" tanya Hanum.
"Rahasia apa? tergantung Han."
"Tapi rahasiain dari mas Harry dong mbak.." rengek Hanum.
"Itu aku suka sama sahabat mas Harry mbak. Tapi takut mas marah." ucap Hanum cemberut.
"Yang mana Han?" tanya Elsa penasaran.
"Itu loh yang pakai kemeja biru."
__ADS_1
"Mbak jadi penasaran. Ya sudah ayo kita antar dulu sambil lihat mana yang namanya Yudha."
Ketiga nya berjalan dengan Fadia memegang nampan berisi teh sedangkan Hanum dan Elsa membawa dua toples makanan ringan.
"Ini teh dan cemilan nya.. Silahkan di nikmati.." ucap Fadia dengan senyum mengembang.
"Sayang.. Tidak perlu buatkan mereka minuman, mereka sering ambil sendiri di dapur." ujar Harry.
Yudha dan Ricky memang selalu menganggap rumah orang tua Harry seperti rumah sendiri karena orang tua Harry sudah mengenal mereka sejak SMA dan hal serupa juga akan terjadi bila berkunjung di rumah salah satu dari mereka.
"Iya-iya." jawab Fadia sembari duduk di antara Harry dan Gadhing.
"Bro.. Kenalin kami dong." celetuk Yudha.
"Hem."
"Ini Yudha dan ini Ricky Yu..." ucap Harry dingin dan ia meneliti perubahan wajah istrinya.
Fadia menatap Yudha dan Ricky tersenyum.
Yudha berdiri dan mengulurkan tangan dan tentu uluran tangan itu di terima tapi bukan Fadia melainkan suaminya.Harry.
"Kamu sangat posesif Harry." gerutu Yudha.
Fadia hanya terkekeh. Kemudian ia berucap. "Fadia Rahayu. Terserah mau panggil Fadia atau Ayu. Ini kak Ricky?" Fadia bertanya pada Ricky.
Ricky membalas senyuman Fadia. "Iya. Kamu cantik ternyata, sayang sudah keduluan Harry."
"Eh iya.. Ini kenalin sahabat ku Elsa." ucap Fadia.
Yudha mengulur kan tangan lebih dahulu. "Pasti sudah tahu namanya kan? kami berdua adalah laki-laki yang sedang patah hati."
"Patah hati?" tanya Elsa.
"Iya. Aku Yudha baru batal tunangan karena mantan tunangan ku hamidun. Kalau si Ricky lamarannya di tolak sama Sundari mantannya Harry." jelas nya.
Elsa maupun Fadia terperangah mendengar nya. Fadia menatap Ricky dengan seksama.
"Kak.. Kok di lepas? bukan nya kalian sudah itu?" Fadia membuat gerakan tangan mempertemukan kedua jemari tunjuk.
"Kamu kok tahu?"
"Dia ngomong secara tidak langsung." jawab Fadia.
"Dia memang sudah bolong dulu Yu sebelum ngelakuin sama kakak."
Semua orang menganga mendengarnya hanya Gadhing yang santai makan kue karena anak itu tidak akan tahu apa-apa.
"Sayang.. Sepertinya kalimat mu terlalu panjang hingga mengabaikan suamimu." tegur Harry.
Fadia menoleh menatap Harry dengan wajah tanpa ekspresi nya itu. Ia pun menelan saliva baru menyadari sejak tadi mengabaikan suaminya.
__ADS_1
"Maaf." ucapnya lirih.
"Gadhing sama kakek dulu ya di dalam.." ujar Harry dan di anggukan Gadhing lalu anak itu pergi begitu saja.
"Kamu harus ku hukum."
Fadia semakin gusar, ia tidak lagi mengikuti obrolan yang lain nya. Ia merutuki dirinya sendiri karena sering mengabaikan Harry bila sudah tenggelam dalam obrolan dengan orang lain.
Fadia menatap Harry dari samping. Bahkan ia bertumpu pada tangan jangan nya di atas meja dengan senyum mengembang. Ia tidak perduli dengan topik obrolan yang sedang berlangsung. Ia hanya fokus pada Harry yang sesekali ikut tertawa.
Gantengnya suamiku..
Sebenarnya sejak tadi Harry sudah tidak tahan ingin melahap bibir tipis istrinya yang sedang memperhatikan dirinya. Sungguh godaan yang sangat sulit untuk di elakkan.
Entah apa yang ada di pikiran istrinya itu sehingga senyum-senyum sendiri. Apa yang di rasakan Harry saat ini selain ingin melahap bibir Fadia?
Salah tingkah.
Siapa yang tidak salah tingkah saat orang yang kita sayang dan cintai memperhatikan kita begitu intens dengan senyum menawan nya itu?
Walau sudah menikah tetap saja degub jantung itu berirama sangat cepat. Hingga ia memilih ikut mengobrol dengan yang lain nya. Ia raih tangan Fadia yang satu dalam genggaman. Tidak berani menatap mata Fadia karena dapat di pastikan ia tidak dapat menahan diri.
Dengan sengaja Fadia mengecup punggung tangan Harry dan itu membuat darahnya berdesir. Sangat jarang Fadia berinisiatif mengawali hal-hal romantis karena itu ia sering berpikir bahwa ia lah yang begitu dalam mencintai sedangkan istrinya tidak.
Akhirnya ia tersenyum menatap Fadia yang juga tersenyum padanya. Rasanya ia begitu merindukan Fadia yang sudah dua malam ini ia anggurin. Bukan karena tidak ingin tapi ia cukup mengerti bila Fadia begitu lelah hingga membuatnya harus menahan gejolak gairah itu.
Dan ia juga harus menahan has rat setiap saat memandang wajah dan lekuk tubuh istrinya itu agar tidak ia sentuh.
Ia sangat ingin membuat Fadia hamil. Memiliki darah daging nya dari wanita yang sangat ia cintai dan ia lindungi. Tapi bukan berarti ia akan melupakan Gadhing anak sambung nya. Ia sangat menyayangi anak laki-laki itu.
Harry berusaha semampunya karena ulah Fadia yang menggoda nya. Beruntung meja bundar di depan mereka sudah terpasang tlapak meja panjang menutupi kaki yang duduk disana.
"Ehem.." Harry berdehem karena Fadia menggesek tangan nya ke junior yang masih terbungkus celana jeans itu.
"Mas kenapa kok muka nya merah gitu?" tanya Hanum menyadari ada yang berbeda dari kakak laki-laki nya itu.
"Tidak apa-apa."
Fadia cekikikan melihat wajah Harry yang lucu di pandang nya.
Harry bangkit ingin melangkah namun terhenti.
"Mau kemana Harr?"
"Ada perlu sebentar."
"Sayang.. Aku tunggu di kamar." Ia membungkuk dan memberikan kecupan di kening dan bibir tanpa ada rasa malu.
🌸
Bersambung...
__ADS_1