Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Ucok


__ADS_3

Harry dan Fadia menatap miris pada box bayi rumah sakit yang sudah di hias Hanum untuk menyambut kelahiran dua keponakan nya.


Dimana hiasan box bayi tersebut menunjukkan bayi laki-laki dan perempuan. Kain berwarna biru dan merah muda pelapis kasur bayi di box tersebut, bantal berbentuk awan dengan pita biru dan merah muda, dan di depan box bayi tersebut terdapat pita bahan kain berwarna biru dan merah muda dengan boneka di tengah pita itu.


"Mas.. Kasihan sekali si adik." rengek Fadia melihat si adik kembar tertidur mengenakan serba warna merah muda itu.


"Pinky boy Yu.." jawabnya, sebenarnya ia juga merasakan hal sama dengan apa yang dikatakan Fadia namun sebisa mungkin membuat Fadia baik-baik saja.


"Bunda.. Jadi adik Gadhing laki-laki dua-duanya nya?" tanya Gadhing melihat sang adik di box bayi.


Fadia hanya mengangguk lemah masih melihat box merah muda itu.


"Nanti kita ganti ya sayang.. Sekarang kamu istirahat mumpung anak-anak tidur."


"Iya, oh iya kamu sudah dapat nama untuk si kembar?"


Harry menggeleng. "Belum kan tahu nya anak kita sepasang."


"Makasih banyak sayang.. Kamu wanita terhebat." Harry mengecup dahi dan bibir yang ia ***** itu.


"Ayah kenapa gigit bibir bunda? itu sakit ayah.." sergah Gadhing menyaksikan adegan 21+ itu.


Pasangan itu terkejut hingga membuat ciuman terlepas.


"Bukan mas, ayah tidak gigit bibir bunda kok. Ayah cuma cium bunda yang bau belum mandi."


Fadia melotot mendengar ucapan Harry, jika saja ia bisa bangkit sudah dipastikan Harry akan babak belur dibuatnya.


"Oohh.. Bunda kan lagi sakit yah jadi tidak mandi. Gadhing sama nenek dan ibu di depan ya yah.." Gadhing berlari keluar setelah mendapat izin dari sang ayah.


Fadia menatap Harry dengan tajam masih tidak terima dengan omongan Harry tadi.


"Anak sudah tiga masih nyebelin kamu mas." sungut nya.


Harry terkekeh sembari mengacak rambut sang istri. Jika saja sang istri belum melahirkan pastilah ia akan memakannya sampai puas.


"Bibir kamu jangan di manyun-manyunin dong Yu.. Kamu menggoda ku ya?"


Fadia mencebik kesal. "Mana ada. Emang dasar kamu mesum."


Harry terkekeh melihat sang istri mencibir nya.


Keesokan hari kedua bayi kembar itu sedang berjemur dengan di gendong ibu Harry dan Hanum sedang Harry memilih mengurus Gadhing dan Fadia.


Tubuh Fadia sedang di basuh air hangat oleh Harry di dalam ruang rawatnya. Berulang kali ia harus menelan saliva saat melihat payu dara Fadia bertambah besar dan padat.

__ADS_1


"Mata dikondisikan ya pak Harry.."


Harry masih menatap pias ke payu dara itu. "Itu masih punya ku kan Yu?"


"Astaghfirullah suamiku.. Jangan bilang kamu tidak rela si kembar minum susu ku." Fadia menjadi geram dengan Harry.


"Bukan tidak rela minum susu nya Yu.. Tapi aku cemburu sama mereka berdua." sahut nya sembari memakaikan pakaian untuk Fadia.


"Cemburu gimana lagi?"


"Ya itu, mereka berdua bebas nge mut itu sedang aku harus libur selama dua tahun."


fadia mulai jengah jika harus di ladeni lagi maka ia hanya diam setelah mengucapkan kalimat yang membuat Harry senang tiada tara.


"Kamu masih bisa nikmati nya tapi harus pelan-pelan jangan sampai susu nya keluar, kalau kebanyakan di re mas bisa langsung terasa susunya mau keluar."


Harry manggut-manggut mendengarkan


"Begitu ya Yu? ya sudah besok gitu saja."


