Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Dua wanita dan dua pria


__ADS_3

"Istriku.. Apa kamu menggoda ku dengan berjalan kesana kemari di depan ku hm?" tanya Harry yang masih duduk bersandar di kepala ranjang yang melihat Fadia berjalan bolak balik di depan nya.


Jangan lupakan jika Fadia saat ini sedang memakai kaos oblong putih yang kebesaran karena kaos itu milik Harry dan Fadia benar-benar memakai celana boxer tanpa dalaman apapun. Bisa di pastikan pikiran Harry traveling sedari tadi.


"Aku lapar Bee.." rengek Fadia mendatangi Harry.


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore dan di Malang pasti sudah ashar karena waktu sholat selisih 1 jam dengan Sumatera Utara.


"Aku ambilkan ya.. Elsa akan bawa baju kamu nanti." Kata Harry berbohong karena ia sudah mengambil barang-barang Fadia dan Gadhing dan ia letakkan di kamar Hanum.


Dasar mas Harry. 🤣


"Aku tidak enak dengan Ibu. Terus masa ia aku pakai ini terus?"


"Kan banyak kaos dan boxer ku Yu." Harry tersenyum nakal.


"Ya sudah aku ambil makan dulu ya.. Aku juga belum makan."


Fadia mengangguk pasrah.


****


Di dapur rumah orang tua Harry sedang sibuk menyiapkan untuk acara ngunduh mantu yang akan di selenggarakan esok hari.


"Mbak kok mau sih dapat menantu janda? ada anak lagi." tanya Wati adik pertama bapak Harry.


"Kenapa? mbak dulu juga janda."


"Tapikan mbak belum ada anak loh.. Dan nanti gimana kalau Harry ngasih nafkah anaknya menantu mbak?" sambung Wina adik kedua bapak Harry.


"Itu urusan mereka. Mbak tidak mau ikut campur."


Eheemm


Harry berdehem saat sudah berada di dapur. Ini yang membuat ia tidak ingin pulang kampung jika keluarga besar berkumpul. Kedua adik bapaknya selalu sewot pada ibunya.


Jangan tanya tentang warisan. Kedua wanita itu selalu tidak terima dengan pembagian sang kakek. Bertambah lagi bisnis properti Harry. Dan akan bertambah benci lagi karena ahli waris sang kakek memiliki cucu menantu seorang janda sama halnya istri sang kakak laki-laki mereka. Karena itulah bapak Harry tidak ingin harta warisan itu dan ia berikan seluruhnya untuk Harry.


Tapi seperti yang seringkali kita tahu. Perang dingin sering terjadi sesama saudara dan itulah yang di alami keluarga Harry dan sering juga penyebabnya adalah harta warisan.


"Bibi Wati dan bibi Wina bisa pulang jika hanya mengomentari keluarga ku apalagi istriku." ucap Harry melangkah ke lemari tempat penyimpanan makanan.


"Kamu mengusir bibi hanya karena istri jandamu yang baru 3 hari kamu nikahi?" tanya Wati tersenyum miring.


"Jangan pernah mengomentari istriku kalau kalian belum benar hidupnya." sanggah Harry mulai mengambil makanan untuk nya dan Fadia dalam satu piring.


"Harry.. Sudah nak.." sang ibu memperingati Harry.


Harry hanya mengangguk. "Anakku kemana Bu?"

__ADS_1


"Ikut bapak ke rumah kakek mu. Kemana istrimu?"


"Dia aku kurung di kamar Bu." Harry tersenyum penuh arti.


"Kamu jangan aneh-aneh Harry. Dia pasti kecapekan."


Harry mencebik "Belum di mulai Bu."


Harry beralih mengambil cangkir besar dan ia tuangkan air minum disana. Ia sengaja hanya mengambil satu piring dan satu sendok.


Ia menyadari dirinya kini telah berubah semenjak bertemu dengan Fadia. Dirinya yang dulu kaku dan seakan tidak perduli dengan perasaan wanita yang menyukai nya. Sekarang bahkan ia sering sekali mencoba mencari perhatian agar Fadia menatap kearahnya saja.


"Lihatlah. Suami mau makan saja ambil sendiri. Pantas saja Ayu istrimu itu di diceraikan suaminya dulu." celetuk Wati bermulut pedas.


"Maaf."


****


Fadia uring-uringan di tambah ia belum melihat Gadhing dan belum mengetahui anaknya sudah makan atau belum.


Ia membuka pintu menyembulkan kepalanya melihat situasi ternyata tampak sunyi. Tapi terdengar ramai dari arah dapur.


