
Kini Fadia baru sampai di rumah jabatan Harry. Rumah staf di perkebunan lebih besar dari pada rumah karyawan biasa.
Terdapat 3 kamar tidur. Kamar utama memiliki kamar mandi pribadi di dalam nya. Ruang tamu dan ruang keluarga terpisah, satu kamar mandi lagi berada di dapur.
Harry menggenggam tangan Fadia untuk mengajak nya masuk. Sedangkan Gadhing tidak ingin ikut karena Elsa mengajaknya berbelanja untuk keperluan dapur Ibunya dan juga Fadia.
"Ayo Yu." ajak Harry.
Fadia yang sudah cemas pun hanya menggeleng. "Aku takut." katanya lirih.
Harry tersenyum. Ia mengerti mengapa Fadia seperti itu. Ia memegang kedua bahu Fadia. Di tatapnya mata Fadia dalam-dalam.
"Dengar Yu. Ibu menerima mu dengan Gadhing. Aku sudah menceritakan pada ibu." terang Harry agar Fadia tidak lagi merasa takut.
Fadia membalas tatapan Harry. Tatapan menyiratkan masih ada luka lama yang hingga kini belum dapat terobati.
"Ikut masuk ya.. Dari tadi ibu sudah tungguin makanya aku jemput kamu."
Fadia hanya mengangguk sang mengikuti langkah Harry karena tangan nya kembali di genggaman.
Tapi karena langkah kakinya yang kecil tentu ia tidak dapat menyeimbangi langkah kaki Harry.
"Pelan-pelan bisa tidak sih?" gerutu Fadia pelan.
Harry yang mendengar gerutuan Fadia pun berhenti tiba-tiba karena sudah sampai di depan pintu. Otomatis Fadia yang berada di belakang Harry menabrak tembok bernyawa.
Jedug
"Awwh.. Ya ampun punya punggung kok keras amat sih? sialnya lagi calon suami." Gerutu Fadia pelan di belakang Harry dengan mengusap dahinya.
Harry berbalik badan dan terkekeh. "Maaf Yu. Sudah ayo masuk."
Fadia hanya mengangguk.
"Assalamualaikum." ucap keduanya.
"Waalaikumussalam." jawab wanita paruh baya tak lain adalah ibu Harry.
Harry tetap menggenggam tangan Fadia yang terasa dingin. Ia berpikir seburuk apa perlakuan mantan mertua nya itu sehingga Fadia sampai sekarang masih teringat masa lalunya.
"Ini menantu ibu Harry?" tanya ibu sumringah.
"Masuk ndok."
Fadia pun melangkah masuk dengan tangan tetap dalam genggaman Harry. Ini baru pertama kalinya ia menyambangi rumah calon suaminya.
Ibu Harry tersenyum merangkul bahu Fadia. "Tidak perlu takut ndok."
Fadia tersenyum canggung kemudian mengangguk.
"Tangan menantu ibu di lepas atuh Harry." seru ibu saat mengetahui Harry masih saja menggenggam tangan Fadia.
Harry mencebik sembari melepaskan genggaman nya tapi ia tetap mengikuti kemana kedua wanita kesayangannya bergerak.
"Cucu ibu kemana Yu?"
__ADS_1
"Gadhing tidak jadi ikut Bu, dia sedang di kota sama ibu nya." terang Fadia.
Ibu Harry menatap Fadia intens dan hal itu membuat Fadia salah tingkah.
Ibu Harry tersenyum. "Kamu cantik, pantas saja Harry ngebet nikah."
Fadia tersipu malu mendapat pujian dari calon ibu mertuanya. "Ibu sehat? maaf Ayu tidak bawa apa-apa Bu. Anak ibu maksa terus untuk kesini. Padahal tadi niat nya mau beli sesuatu dulu. Tapi kata anak Ibu tidak perlu." Fadia mengadu apa yang terjadi tadi.
"Tidak apa. Lupakan sebentar calon suami mu itu. Dia memang nyebelin. Kamu sudah makan?"
Harry mendengar terbelalak. Bagaimana bisa ia di lupakan? bisa-bisa Fadia cari yang baru pikir nya.
"Kamu tidak boleh lupakan aku Yu." celetuk Harry.
Kedua wanita beda usia itu menoleh ke arah Harry yang sedari tadi diam.
"Cuma sebentar, biarkan Ayu bersama ibu dulu." ujar sang ibu.
"Aku ikut bu." ucap Harry.
Fadia hanya terkekeh melihat calon suaminya. "Aku sama ibu loh Harry, bukan sama mantan." sindir Fadia.
Harry hanya mencebik bibit saat di sindir begitu.
"Mantan siapa Yu?" tanya ibu Harry.
"Mantan Harry bu."
"Sundari?" tanya ibu memastikan.
Sang ibu menatap Harry dengan wajah garang. "Kamu ya Harry. Kamu mau sakiti menantu ibu? kenapa kamu suruh dia datang? jangan main-main sama hati perempuan. Pasti kamu kasih dia harapan kan? awas saja kalau kamu sakiti menantu ibu. Ingat, menantu ibu hanya Ayu."
