
Para readers ku tersayang.. Jangan lupa like, vote, dan beri hadiah di karya aku ini ya..
"Ndok.. Kamu kenapa kucing-kucingan begitu sama Harry tah?" tanya sang nenek.
"Dia nyebelin nek.."
Sang nenek terkekeh karena merasa lucu dengan pasangan ini. Tapi ia juga senang karena Harry tampak bahagia dan memperlihatkan sisi yang berbeda dari sifat Harry yang biasa di tunjukkan pada orang lain.
Setelah tadi basah karena di ceburkan ke sungai, Fadia terpaksa memakai daster milik bibi Wati yang sangat kebesaran di tubuh Fadia yang mungil.
Saking kebesaran nya, Fadia harus menggunakan tali plastik di pinggang nya pengganti sabuk. Jika tidak maka benar yang di katakan Harry. Seperti orang-oranga sawah.
"Jangan mendekati ku Harry.. Jangan toel-toel gitu." titah Fadia karena Harry sedari tadi sudah mengganggu nya kembali.
"Serius marah ya?"
Fadia bergeming dan itu membuat Harry merasa bersalah. "Baiklah.. Maaf ya.. Tapi kamu cantik loh."
Fadia berdecak. Bukan hanya sebal dengan Harry namun pakaian yang ia pakai benar-benar tidak nyaman.
"Kita beli baju mau?" tawar Harry.
Fadia menggeleng. "Kamu saja yang belikan ya.. Aku sudah tidak nyaman Rry.."
"Kalau kamu tidak suka pilihan ku gimana Yu?"
"Aku suka apapun itu. Tolong ya.." ucap Fadia Punuh permohonan.
Harry tersenyum lalu mengelus pipi Fadia dengan ibu jari. "Maafin aku ya Yu.." ucapnya dan di balas dengan anggukan kepala oleh Fadia.
"Sama itu ya Harry.." Kata Fadia menggantungkan ucapan nya.
Harry mengerutkan keningnya. "Sama apa?"
"Sama dalaman nya juga." ucap Fadia lirih dan sangat malu untuk mengatakan itu pada suaminya.
Harry menahan senyum melihat wajah Fadia yang memerah karena malu. "Oke.. Aku pergi dulu." Ia kecup pipi Fadia lalu beranjak mengambil dompet, ponsel merk apel tergigit nya, dan kunci sepeda motor.
\*\*\*\*
Saat tiba di toko khusus keperluan wanita, ia parkiran sepeda motor tepat di depan toko tersebut.
Ia menelan saliva dengan kasar melihat *b* *ra dan cela na dalam* berjejer tersusun rapi di *etalase*.
"Kenapa mendadak gugup gini? Ayolah Harry.. ini demi istrimu yang cantik itu."
Ia pun memberanikan diri melangkah masuk ke dalam toko tersebut. Tampak penjaga toko tersenyum ramah dan ada yang saling berbisik. Bisa di pastikan Harry jika para penjaga toko sedang membicarakan dirinya.
"Cari apa mas? ada yang bisa di bantu?" Tanya salah satu penjaga toko dengan menahan tawa.
__ADS_1
"Mau cari *bra* mbak." jawab Harry cuek.
"Mau yang jenis apa dan ukuran berapa mas?"
Harry menggaruk tengkuk leher yang tak gatal. Ia lupa menanyakan jenis dan ukuran pada Fadia.
"Memang nya jenis apa saja ya mbak?"
"Ada sport bra, ada training bra, ada padded bra, maternity bra, nursing bra, underwire bra, strapless bra, bralette, push up bra, t-shirt bra, bandeau bra, minimizer bra, dan longline bra mas. Mau yang mana?"
Harry tercengang mendengar jenis-jenis bra yang di sebutkan penjaga toko itu. Bahkan tidak ada satu pun jenis bra yang di ingat nya.
"Sebentar ya mbak, saya telepon istri saya dulu."
Terdengar cekikikan dari para penjaga toko dan itu tidak di gubris Harry sama sekali. Ia mendial nomor Fadia.
"*Hallo assalamualaikum Harry*..."
"Waalaikumussalam.. Yu ini bra kamu mau jenis apa? Aku tidak ngerti sama sekali."
Terdengar Fadia tergelak di seberang telepon itu dan membuat Harry tersenyum.
"*Kamu mau beli kan aku baju yang gimana biar bisa sesuai kan*."
"Aku belum beli baju nya. Langsung ke toko bra dulu."
"*Push up bra atau padded bra ya suami ku*.."