...****...


Kabar Fadia melahirkan sudah terdengar dan malam nanti Niko berniat untuk mengunjungi bersama Elsa dan suaminya.


Sepulang bekerja ia mampir ke toko baby shop membeli sepatu bayi, pakaian, dan topi. Ia membeli nya tentulah dengan jumlah double karena anak Fadia kembar.


"Astaga pikiran ku.. Terus kenapa aku terbayang muka polos Hanum tadi? Aaiihh sudah konslet otakku."


Selesai berbelanja ia pulang kerumah kakek nya karena ia tinggal di rumah kakek, sedangkan orang tua nya bekerja di luar negeri sebagai TKI.


Pukul tujuh malam telah sampai di rumah sakit dan sekarang ia sudah tiba di kamar Fadia ternyata juga ada El dan suaminya.


"Nik.. Kau bawa apa?" tanya Fadia melihat Niko membawa paperbag.


Niko hendak maju namun sang pawang melarang. "Letak disitu saja jangan dekat-dekat istriku."


Semua orang disana menatap Harry jengah yang cemburu nya tidak bisa terkontrol.


"Mas.. Kamu apa-apaan sih?"


"Aku tidak mau Niko berharap lagi sama kamu Yu, kamu abis melahirkan tambah cantik nanti dia gagal move on."


"Oh ya ampun anak sulung ku keterlaluan.. Kok ya kamu mau sih Ayu sama anak ibu?" sang ibu mulai kesal dengan Harry.


Fadia hanya tersenyum sedang yang lain terkekeh.

__ADS_1


"Bagaimana aku tidak mau Bu? dia ngasih banyak cinta untukku Gadhing, dia imam, dia sahabatku, dan dia adalah hidupku." Fadia menatap Harry penuh cinta.


Sebenarnya setiap kali Fadia mengungkapkan cinta untuknya selalu membuat jantung berdebar tak beraturan sama seperti pertama kali bertemu dengan Fadia.


"Sudah seperti dunia milik berdua dan yang lain ngontrak ya? ingat anak woy.." tegur Elsa sedari tadi diam saja karena asyik menggendong salah satu anak kembar Fadia.


"Ah iya sini El biar aku susui dulu." Fadia menerima bayi yang di gendong Elsa lalu duduk membelakangi para tamu untuk memberi ASI.


Ricky, Niko, Elsa dan Hanum memilih keluar ruangan memberi privasi untuk suami istri tersebut.


"Bu, kalau capek ibu pulang saja ya biar di antar mas Harry." ujar Fadia sembari menyusui.


"Iya Bu, kasihan Gadhing harus tidur di bawah tapi di antar Ricky ya Bu naik mobil." timpal Harry.


"Tapi kalau kalian kerepotan gimana?"


"Tidak Bu, aku akan menjaga anak-anak ku."


"Baiklah.."


Harry menoleh kearah Fadia dan menerima anggukan darinya. Harry pun menggendong Gadhing yang sudah tertidur keluar ruangan meminta Ricky mengantarkan ibu dan anaknya. Sedang ibu Harry meletakkan bayi di gendongan nya ke box bayi.


"Ibu pulang dulu ya Yu, besok ibu kesini lagi."


"Ibu Bu, hati-hati ya.."


Pintu terbuka melihat Elsa berjalan kearahnya dengan perut buncit.


"Fad, sakit di operasi?"


"Tolong tidurkan di box El.." pintanya menyerahkan bayinya ke Elsa.


"Tidak sakit kalau suami kita selalu ada disisi kita El.. Rasa sakit itu akan hilang pas lihat senyum suami kita karena anak kita telah lahir."


"Semoga betul gitu ya Fad.. Aku takut."


Fadia tersenyum. "Jangan takut, semua pasti baik-baik saja. Kapan mulai cuti melahirkan El?"


"Bulan depan Yu.. Oh iya siapa nama anak-anak mu Fad?"


"Belum tahu, kan suamiku siapin nya nama laki-laki perempuan jadi ya si kembar belum punya nama."


"Sudah lah ku panggil orang ini si Ucok ya.."


"OH TIDAK.."

__ADS_1


🌸


Bersambung..


__ADS_2