Diambilnya selimut bulu milik Harry untuk menutupi seluruh tubuhnya. Ia keluar kamar menuju dapur berniat menemui Harry menanyakan persoalan Gadhing.


Tapi langkahnya terhenti saat seseorang menyindir suaminya.


"Lihatlah. Suami mau makan saja ambil sendiri. Pantas saja Ayu istrimu itu di diceraikan suaminya dulu." celetuk Wati bermulut pedas.


"Maaf." ucapnya lirih.


Harry terkejut melihat kedatangan Fadia. Ia yakin Fadia mendengarnya tadi makanya ia mengucapkan maaf.


Harry menatap kedua bibi nya itu dengan tatapan tajam. Tapi yang di tatap hanya tersenyum sinis.


Ibu Harry pun menyesali perbuatan kedua adik ipar nya itu. Ia menghela nafas menghampiri menantunya.


"Kamu butuh apa nak?" tanya ibu Harry lembut.


Fadia hanya menggeleng. Ia takut kisah lama terulang lagi dimana keluarga suaminya tidak menerima kehadirannya.


Harry menghela nafas menatap Fadia. Ia mendekati Fadia dan mendekap nya.


"Bee.. Pengap tahu. Kamu memelukku kuat kali di tambah selimut mu yang tebal." gerutu Fadia.


Harry terkekeh. "Maaf. Kenapa keluar? Tidak takut ada laki-laki lain melihat keadaan kamu di balik selimut?" Harry berusaha mengalihkan pikiran Fadia atas kejadian tadi.


Fadia tersenyum canggung. "Aku cari Gadhing Bee. Dia sudah makan atau belum?"


"Cucu ibu sudah makan Yu. Dia sama bapak ke rumah kakek." ucap ibu Harry.

__ADS_1


"Terimakasih sudah mengurus Gadhing Bu." ucap Fadia dan ia ingin memeluk ibu mertuanya tapi terlambat, Harry sudah menariknya lebih dulu untuk memeluk dirinya.


"Kamu peluk aku saja."


"Sok romantis. Kemana saja baru muncul?" tanya bibi Wati.


"Maaf. Aku jetlag baru bangun." Fadia mendekati kedua bibi Harry meraih tangan nya dan melekatkan ke kening Fadia.


Kalau di tempatku.. Sudah ku lawan kau orang tua. Hah..


"Ayo kita makan di kamar."


*****


"Jadi betul kamu sudah putus sama Sundari?" tanya Yudha setelah mendengar kabar putus nya hubungan sahabatnya dengan mantan sahabat nya yang lain.


"Ya. Dan lebih parah nya lagi dia menyusul Harry ke Sumatera padahal Harry sudah ada calon istri."


"Ahh.. Mengingat sahabat kita yang satu itu. Aku kaget dia sudah nikah. Itu pun karena Hanum antar undangan kesini. Mana aku tidak tahu calon nya lagi."


Ricky tersenyum. "Aku tahu."


"Jangan bohong."


"Aku tidak bohong. Dulu aku lah yang mengenalkan istrinya pada Harry dan ternyata mereka akrab."


"Oh ya? kapan?"


"Sudah lama waktu kita SMA."


Yudha terperanjat. "Jodoh tidak akan kemana ya.."


Keduanya terdiam dan Ricky teringat sesuatu. "Aku tahu pertunangan mu juga batal, tapi jangan cari pelampiasan pada adik sahabat kita. Aku tidak ingin persahabatan kita hancur karena wanita." nasihat Ricky pada Yudah.


"Aku hanya akrab dan nyaman saja Rick. Tidak bermaksud begitu."


Ya..


Pertunangan Yudha batal karena tunangan nya ketahuan hamil. Keluarga tunangan nya sempat meminta pertanggungjawaban Yudha tetapi karena bukan ia yang melakukan tentu pihak keluarga Yudha tidak terima dan akhirnya pertunangan di batalkan.


"Tapi hati perempuan itu gampang baper. Jangan PHP Yudh. Kita tahu Harry bagaimana kalau marah kan?" timpal Ricky lagi.


Yudha menghela nafas.


"Aku tidak tahu. Kita ini sama.. Dua laki-laki yang sedang patah hati."


Ricky berdecak. "Tidak. Aku tidak patah hati. Aku bersyukur Sundari menampakkan sifat aslinya sebelum menikah. Seharusnya kamu pun merasa bersyukur."


"Iya aku tahu."

__ADS_1


🌸


Bersambung...


__ADS_2