Harry menatap Fadia yang sedang tersenyum kemenangan. "Sundari datang sendiri Bu."
Ibu Harry geram mencubit lengan anaknya itu. Ibu Harry sangat tahu bagaimana suatu hubungan bila mantan kekasih di antara kedua nya hadir. Pasti tidak akan baik-baik saja.
"Tapi jangan kamu ladeni Harry. Kamu itu jadi orang jangan tidak tegaan begitu. Bukan nya dia selama ini hidup sendiri juga kan? pasti dia lebih mandiri. Jangan kamu pikir menantu ibu juga biasa hidup sendiri malah kamu khawatir kan mantan pacar kamu dari pada calon istri kamu." cerca ibu Harry.
Sekali lagi Harry merasa tindakan nya salah. Ia semakin bertambah bersalah pada calon istrinya itu.
"Maafin aku Bu. Maafin aku Yu."
Fadia melihat Harry menjadi merasa bersalah. Akibat ulah nya mengadu pada calon mertuanya.
"Jangan minta maaf lagi Harry. Kita sudah bahas ini bukan? maafin aku bahas ini lagi." terang Fadia.
Harry mendengar itu tersenyum dan kedua tangan nya siap untuk memeluk calon istrinya itu.
"Eehh mau ngapain? jangan peluk-peluk belum SAH." cegah ibu Harry.
Harry dan Fadia pun salah tingkah. Kenyataan nya mereka sudah lebih dari pelukan.
"Ibu sudah masak untuk kamu Yu. Kamu sudah makan belum?" tanya ibu Harry.
Sebenarnya di kafe tadi Fadia sudah makan dimsum tapi ia tidak ingin melihat calon ibu mertua nya kecewa menjadikan ia berbohong.
__ADS_1
"Belum Bu. Ibu sudah makan?"
"Belum."
"Ya sudah kita makan yuk Bu." ajak Fadia.
Harry lagi-lagi mencebik karena Fadia melupakan dirinya. Padahal biasanya Fadia selalu menawarkan makanan padanya. Tapi bersama ibunya, ia menjadi terlupakan. Ah ya ia teringat sesuatu.
Ayunya tidak peka an.
"Ayu. Aku juga belum makan." tajuk Harry.
Fadia terkekeh geli melihat mimik wajah Harry yang pura-pura cemberut.
Saat ini ketiganya sudah berada di dapur. Makanan sudah terhidang di meja makan. Hanum dan paman Harry sedang istirahat. Jadi hanya bertiga saja
"Maaf aku lupa." Fadia cengengesan.
"Sebentar ya. Bapak telepon. Kalian makan saja dulu." ujar ibu Harry.
Setelah ibu masuk ke kamar, Harry mendekat kemudian ia melahap bibir Fadia. Di lu mat nya sebentar lalu ia mengambil piring Fadia yang sudah terisi nasi, lauk, dan sayur.
Ia makan dengan terus tersenyum karena sudah mendapatkan vitamin yang ia inginkan.
Sedangkan Fadia masih terpaku atas serangan Harry yang tiba-tiba. Setelah sadar ia menjadi kikuk sendiri.
"Kamu lucu kalau lagi malu-malu. Aku suka pengen cium lagi." celetuk Harry.
Fadia menutup wajah dengan kedua tangan nya. Ia sungguh malu saat ini. Ia merasa seperti anak perawan yang belum pernah berkontak fisik dengan lawan jenis.
"Aku malu Harry. Kamu kebiasaan deh tiba-tiba begitu." rengek Fadia.
"Kamu itu membuat aku candu Yu. Kamu adalah vitamin untukku."
Hati Fadia tersanjung mendengar ucapan Harry. Dahulu sebelum ia menikah dengan mantan suami nya juga pernah berhubungan dengan beberapa pria tapi tidak pernah di sanjung seperti ini.
Lagi-lagi ia merasa jatuh cinta pada calon suaminya ini. Orang yang ia kenal lewat dunia maya. Tanpa mengirimkan bagaimana bentuk rupa keduanya.
Saling terbuka apapun itu. Bahkan ia teringat bagaimana dulu Harry mengingat kan untuk sholat tapi Fadia bilang tidak bisa karena tamu bulanan datang.
Bukan Harry tidak tahu apa itu tamu bulanan, tapi perhatian nya itu mengalahkan sang pacar kala itu.
"Jangan nonton film yang buat kamu emosi, jangan minum susu, jangan makan yang asin-asin, jangan pakai pembalut seharian itu sangat bahaya. Dengarkan Yu?"
"Iya. Kenapa kamu bawel kali sih?" sungut Fadia mendengarkan semua yalnbg. di katakan Harry dari sambungan telepon.
"Ini demi kesehatan."
Bahkan itu percakapan mereka saat ia masih duduk di kelas VIII SMP tapi masih saja teringat.
"Terimakasih." ucap Fadia menatap Harry yang sedang makan.
"Terimakasih telah memilihku." sambung nya lagi.
🌸
__ADS_1
Bersambung..