
"Awas saja kalau Niko dekati Hanum hanya untuk bisa lihat kamu terus." gerutu Harry.
Sedari tadi ia terus saja mengoceh kepada Fadia . Satu jam yang lalu Niko datang kerumah nya dengan maksud untuk meminta restu padanya karena ingin berhubungan serius dengan Hanum.
"Niko tidak seperti itu mas." Fadia merasa tak rela bila Niko di tuduh seperti itu.
"Kamu bela Niko Yu?"
"Bukan begitu, kalau memang Niko mau dekati aku sudah dari dulu dia lakuin, tapi lihat? sampai sekarang dia tak pernah mengganggu hubungan kita kan? kamu ini kenapa sih sensitif kali." Lama-lama Fadia merasa jengah.
"Kamu mau tahu aku kenapa?"
Fadia mengangguk.
"Aku kangen kamu Yu, aku sudah libur panjang loh.."
Sontak hal itu membuat Fadia tertawa karena melihat wajah Harry berubah muram.
"Kenapa ketawa hem?" tanya Harry menarik pinggang Fadia agar mendekat padanya.
"Harry.. ada anak-anak."
"Jagoan ku tidur Yu, mereka tahu kalau ayah nya mau buka puasa." Harry tersenyum nakal.
Tidak ada yang bisa di lakukan Fadia selain menerima setiap sentuhan Harry yang memabukkan. Desa han, lenguhan, cecapan terdengar syahdu di telinga Harry.
Merasa puas dengan kedua payu dara Fadia, ia turun menciumi area perut lalu meraba bekas luka sayatan operasi caesar lalu mengecup nya berulangkali.
"Aakkhh bee.." de sah Fadia menekan kepala Harry agar memperdalam permainan di intinya.
"Kamu semakin seksi sayang.."
"Kamu juga tambah ganteng."
Harry terus berpacu meraih puncak nirwana. Harus berpuasa selama dua bulan bukan hal mudah untuknya, setelah menikah dengan Fadia tiada kata libur selain masa-masa kehamilan saat trimester pertama dan kedua harus terpaksa libur karena ada gangguan dengan kehamilan nya.
Fadia benar-benar di buat terbang melayang dengan semua permainan yang tercipta. Malam ini seakan mendukung mereka karena kedua anak mereka tertidur lelap dalam box mereka masing-masing.
"Ayu..."
"Bee.."
Keduanya menyebut nama orang tercintanya saat mencapai puncaknya. Tubuh Harry ambruk di atas tubuh Fadia.
"Terimakasih sayang ." ucap Harry mengecup seluruh wajah Fadia lalu berpindah ke sebelah Fadia.
"Cepat mandi Rry.."
__ADS_1
"Mandi barengan ya.." ajaknya dijawab anggukan oleh Fadia.
Kedua nya mandi bersama setelah berpakaian kembali terdengar suara tangis dari kedua jagoan mereka.
"Ooeekk..Oekk... Ooeek. ."
"Sepertinya anak-anak kita tahu waktu ya Yu.. Lihatlah mereka sudah bangun padahal masih jam tiga pagi."
"Kamu tidur lah, nanti kalau aku sudah ngantuk biar aku bangunin kamu."
"Apa tak apa Yu?"
"Iya sayang, kalau kita berdua jaga bersama malah besok pagi aku tidak masak dan kamu tidak kerja."
"Baiklah, aku ganti seprei dulu abis itu kita pindahin jagoan kita di tempat tidur."
Fadia hanya fokus menjaga baby Daffa dan Daffi sembari berceloteh karena dengan umur dua bulan bayi sudah menerima respon dari orang lain dan akan menjawab celotehan dengan senyum-senyum kecil itu.
"Kalian cepat besar ya.. Jadi anak yang nurut sama ayah dan bunda tapi kalian bisa kok protes asal ayah dan bunda yang salah."
Harry sudah selesai mengganti seprei lalu mendekati Fadia tengah tersenyum melihat kedua anaknya.
"Harry.. Gimana ya kabar Gadhing?"
"Sehat. Bukan nya kalian tadi sore baru saja video call?"
"Iya tapi aku kangen lagi." sahutnya lirih.
"Lebaran kita kan kesana lagi.. Sabar ya.."
