
"Kamu ingat kapan terakhir mas peluk kamu?"
"Dulu, waktu mas baru pulang dari Jember." sahut Hanum.
"Ya, setelah itu kamu yang sering peluk mas. Mas kangen pas kamu lari terus peluk mas."
Hanum tersenyum dalam dekapan Yudha.
"Mas, jangan bilang istri mas kalau aku peluk mas ya."
"Kalau takut sama istri mas kenapa mau di peluk?"
Pertanyaan Yudha membuat Hanum tersadar sudah melakukan kesalahan. Secepat kilat lepas dari pelukan yang di rindukan.
"Maaf, sudah cepat jalan kan lagi mobil nya. Keburu malam." ucap Hanum dingin.
Sembari menunggu sampai, Hanum mengambil bedak dalam tas lalu di tap-tap ke wajah nya tanpa menghiraukan Yudha curi-curi pandang ke arah nya.
Tidak ada pembicaraan mengenai perasaan mereka masing-masing. Hanum benar-benar tak memberi celah Yudha untuk berbicara.
Bahkan di pesta, Hanum memilih diam menikmati makanan yang terhidang di sana membiarkan Yudha terus saja mengikuti.
"Mas ini duda dik, bahkan udah satu tahun ini." Akhirnya Yudha mengungkapkan jati diri karena Hanum sedari tadi acuh terhadap nya.
Yudha menceritakan kisah rumah tangganya tanpa perduli Hanum percaya atau tidak.
"Oh begitu."
...****...
Dua kali purnama telah terlewati. Di depan gedung Pengadilan Agama, Hanum menatap akta cerai yang baru sama di terima.
"Akhirnya aku jadi janda beneran."
Setelah puas memandangi akta cerai itu, di ambil ponsel lalu melakukan video call pada seseorang.
"Assalamualaikum mas." senyum Hanum merekah melihat seseorang disana.
"Waalaikumussalam, idih kenapa senyum-senyum?"
"Mas, akta cerai kita sudah keluar ini. Punya kamu aku kirim lewat pos."
"Ciye yang sudah jadi janda."
Hanum tertawa lalu menyudahi video call tersebut dan di akhiri dengan salam.
"Ayo mas pulang." ajak Hanum tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel nya.
Namun mobil itu tidak nampak bergerak bahkan suara mesin belum terdengar hidup.
"Loh ada apa mas?"
__ADS_1
"Katanya sudah cerai tapi kenapa masih akrab begitu?" tanya Yudha dengan wajah suram.
Hanum tersenyum lalu menyimpan ponsel ke tas selempang nya.
"Kami pisah baik-baik tentu sampai sekarang masih akrab."
"Aku calon suami mu Han." protes Yudha lagi.
"Aku tidak ada bilang itu ke kamu mas. Bahkan lebih baik aku memilih bang Ardi."
Tahan Yudha mengeras. Ia hampir menyerah meluluhkan hati Hanum. Entah kemana Hanum yang dulu, pikirnya.
"Kenapa? kasih mas alasan nya."
Hanum menghela nafas. "Lebih baik aku pilih bang Ardi yang sudah punya anak. Mas, apa kamu lupa? aku nikah sama mas Niko hampir 3 tahun tapi belum hamil juga."
Yudha mendadak geram dengan ucapan Hanum. "Itu bukan alasan Hanum. Sekarang mas tanya, kamu masih sayang tidak sama mas?" tanya Yudha memiringkan badan ke arah Hanum. Menatapnya dengan serius.
Hanum yang di tatap menjadi gugup hanya mampu mengangguk. "Rasa itu tak pernah berubah mas."
Yudha tersenyum lalu memeluk Hanum dengan rasa bahagia.
"Minggu depan kita menikah, nanti saat malam pertama kasih tahu mas gaya apa saja yang pernah kalian lakukan dan mas akan ganti metode biar cepat hamil." Yudha mengerling kan sebelah mata membuat Hanum melotot.
"Apaan sih mas? genit banget tahu. Sudah tua juga. Terus apa itu nikah Minggu depan? lupa kalau aku belum setuju?"
Yudha terkekeh tanpa menjawab karena ia sama sekali tidak perduli jawaban Hanum. Sedikit memaksa sepertinya berlaku untuk wanita keras kepalanya.
