
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00, pagi dimana Harry harus berangkat kerja. Tapi ia harus ke rumah jabatan untuk mengambil seragam kerja dan APD.
"Aku berangkat ya.."
Fadia mengangguk dan meraih tangan Harry untuk salim takzim. "Hati-hati suamiku.."
Harry mengecup kening lalu bibir Fadia. "Nanti aku balik sarapan sekalian antar Gadhing sekolah."
Fadia mengangguk lagi. "Jaga mata, jaga diri, dan jaga hati kamu untuk ku ya.. Aku takut kamu tergoda sama para karyawati di kebun."
Harry terkekeh dan merasa senang. Sungguh ia sangat bahagia bila Fadia cemburu padanya. "Tidak akan. Dan akan ku pastikan tidak ada yang menyentuh ku."
Fadia berdecak. "Lebay."
Harry pun melajukan sepeda motor nya dengan menatap kaca spion memperlihatkan Fadia yang tengah tersenyum.
Begini rupanya yang punya istri dan di antar ke depan rumah itu. Pantas saja bapak dulu tidak akan berangkat kalau ibu tidak mengantar sampai depan rumah.
...***...
Melihat suaminya berangkat bekerja, ia pun membangunkan Gadhing untuk sekolah.
"Gadhing.."
Tidak ada jawaban hanya tubuhnya yang menggeliat.
"Bangun sayang.. Kita sekolah, katanya sudah kangen ibu guru.." Fadia mencoba mengguncang tubuh anaknya.
"Sudah pagi Bun?" tanya Gadhing sembari mengucek mata.
"Sudah. Ayo."
Sudah kebiasaan Gadhing bangun tidur langsung membuang hajat nya yang sudah penuh di kantung kemih.
"Mandi sekalian ya.. Bunda mau buatkan kamu susu yang kita beli di rumah kakek."
Fadia berlalu dari kamarandi menuju depan kompor. Menghidupkan kompor dengan api sedang. Ia merebus air untuk membuat susu Gadhing.
"Seragam sekolah nya sudah bunda siapin sini." Fadia melakukan gerakan tangan isyarat memanggil Gadhing yang sudah selesai mandi.
"Ini susu Gadhing ya.."
Ia pun memakaikan seragam sekolah Gadhing dengan cekatan dan rapi. Ia takut Gadhing belum selesai bersiap, Harry sudah menyusul.
...****...
Apel pagi ini teramat lambat menurut Harry karena ada sesi perkenalan dengan asisten baru menjadikan ia harus memberi arahan ulang dan juga karena ia baru kembali dari masa cuti.
Banyak informasi di dapatnya bahwa akhir-akhir ini para pencuri buah sawit merajalela.
"Bagaimana bisa tidak ketangkap? para satpam dan centeng ngapain saat bekerja?" tanya Harry tegas berdiri di depan barisan para mantan eh bukan, satpam dan centeng.
"Kami sudah mengejar nya tapi tidak dapat pak."
Harry menghela nafas. "Kalian harus bekerja sama jadi mudah menangkapnya."
"Dan satu lagi. Jika sedang bertugas hanya fokus ke handphone saja." lanjutnya lagi.
Kini ia undur diri dari lapangan meski apel pagi masih berlanjut. Cukup baginya untuk memberi arahan kepada para asisten kebun dan para karyawan. Ia tidak ingin menyambangi barisan para karyawati karena menjaga hati sang istri.
__ADS_1
Ia lajukan sepeda motor CBR itu ke rumah Fadia untuk sarapan dan mengantar Gadhing.
Harry tersenyum melihat Fadia baru selesai sapu lantai rumah. Emosi saat apel pagi seketika lenyap saat melihat istrinya. Ia pun turun tak lupa menyugarkan rambut kebelakang lebih dulu
"Assalamualaikum sayang.."
"Waalaikumussalam.."
"Gadhing sudah selesai?" tanya Harry mengikuti Fadia ke dapur.
"Sudah. Ayo kita sarapan." Fadia mengambil piring dan sendok lalu mengambil nasi goreng dan telur mata sapi untuk Harry.
"Harry.."
"Bunda kenapa panggil ayah nama saja? nenek saja panggil kakek mas atau sayang.. atau apa lagi ya..." celetuk Gadhing.
Fadia dan Harry saling pandang kemudian Harry menyeringai karena apa? karena ia akan mendengar Fadia memanggil dirinya selain nama.
"Baiklah.. Ayah.. Bunda izin ke pajak indera nanti ya.."