Lagi-lagi ia tersenyum. "Oke. Push up bra dan padded bra kan? Ukuran berapa?" Harry bertelepon sembari memberi isyarat kepada penjaga toko.
"*Iya*. *Ukuran 36A*. *\*\*\*\*\*\* \*\*\*\*\* ukuran M*."
"Ya sudah. Assalamualaikum."
Harry melihat penjaga toko tadi memegang b ra jenis yang di sebutkan tadi. "Ukuran 36A yang warna putih ini ya mbak."
"Cel ana da lam nya ukuran M."
"Mau berapa mas?"
"Selusin yang model ini saja, warna merah, hitam, dan krim ini ya.."
Usai belanja dalaman ia berjalan menuju pakaian khusus wanita dengan menenteng satu plastik berlogo toko khusus dalaman wanita.
Tidak ada rasa malu sebenarnya hanya geli melihat dalaman berjejer di Pampang jelas di *etalase*.
Ia menatap dress yang terpajang depan toko dikenakan patung *manekin*. Dress putih motif bunga model lengan terompet dan di bagian perut ada tali yang bisa ditarik membentuk serut disana.
Di masuki toko tersebut langsung memilih dress itu. Ia keluar toko dengan senyum mengembang.
__ADS_1
*Begini rasanya belanja untuk istri. Sangat menyenangkan walau harus di tertawai oleh orang lain*.
Ia berjalan menuju sepeda motor nya yang terparkir di depan toko pakaian dalaman tersebut. Tapi langkahnya terhenti saat melihat toko make-up dan ia pun segera masuk di toko tersebut.
Tapi seperti tadi, ia bingung harus beli apa. Ia hanya tahu lipstik dan cream yang sering Fadia gunakan saat hendak tidur saja itupun tidak tahu apa nama cream nya. Dan ia mengingat begitu banyak
"Cari apa mas?" tanya sales kosmetik ternama tersebut.
"Mbak.. Saya mau perlengkapan make-up ya.. Untuk umur 24 tahun yang aman dan bagus. Tapi cream siang malam jangan dan lipstik juga jangan ya."
"Mau paket yang mana mas? mau paket Rp308.000, paket Rp234.000, paket Rp572.000, paket Rp699.000 atau paket Rp422.000 mas?"
Harry semakin bingung dan ia baru menyadari betapa ribet nya menjadi seorang wanita dan juga untuk cantik itu mahal.
"Kalau yang Rp699.000 itu apa saja mba"
Sales tersebut mengeluarkan isi paket harga Rp699.000 dan menjelaskan apa saja walau Harry tidak mengerti itu tapi yang ia tahu cream whitening yang di tunjukkan sama dengan yang digunakan Fadia.
"Ya sudah yang ini saja mbak." jawab Harry tegas. Sekali lagi ia menyadari bahwa cantik itu mahal.
Sales tersebut tersenyum dan mengangguk lalu memulai mengemas paket kosmetik sesuai yang di minta Harry.
Harry menggeleng kepala melihat 3 kantung plastik yang ia tenteng sekarang. Jauh lebih mahal harga keinginan dari pada harga yang di butuhkan.
Ia mengendarai sepeda motornya dengan senyum mengembang di balik helm full face itu.
*Apa ya reaksi Ayu? yang pasti akan mengomel lebih dulu sebelum di terima*.
"Assalamualaikum.." ucap Harry setelah sampai di ambang pintu rumah kakek dan nenek.
"Waalaikumussalam." jawab Fadia tersenyum.
"Ini." Harry menyerahkan 3 kantung plastik belanjaan nya.
Fadia menerima langsung di bawa ke sofa untuk ia buka. Matanya terbelalak melihat isinya.
*Pasti ngomel. 1 2 dan.... 3. gumam Harry dalam hati*.
"Haaarryyy... Kenapa kamu beli ini? Ya ampun ini mahal Harry.. Aku beli nya saja satu-satu. Ya ampun.. Siapa yang suruh? aku cuman minta beli baju dan dalaman saja.. Ya ampun.. Punya ku masih ada loh.. Buang-buang duit." omel Fadia panjang lebar pada Harry dengan bibir yang mengerucut tajam.
*Nah kan.. Benar kan bakal ngomel*.
"Sudah ya.. Sekarang ganti baju, dandan yang cantik." Harry memberi kecupan di bibir manyun sang istri.
Fadia bangkit menuju kamar bibir Wati yang sudah kosong dengan gerutuan di sepanjang jalan.
🌸
***Bersambung***...
__ADS_1