
10 menit menggunakan mobil Giyan, akhirnya Naina dan Giyan pun telah tiba di gedung PT. Prakarsa. Mereka telat 15 menit dari waktu istirahat kerja yang berakhir pada jam 14.00 Wib.
Giyan merasa lebih nyaman sekarang. Karena dirinya beranggapan telah berhasil melindungi Naina dari godaan teman masa sekolahnya dulu. Walaupun sebenarnya Giyan hanya melampiaskan rasa cemburunya saja yang sedikit berlebihan. Hari ini Giyan telah sukses membuat acara makan siang Naina dan Aditya ambyar.
Seraya melangkah beriringan dengan Naina di koridor depan menuju ruang kerjanya. Giyan tersenyum kecil. Diam diam dalam hatinya, Giyan merasa menang di depan Aditya karena Aditya mengira dirinya adalah suami Naina.
Dan sedikit rasa bangga membuatnya membayangkan benar benar menjadi suami Naina. Pastilah dirinya akan menjadi laki laki yang amat merasa bahagia karena telah berjodoh dengan wanita yang menjelma menjadi bidadari di hatinya. Sayang sekali saat ini kenyataannya bukanlah dirinya yang menjadi laki laki yang bahagia itu, melainkan dirinya saat ini terjerat dalam sebuah rasa yang teramat sangat memilukan. Cintanya kepada Naina hadir disaat yang tidak tepat. Jika saja cintanya bisa hadir lebih awal mungkin masih ada cela untuk Giyan dan Naina bersatu.
__ADS_1
"Nai, andai saja aku yang terpilih menjadi suami mu, pasti tak akan ku biarkan laki laki lain menikmati keindahan mu walau setitik. Akan aku jaga dengan sepenuh hati ku agar tak seorang pun yang berani mendekati mu. Aku teramat menyukai segala keindahan yang melekat di dirimu. Andai aku yang bersanding denganmu, mungkin aku tak setegar Reyhan yang tetap mengizinkanmu tetap bekerja diluar rumah. Aku akan mengurung mu di dalam istana kecil agar cukup aku yang bisa memandang serta menikmati setiap indah yang kau beri. Aku tak kan sesabar Reyhan yang bisa memberikan izin isterinya untuk berteman dengan teman lelaki yang mungkin saja mencicipi betapa indahnya senyuman mu, yang mungkin dengan mudah pula menimbulkan rasa suka yang tidak semestinya ada" Batin Giyan berbicara tanpa suara seraya terus menatap Naina yang berjalan di depannya.
Giyan sengaja memperlambat langkahnya agar teman teman di kantor tidak menyadari perasaan Giyan yang memang tercipta istimewa untuk Naina. Giyan tak ingin satu kantor menggosipkan kedekatannya dengan Naina. Khawatir menimbulkan masalah untuk Naina.
Sedangkan Naina sendiri bersikap biasa saja lantaran belum menyadari apa apa yang Giyan rasakan padanya.
Setelah dicoba berkali kali Naina menghubungi nomer Aditya tapi tak kunjung ada jawaban. Itu membuat Naina semakin cemas dan khawatir. Karena ini kali pertamanya Aditya meninggalkannya begitu saja tanpa pamit.
__ADS_1
Giyan yang masih memperhatikan Naina melihat kesibukan Naina di depan layar handphonenya sudah mengira Naina akan menelfon Aditya. Dan Giyan ingin memastikan bahwa Aditya menepati ucapannya untuk menjauhi Naina dan tidak berhubungan dengan Naina lagi. Melihat ekspresi Naina Giyan pun tahu bahwa Aditya benar menepati ucapannya itu. Lega sudah hati Giyan, kemudian dirinya terus berlalu ke arah ruang kerjanya sendiri.
Giyan berganti baju dan kembali mengenakan jas hitamnya yang tadi ia ganti untuk menguntiti Naina. Giyan pun siap bekerja dengan konsentrasi penuh setelah rasa cemburunya kini telah sirna dihatinya. Dan kini Naina tidak akan bisa bertemu dengan Aditya lagi. Kecuali jika takdir yang akan mempertemukan mereka lagi. Giyan tak akan kuasa untuk mencegahnya.
Sebelum kembali bekerja Giyan meraih ponsel yang berada di depannya. Lalu ia mencari sesuatu yang ingin dirinya lihat. Sebuah foto yang tersimpan digalery foto handphone nya pun ia pandangi dengan lekat. Foto itu jelaslah foto Naina yang sengaja Giyan unduh dari media sosial milik Naina.
#Terus berkembang dan mungkin akan lebih jauh terjerumus dalam cinta yang salah. Bagaimana kelanjutan kisah Giyan yang terjebak dalam rasa yang sulit ia nyatakan?
__ADS_1
Mohon vote dan dukungannya yaaaah👧👧👧