Harry mengerutkan dahi. "Ngapain Bun?"
"Belanja.. Sayuran, lauk, bumbu masakan habis semua."
"Aku antar."
"Kamu kerja."
"Nanti merepotkan mu suamiku.."
"Tidak ada bantahan istriku.."
"Baiklah.."
"Bunda.. Nanti malam tidur sama Gadhing ya.." pinta Gadhing setelah orang tuanya berhenti berdebat.
"Iya." Jawab Fadia tersenyum.
"Tidak." ucap Harry menatap Gadhing sengit.
Fadia tahu arti dari kata tidak dari Harry. Dan ia heran mengapa Harry dan Gadhing seperti para pesaing jika berurusan dengan dirinya tidur dengan siapa saat malam hari.
"Harry.. Gadhing kan sudah lama tidak tidur dengan ku.." ia mencoba memberi pengertian pada Harry.
"Ini kan bunda Gadhing yah.."
"Iya tapi bunda Gadhing itu istri ayah." jawab Harry tidak mau kalah.
Fadia memijit pangkal hidung nya. "Sudah.. sudah.. Cepat lah kalian pergi. Gadhing sudah terlambat."
Keduanya mengangguk. Gadhing mencium punggung tangan Fadia lalu iaencium pipi Fadia tinggi Fadia sudah setara dengan Gadhing.
Lalu Fadia berdiri mencium kembali punggung tangan Harry. Dengan sigap Harry meraih pinggang Fadia menatap dalam manik istrinya.
"Gadhing.. Tunggu ayah di depan ya.." ucap Harry tanpa mengalihkan pandangan dari mata Fadia.
"Aku merindukanmu.." bisik Harry sembari mengecup telinga Fadia.
"Ha-Harry.. Gadhing nanti terlambat." ucap Fadia gugup.
__ADS_1
"Aku tahu.." jawabnya sembari menyesap bibir Fadia.
"Besok kita pindah kerumah ku. Jangan menolak dan nanti ada art yang bersihkan rumah kamu juga rumah kita." ucap Harry seraya melepaskan pelukan nya.
"No.. Di rumah yang kita tempati jangan pakai art. Aku ingin seperti yang kamu bilang tadi pagi. Kita akan mengerjakan nya bersama."
"Baiklah.. Apapun terserah padamu. Aku pergi dulu ya.. Jangan rindu." Harry mengerling kan mata.
Fadia terkekeh. "Kita lihat siapa yang lebih merindukan."
...****...
*Kembali ke dunia nyata Elsa. Ada apa dengan hatimu? Dia suami sahabatmu. Dia atasan mu. Tapi bukankah tidak bisa disalah kan? karena cinta tidak memiliki aturan pada siapa ia akan jatuh hati?
Bahkan tadi dia tidak ke barisan karyawati. Padahal aku ingin sekali melihat muka nya.
Ada apa dengan ku?
Apa nanti dia akan keliling belusukan ke blok kayak waktu sebelum menikah sama Fadia?
atau tidak akan pernah?
Andai dulu aku meminta nomor kontak Harry pada Fadia pasti dikasih.
Apa aku salah?
Aku jatuh cinta pada pandangan pertama pada dia.
Melihat dia begitu memprioritaskan Fadia dan Gadhing membuatku iri.
Apalagi saat tahu tanda kissmark yang sering ku lihat di leher dan di pundak Fadia juga membuat ku ingin merasakan nya.
Apa aku jahat?
ya aku jahat, tapi bolehkah aku berharap?
Maafin aku Fadia. Aku mencintai suami mu*.
...****...
Fadia mengerjakan pekerjaan rumah dengan semangat. Ini hari pertama nya menjadi seorang ibu rumah tangga yang bertugas mengantar dan menyambut suami serta anaknya dengan senyuman.
*Harry.. Kamu tahu, sampai sekarang aku masih takut.
Bukan meragukan mu, tapi aku ragu mereka yang masih berharap padamu mengikhlaskan mu begitu saja.
Aku takut kamu goyah*.
Ting...
Satu notifikasi pesan WhatsApp dari grub sekolah SMA Fadia.
Ia pun membuka pesan itu dan ia terkejut apa yang dibaca.
*Jody sakit? sakit apa? tapi saat datang ke resepsi dia nampak sehat. Ya Allah.. Sembuhkan Jody. Dia orang baik.
🌸*
***Bersambung...
__ADS_1
Hai... Jangan tunda untuk like dan vote ya***..