
"Baiklah, sekarang temani aku ke kota mencari sesuatu." celetuk Ricky.
"Cari apa Rick?" tanya Yudha.
"Keperluan untuk melamar Elsa."
"APA?"
Ketiga orang itu terkejut langsung menatap Ricky penuh selidik. Banyak pertanyaan melintas di pikiran mereka.
"Kakak serius?"
"Jangan gila Rick."
"Jadi ini tujuan mu kesini?"
Ricky hanya menggeleng saja. "Sudah ayo."
Ketiga nya bergeming masih dengan tatapan menyelidik.
"Jangan bilang kakak sudah apa-apakan Elsa." ucap Fadia karena ia tahu Ricky seorang player wanita.
Ricky mencebik bibir. "Masih belum." jawabnya santai.
Harry dan Yudha saling pandang. Mereka tahu bagaimana Ricky. Walau sahabatnya itu seorang playboy dan player wanita, tapi sekalinya mengambil keputusan maka itu ada keseriusan baginya.
"Baiklah, kita akan ke kota nanti setelah sholat Jum'at." ucap Harry.
Fadia menoleh kearah Harry. "Jadi mas setuju?" tanya Fadia dan di balas anggukan oleh Harry.
"Bagaimana bisa?"
cup
Harry mengecup bibir Fadia dengan lembut agar tidak banyak bertanya lagi.
"Kamu tidak usah khawatir, Kami mengenal Ricky. Semua akan baik-baik saja."
"Iya kakak ipar, semua akan baik-baik saja. Kenapa kakak ipar khawatir begitu?" tanya Yudha penasaran.
Fadia menghela nafas panjang. "Terlepas dari apa yang dilakukan Elsa, aku masih menyayangi nya, aku masih peduli padanya. Aku tidak benci tapi aku hanya kecewa. Itu saja. Bagaimana pun kami tetaplah dua orang yang sangat dekat."
Harry melingkar tangan ke bahu Fadia dengan usapan lembut disana. Mendengar penuturan tersebut terlihat jelas wajahnya memancarkan kebahagiaan.
Bangga.
Itulah yang ia rasakan. Tidak menyangka istrinya akan memaafkan kesalahan Elsa.
"Tapi jika suamiku tergoda maka akulah yang akan menikahkan mereka dan setelah itu aku akan membawa anak-anak ku pergi." sambung Fadia lagi dengan tegas.
Harry menelan saliva kasarnya. Baru juga di puji sekarang ia merasakan hawa panas karena mendengar ancaman sang istri.
"Aku tidak akan menduakan mu Yu.."
...****...
Fadia meletakkan 2 kopiah dan 2 sarung untuk dua sahabat sang suami. Tidak lupa 2 sajadah pula ia letakkan di atas meja.
__ADS_1
"Itu alat sholat nya." kata Fadia.
Ia mengambil baju koko untuk sang suami dan anaknya. Peralatan sholat untuk sang suami juga anaknya masih berada di dalam kamar mereka.
"Pakai celana da lam nya dulu ya, bunda mau ambilin sajadah sama peci kamu."
"Iya Bun." jawab Gadhing yang baru selesai mandi di kamar orang tua nya.
Harry melihat sang istri begitu telaten melayani ia dan anaknya di tambah kedua sahabat nya hanya bisa menghela nafas dan selalu berdoa semoga sang istri selalu sehat dan di lindungi Allah.
Sering ia berpikir bagaimana hidupnya tanpa Fadia. Tidak akan terbayangkan jika itu betul terjadi.
"Sayang, jangan buru-buru. Hati-hati kamu lagi hamil loh.." ujar Harry sembari mengancingkan baju koko nya.
Fadia yang baru selesai memakaikan pakaian Gadhing hanya tersenyum. Ia tidak dapat membantu Harry karena tahu bila sang suami sudah berwudhu.
"Sajadah ayah dan mas Gadhing di kasur ya.." kata Fadia dengan senyum merekah.
"Iya Bunda." ucap keduanya bersamaan.
"Kami pergi dulu ya, kamu siap-siap. Selesai sholat Jum'at kita langsung berangkat."
Fadia hanya mengangguk dan mengikuti Harry untuk mengantar para pria sampai depan pintu saja.
Senyuman itu terus mengembang melihat suami dan anaknya berjalan bergandengan tangan menuju mesjid. Rasa haru kian menjadi saat bayangan dimana Gadhing sering bertanya dimana sang ayah.
Apakah Gadhing akan kecewa jika kenyataan nya Harry bukan lah ayah biologis nya?
