Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Fadia kecewa


__ADS_3

Tidak terasa waktu berlalu dengan damai. Fadia mulai menata hatinya karena sempat beberapa hari banyak murung pasca berpulangnya Jody. Dan semua itu diketahui Harry dan ia memakluminya.


"Kamu ngapain saja hari ini hem?" tanya Harry yang baru pulang kerja sore itu.


"Tidak ada, lebih banyak di rumah saja sama Gadhing." jawabnya sembari membaringkan kepala nya di atas paha Harry.


"Aku gajian loh.. Kamu mau beli apa?" tanya Harry.


"Aku mau duuiittt..."


Keduanya pun tertawa.


"Baiklah Nyonya.. Duit anda akan segera saya serahkan."


Fadia terkekeh. Ia senang karena uang Harry benar-benar ia yang menyimpan nya. Bahkan bisa di hitung Harry menghabiskan uang gaji nya hanya beberapa ratus ribu saja.


"Seharusnya aku yang tanya ke kamu Harry.. Kamu mau beli apa gajian ini.. Kan aku yang punya duit."


Harry gemas mendengar itu lantas menarik hidung mancung Fadia.


"Sakit Rry.." rengek Fadia memegang hidung nya lalu bangkit untuk duduk.


Dengan sigap Harry meraih tubuh Fadia lalu ia duduk kan di pangkuannya. Hampir setiap sore saat Harry pulang kerja pasti keduanya berbincang lebih dulu sebelum akhirnya keduanya memutuskan untuk mandi bersama yang pasti mandi ala-ala mereka lah.


Fadia mengalungkan tangan ke leher Harry dengan senyum menggoda. Ia selalu merasa beruntung diperistri seorang Harry Setiawan yang lemah lembut dan sangat penyabar.


"Harry.. Belum juga di mulai tapi junior sudah bangun saja." ucap Fadia dengan nada mengejek.


Harry terkekeh. "Kamu benar, junior sangat menggila saat dekat dengan mu. Apalagi penampilan mu sekarang membuat kepalaku pening Yu.."


Fadia mengerutkan keningnya. "Memang nya kenapa Rry? jelek ya?"


"Sangat cantik, sexy, dan menggoda."


Fadia berdecak dan mencubit lengan Harry mendengarnya. "Memangnya aku perempuan penggoda?" cibirnya.


Harry tertawa melihat wajah Fadia yang sedang kesal. "Kamu menggoda ku sayang.. Lihatlah kamu sangat cantik dengan rambut di kepang begitu, baju kamu yang terbuka, dan lipstik kamu yang merah kayak nantangin aku tahu."


Kini Fadia yang tertawa. Yang di katakan Harry memang benar. Ia sedang menggoda suaminya.



"Tapi tunggu, kamu tidak ada keluar rumah kan?" mendadak ia kesal jika benar pertanyaan nya itu benar.


"Tidak sayang ku.. Aku sengaja pakai ini untuk menggoda mu karena Gadhing lagi di rumah Elsa."


Tadi sepulang sekolah Gadhing minta di antar kerumah Elsa karena rindu dengan orang tua Elsa. Ia tidak mungkin melarang karena mau bagaimana pun, mereka adalah orang yang sangat berjasa untuk Fadia.

__ADS_1


"Kamu tak apa Gadhing disana?" tanya Harry sembari menyesapi bibir merah Fadia.


"Iya. Nanti malam kita jemput, tapi kamu tetap di dalam rumah ku saja."


Harry hanya mengangguk sembari melanjutkan permainan nya. Rasa lelah yang ia bawa dari tempat kerja kini hilang berubah menjadi semangat baru.


Tidak lupa ia layangkan ungkapan cinta untuk sang istri. Ia sangat senang Fadia tahu dimana saat ia menginginkan balasan untuknya dan saat ia ingin mendominasi permainan.


"Kamu sangat cantik dan mengga irahkan sayang." bisik Harry tepat di daun telinga Fadia.


"Please Bee mulai.." rengek Fadia yang sudah tidak tahan dengan pemanasan yang dibuat Harry.


Penyatuan itupun terjadi di ruang tamu. Beruntung rumah jabatan Harry memiliki jarak cukup jauh dengan rumah jabatan lain nya menjadikan mereka bebas melakukan apapun disana.


"Lebih kuat Bee.." ucap Fadia di tengah racauan nya.