...****...
Di belakang rumah ada rumah tipe 36 khusus untuk asisten rumah tangga. Orang yang bekerja di rumah Harry adalah sepasang suami istri. Tugasnya bersih-bersih rumah dan membantu Fadia memasak untuk sang istri. Untuk suami bertugas untuk mengurus taman di sekitar rumah.
"Bi, tolong santan nya jangan sampai pecah ya." ujar Fadia yang masih menggoreng bahan untuk membuat sambal terasi.
"Iya Bu." sahut Bi Lia.
Malam nanti akan ada acara di rumah baru Harry yaitu lamaran dadakan Hanum. Sebenarnya tak ada masalah dengan rencana lamaran itu, tetapi selama ini mereka belum menentukan hari. Baru tadi pagi mengabari jika Yudha akan melamar Hanum secara resmi.
"Bi, tahu suamiku tidak?" tanya Fadia yang tak melihat suaminya sedari tadi.
"Aku tinggal sebentar ya Bi."
"Iya Bu."
Fadia keluar dari pintu belakang karena yakin suami dan ketiga anaknya berada di belakang rumah, di bawah pohon rambutan sangat sejuk membuat betah berada di bawah pohon itu.
"Mas."
"Ya, sayang."
"Gimana keadaan mas? sudah tidak mual lagi?" tanya Fadia berdiri tepat dimana Harry duduk.
__ADS_1
Harry langsung memeluk pinggang Fadia dan membenamkan kepalanya di perut Fadia. Akhir-akhir ini tubuhnya mudah lelah dan begitu sensitif.
Dengan sayang Fadia mengusap kepala Harry. Tanpa sadar telah membuat ketiga anak lelaki mereka menatap tajam pada Harry.
"Ayah, hari ini giliran abang Gadhing dan kami loh." protes Gadhing cemburu.
Sesuai kesepakatan setelah sering berebut ingin berdekatan dengan Fadia membuat Harry dan tiga rival tersebut membuat peraturan.
3 hari Fadia akan tidur di kamar mereka dan 4 hari di kamar mereka walau Harry setiap malam menggendong Fadia untuk tidur di kamar mereka.
Mana mau ia tidur sendiri.
Fadia terkekeh ketika ketiga anaknya memisahkan mereka dan membuat wajah Harry berubah muram durja.
"Pelan-pelan abang, Daffa, Daffi." tutur Fadia yang tengah rebutan memeluk kaki nya.
"Hei, jangan sakiti istri ayah."
"Ini bunda Gadhing ayah."
Sikembar mengikuti Gadhing yang memeluk perut Fadia sedang si kembar memeluk kaki Fadia.
"Ini nda Affa." protes Daffa bocah dua tahun itu kepada Harry.
"Nda Affi."
...****...
Hanum yang baru saja membuka pintu belakang menatap pemandangan keluarga bahagia kakak satu-satunya menjadi terharu.
5 menit yang lalu ia baru saja sampai di rumah Harry langsung mencari Harry. Setelah bi Lia mengatakan mereka berada di belakang umah langsung saja menyusul kesini.
Ada rasa kagum di hati melihat Harry begitu menyayangi dan menerima Fadia juga Gadhing. Pikiran pun menjadi berandai-andai Yudha memperlakukan dirinya dengan baik dan menerima ia yang susah hamil.
"Kita akan seperti itu nanti." bisik Yudha yang memperhatikan Hanum sedari tadi.
Hanum tak menjawab karena rasa takut begitu kentara. Takut tak bisa memberi keturunan untuk Yudha.
"Kalau tidak bisa gimana? mas bisa cari perempuan lain."
Yudha yang merasa gemas pun menarik lembut hidung Hanum. "Kan mas sudah bilang, nanti kita ganti gaya biar berhasil. Jangan suruh mas cari perempuan lain."
"Idih kenapa mas jadi mesum begitu?" tanya Hanum sewot.
Yudha tergelak tak tersinggung sedikitpun. "Maklum dik, mas mu ini sudah libur setahun lebih. Dan mas sudah tidak sabar untuk memakan adik."
"Idih."
🌸
Bersambung...
__ADS_1