...****...
Tidak sulit mencari perlengkapan karena Fadia lah yang menentukan apa saja perlengkapan tersebut, dan semua pilihan sesuai selera Elsa. Ukuran tidak jauh berbeda dengan Fadia.
Jika Fadia ukuran M maka Elsa ukuran L. Bukan badan lebih besar namun badan Elsa lebih panjang dari Fadia.
Dasar Fadia pendek.
Kini kelima orang itu berada di toko emas. Ini adalah keperluan utama sebagai tanda bahwa Elsa telah terikat hubungan serius dengan Ricky.
"Boleh minta bantuan istriku, tapi jangan dekat-dekat juga." gerutu Harry karena sedari tadi ia diabaikan. Dan ia cemburu, Fadia dan Ricky seakan sepasang kekasih yang akan melaksanakan acara lamaran itu.
Fadia dan Ricky menoleh ke belakang melihat Harry, Yudha, dan Gadhing duduk dengan wajah lelah ditambah wajah masam dari Harry.
Lagi-lagi Fadia merutuki dirinya sendiri yang suka abai jika sudah keasyikan dengan apa yang dilakukan nya.
"Sebentar ya kak.." pamit Fadia pada Ricky.
Fadia berlalu mendatangi Harry. "Kenapa bilang gitu hem?" tanya Fadia.
"Kamu mengabaikan mas Yu.." keluh Harry.
Fadia tersenyum lalu beralih menatap Gadhing. "Mas Gadhing duduk sama om Yudha dulu ya.." ujar Fadia dan di balas anggukan Gadhing.
"Ayo." ajak Fadia menarik tangan Harry agar menghampiri Ricky.
Kini ketiganya sedang memperhatikan cincin-cincin yang dipamerkan di steling bahan kaca tersebut.
"Sayang.. Lihat lah yang itu, cantik kan?" Harry menunjuk salah satu cincin yang menarik matanya.
__ADS_1
"Mas mau pilihin untuk Elsa?" selidik Fadia dengan tatapan tajam kearah Harry.
"Astaghfirullah sayang.. Tidak ada niat untuk itu, aku itu mau belikan kamu." ujar Harry.
"Benarkah? iya cantik itu. Belikan ya.."
"Ya sini uang nya, kan sama kamu."
Fadia mencebik bibir saja tapi tetap memberikan ATM pada Harry.
Semua keperluan sudah lengkap termasuk bahan untuk membuat parsel pembungkus perlengkapan lamaran. Tak lupa Fadia membeli makanan untuk nanti mereka datang kesana. Karena pihak keluarga Elsa belum mengetahui hal ini.
...****...
"Kalau capek istirahat Yu.." ujar Harry karena saat ini mereka sedang membuat parsel.
"Sebentar lagi mas."
"Jangan terlalu dipaksakan sayang.. Ingat anak-anak kita."
Akhirnya Fadia mengalah lalu menghampiri Harry yang juga sedang membuat parsel. Ia mengakui bahwa ketiga sahabat itu adalah pria hampir serba bisa. Dan ia berharap jika lamaran di terima, Ricky menjadikan Elsa wanita satu-satunya.
Ia merebahkan kepalanya di paha Harry menghadap ke perut Harry.
"Jangan gerak-gerak terus sayang.. Kamu bisa bangunin junior kalau gitu." keluh Harry karena junior mulai terusik.
"Dasar mesum."
Kedua sahabat Harry tertawa nyaring mendengar itu.
Harry membiarkan sang istri tertidur di paha nya. Dan ia akan membahas tentang kedatangan kedua sahabatnya.
"Tujuan kalian datang kesini apa?"
"Cari kerja." jawab keduanya.
"Aku setuju kalau kamu Rick yang cari kerja disini atau buka toko roti disini. Tapi tidak dengan Yudha."
"Kenapa aku tidak boleh? aku juga pengen Harr.." protes Yudha.
"Kamu mau tinggalin adikku disana? Kalau kamu disini dan menikah dengan adikku.. Otomatis kalian akan pergi dari rumah orangtua ku dan aku tidak mengijinkan itu."
Yudha hanya bisa pasrah. Memang hanya dialah yang lebih penurut diantara ketiganya.
"Berarti aku sudah boleh pacaran sama Hanum?" tanya Yudha berbinar.
"Hem.."
"Makasih kakak ipar.." ucap Yudha girang.
Ricky hanya bisa menggelengkan kepala.
🌸
Bersambung..
__ADS_1