Fadia hanya bisa mengangguk lemah.
Malam itu giliran Fadia yang menjaga anak kembar mereka sampai menjelang subuh, setelah mereka selesai sholat, Hanum dan Harry memasak sarapan dan membiarkan Fadia tidur bersama kedua buah hati mereka.
"Sayang.. Bangun, sarapan sudah siap. Ayo sarapan dulu."
"Lima menit Rry.."
"Kalau lima menit lagi itu berarti aku sudah pergi kerja. Aku juga mau di antar istriku, jangan hanya si kembar saja yang di perhatikan."
Sontak perkataan Harry membuat nata nya terbuka lebar. Hingga saat ini ia masih berpikir bagaimana bisa suaminya itu masih cemburuan. Dan aneh nya cemburu kepada anak sendiri.
"Kamu menyebalkan Harry..." sungut Fadia.
Harry terkekeh. "Kamu hanya milikku."
Fadia tak menjawab hanya sebulan bibir yang terdengar.
__ADS_1
...****...
Sore hari sepulang bekerja Hanum sedang menunggu Niko untuk menjemput nya. Ia merasa senang saat tadi malam Niko datang kerumah Harry untuk meminta restu.
Bukan perkara hal mudah mereka sampai ke tahap ini. Mereka juga mengakui perasaan masing-masing belum ada cinta diantaranya. Tapi kesungguhan Niko untuk menjalin hubungan serius dengan nya tentulah membuat ia yakin bahwa Niko adalah yang terbaik untuknya.
Selama mengenal Niko dan selama ia tahu bahwa wanita yang ada di hati Niko adalah kakak iparnya, Fadia. Ia tak pernah melihat bahwa Niko berusaha mendekati Fadia ataupun mencoba menemui Fadia secara diam-diam.
"Aku memang sayang dan cinta sama Fadia tapi bukan berarti aku harus memilikinya. Karena yang aku tahu cinta yang tulus adalah mengikhlaskan orang itu bahagia walau bukan sama kita."
Kalimat yang di utarakan Niko juga membuat ia berusaha keras mengikhlaskan kebahagiaan Yudha bersama istrinya. Tidak mudah melupakan Yudha di hatinya karena dia adalah cinta pertamanya.
Yudha yang lemah lembut penuh perhatian, dia yang tidak pernah malu dengan sikap centilnya. Terpisah karena desakan orang tua bukan karena masalah berdua itu sangat membuat ia terpuruk.
Tapi sekali lagi ia yakin, semua yang menghilang pasti akan dapat yang lebih baik lagi.
Sudut bibir nya tertarik melihat seseorang baru saja sampai untuk menjemput nya.
"Sudah lama ya?" tanya Niko.
Hanum menggeleng. "Baru saja kok mas."
"Jangan bohong Hanum.. Kamu selalu saja bilang baru saja kalau sudah menungguku." gerutu Niko.
Hanum tertawa. "Kenapa mas bawel sih?"
"Itu juga karena kamu."
"Baiklah maaf. Nanti malam mas mau kan temenin aku lihat mbak Elsa lahiran?"
"Maulah."
"Tapi ada mbak Fadia juga." ucap Hanum pelan.
"Ya tak apa lah, jangan takut kalau aku akan berpaling Num.. Bukan nya kita sudah sepakat untuk saling mengobati duka? aku tak akan goyah, aku memilih mu."
Hanum tersenyum sumringah. "Kenapa mas manis sekali? terus kenapa mbak Ayu tidak menerima mas dulu?"
Niko mengelus punggung tangan Hanum yang melingkar di perutnya karena Hanum sudah stay di boncengan.
"Karena dia tidak mau hubungan persahabatan kami hancur hanya karena takdir tidak mempersatukan kami."
"Oh iya, kita beli sesuatu untuk dibawa kerumah Elsa yuk.." ajak Niko.
"Ayo, anak mbak Elsa perempuan tahu mas, aku suka lihat baju anak perempuan.. Nanti kalau kita sudah punya anak, aku pengen anak pertama ku perempuan." sahut Hanum girang.
Di balik helm Niko tersenyum. "Jadi sudah siap ini nikah sama aku?"
__ADS_1
🌸
Bersambung..