"Dengan senang hati sayang." jawab Harry menghentakkan pinggul cukup keras membuat Fadia menjerit nikmat.


...****...


"Nanti mau di ambil berapa gaji nya Yu?" tanya Harry sedang bersiap akan menjemput Gadhing.


"3 juta saja. 700 nya untuk bayar angsuran motor ku ya.."


Harry mengangguk menggenggam tangan Fadia sembari berjalan beriringan.


Sungguh dunia nya terasa sepi walau saat itu ada Sundari juga sibuk menghubungi nya. Tapi ia tidak nyaman karena Sundari selalu menuntut perhatian darinya membuat ia merasa jengah dengan sikap dan sifat Sundari.


Sedang dirinya adalah tipikal pria yang suka di dengarkan dan diberi perhatian tentu berbanding terbalik dengan Sundari.


Selama dua tahun itu ia menjadi dirinya yang berbeda dan akan senang bila Fadia sesekali menghubungi walau sekedar bertanya kabar. Sangat disesalkan kala itu Fadia tidak terbuka apa yang dia alami selama menjadi istri pria itu.


...****...


"Kamu tunggu disini saja ya.." pinta Fadia setelah berada di rumah Fadia. Kini hatinya belum siap untuk bertemu dengan Elsa.


"Iya. Aku tidak akan keluar sebelum kamu izinkan sayang.."


Fadia diam saja. Pikiran nya kini berkelana ke masa lalu saat ia bersama Harry dan disitu ada Elsa.


Dari saat Harry pertama kalinya mengirim foto dan disitu Elsa sangat antusias dan sangat memperhatikan wajah Harry.


Mendadak Fadia merasa cemburu suaminya di tatap begitu intens walau dari foto. Dan ia yakini dari situlah Elsa tertarik dengan Harry.


"Kamu sih ngirim foto ganteng ke aku." gerutu Fadia memecahkan keheningan.


Harry menganga mendengar itu. Sungguh ia tidak mengerti.

__ADS_1


"Ngirim foto apa Yu?"


"Foto kamu dulu waktu dari Kalimantan ke Malang. Dia juga lihat itu dan sangat memperhatikan foto mu. Aku kesel. Aku cemburu Harry.." sungut Fadia.


Apa wanita seperti itu? Selalu mengungkit yang menurutnya salah.


"Kan kamu yang minta Yu.." Harry mencoba membela diri.


"Tapi tak harus ada Elsa juga pas ngirim." sungut Fadia tidak mau kalah. Wajahnya sudah ia tekuk sedemikian rupa karena cemburu.


Boleh marah tidak sih? Apa salahku? bukan nya aku tidak tahu ada Elsa atau tidak saat itu? MasyaAllah istriku.. gumam Harry dalam hati.


"Ya sudah maaf ya.."


"Kamu juga, kenapa waktu itu belikan nasi Padang ke Elsa pas Sundari ngelabrak aku di ancak?" mendadak ingatan di masa lalu terlintas di benaknya.


"Itu kan karena aku belikan kamu sayang.. Aku tak enak bila hanya belikan untukmu saja."


"Tapi bagi kami kaum hawa, seperti itu sebuah perhatian." Fadia bangkit keluar rumah ingin segera membawa Gadhing pergi dari rumah Elsa.


Brakk


"Astaghfirullah.. Ya ampun istriku.. Ngerih juga kalau marah." Harry menggeleng kepala. Ia tidak marah, justru ia senang Fadia cemburu padanya.


Ia baru menyadari jika yang di katakan Fadia bisa saja benar. Dan mulai sekarang ia akan benar-benar memutuskan apapun yang berkaitan dengan Elsa. Walau sebenarnya sedari dulu juga ia tidak pernah menunjukkan rasa simpati pada Elsa.


Sama sekali tidak.


...****...


"Assalamualaikum.." sapa Fadia memberi salam.


"Waalaikumussalam.. Sini masuk Fad." ucap ibu Elsa.


Ia terpaku saat melihat penampilan Elsa yang sangat berubah. Dia tampil dengan pakaian jenis blouse putih polkadot dengan celana jeans hitam.


Sangat berbeda dengan Elsa yang ia kenal sedari dulu. Malam ini Elsa tampak lebih feminim.


"Harry mana Yu?"


Fadia terbengong mendengar pertanyaan Elsa.


Apa kau berpenampilan begini karena Harry El? aku kecewa.



🌸

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2